LAPORAN
PENDAHULUAN
GLOMERULONEFRITIS
AKUT (GNA)
A. PENGERTIAN
Glomerulo Nefritis adalah
gangguan pada ginjal yang ditandai dengan peradangan pada kapiler glomerulus
yang fungsinya sebagai filtrasi cairan tubuh dan sisa-sisa pembuangan.
(Suriadi, dkk, 2001)
Glomerulo Nefritis adalah
sindrom yang ditandai oleh peradangan dari glomerulus diikuti pembentukan
beberapa antigen.
(Engran, Barbara, 1999)
Glomerulo Nefritis Akut (GNA) adalah
suatu reaksi imunologis ginjal terhadap bakteri / virus tertentu. (Ngastiyah,
2005)
Glomerulo Nefritis Akut (GNA) adalah
istilah yang secara luas digunakan yang mengacu pada sekelompok penyakit ginjal
dimana inflamasi terjadi di glomerulus. (Brunner & Suddarth, 2001)
Glomerulo Nefritis Akut (GNA) adalah
bentuk nefritis yang paling sering pada masa kanak-kanak dimana yang menjadi
penyebab spesifik adalah infeksi streptokokus. (Sacharin, Rosa M, 1999)
B. ETIOLOGI
Penyebab Glomerulo Nefritis Akut adalah:
1. Adanya
infeksi ekstra renal terutama disaluran napas bagian atas atau kulit oleh
kuman streptokokus beta hemolyticus golongan A, tipe 12, 16, 25, dan
49).
2. Sifilis
3. Bakteri dan
virus
4. Keracunan
(Timah hitam, tridion)
5. Penyakit
Amiloid
6. Trombosis
vena renalis
7. Penyakit
kolagen
C. PATOFISIOLOGI
Suatu reaksi radang pada glomerulus
dengan sebukan lekosit dan proliferasi sel, serta eksudasi eritrosit, lekosit
dan protein plasma dalam ruang Bowman.
Gangguan pada glomerulus ginjal
dipertimbangkan sebagai suatu respon imunologi yang terjadi dengan adanya
perlawanan antibodi dengan mikroorganisme yaitu streptokokus A.
Reaksi antigen dan antibodi tersebut
membentuk imun kompleks yang menimbulkan respon peradangan yang menyebabkan
kerusakan dinding kapiler dan menjadikan lumen pembuluh darah menjadi mengecil
yang mana akan menurunkan filtrasi glomerulus, insuffisiensi renal dan
perubahan permeabilitas kapiler sehingga molekul yang besar seperti protein
dieskresikan dalam urine (proteinuria).
D. MANIFESTASI KLINIS
1. Hematuria (urine berwarna merah kecoklat-coklatan)
2. Proteinuria (protein dalam urine)
3. Oliguria (keluaran urine berkurang)
4. Nyeri panggul
5. Edema, ini cenderung lebih nyata pada wajah dipagi
hari, kemudian menyebar ke abdomen dan ekstremitas di siang hari (edema sedang
mungkin tidak terlihat oleh seorang yang tidak mengenal anak dengan baik).
6. Suhu badan umumnya tidak seberapa tinggi, tetapi dapat
terjadi tinggi sekali pada hari pertama.
7. Hipertensi terdapat pada 60-70 % anak dengan GNA pada
hari pertama dan akan kembali normal pada akhir minggu pertama juga. Namun jika
terdapat kerusakan jaringan ginjal, tekanan darah akan tetap tinggi selama
beberapa minggu dan menjadi permanen jika keadaan penyakitnya menjadi kronik.
8. Dapat timbul gejala gastrointestinal seperti muntah,
tidak nafsu makan, dan diare.
9. Bila terdapat ensefalopati hipertensif dapat timbul
sakit kepala, kejang dan kesadaran menurun.
10. Fatigue (keletihan atau kelelahan)
E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Laju Endap Darah (LED) meningkat
2. Kadar Hb menurun sebagai akibat hipervolemia (retensi
garam dan air)
3. Nitrogen urea darah (BUN) dan kreatinin darah
meningkat bila fungsi ginjal mulai menurun.
4. Jumlah urine berkurang
5. Berat jenis meninggi
6. Hematuria makroskopis ditemukan pada 50 % pasien.
7. Ditemukan pula albumin (+), eritrosit (++), leukosit
(+), silinder leukosit dan hialin.
8. Titer antistreptolisin O (ASO) umumnya meningkat jika
ditemukan infeksi tenggorok, kecuali kalau infeksi streptokokus yang mendahului
hanya mengenai kulit saja.
9. Kultur sampel atau asupan alat pernapasan bagian atas
untuk identifikasi mikroorganisme.
10. Biopsi ginjal dapat diindikasikan jika dilakukan
kemungkinan temuan adalah meningkatnya jumlah sel dalam setiap glomerulus dan
tonjolan subepitel yang mengandung imunoglobulin dan komplemen.
F. KOMPLIKASI
Komplikasi glomerulonefritis akut:
1. Oliguri sampai anuria
yang dapat berlangsung 2-3 hari. Terjadi sebagai akibat berkurangnya filtrasi
glomerulus. Gambaran seperti insufisiensi ginjal akut dengan uremia,
hiperfosfatemia, hiperkalemia dan hidremia. Walaupun oliguria atau anuria yang
lama jarang terdapat pada anak, jika hal ini terjadi diperlukan peritoneum
dialisis (bila perlu).
2. Ensefalopati
hipertensi, merupakan gejala serebrum karena hipertensi. Terdapat gejala berupa
gangguan penglihatan, pusing, muntah dan kejang-kejang. Hal ini disebabkan
karena spasme pembuluh darah lokal dengan anoksia dan edema otak.
3. Gangguan sirkulasi
berupa dipsneu, ortopneu, terdapat ronki basah, pembesaran jantung dan
meningginya tekanan darah yang bukan saja disebabkan spasme pembuluh darah
tetapi juga disebabkan oleh bertambahnya volume plasma. Jantung dapat
membesardan terjadi gagal jantung akibat hipertensi yang menetap dan kelainan
di miokardium.
4. Anemia yang timbul
karena adanya hipervolemia disamping sintesis eritropoietik yang menurun.
5. Gagal Ginjal Akut
(GGA)
G. PENATALAKSANAAN
1. Keperawatan
a. Tirah baring diperlukan untuk anak
dengan hipertensi dan edema dan terutama untuk mereka dengan tanda ensefalopati
dan kegagalan jantung. Tirah baring dianjurkan selama fase akut sampai urin
berwarna jernih dan kadar kreatinin dan tekanan darah kembali normal. Lama
tirah baring dapat ditentukan dengan mengkaji urin pasien. Kasus ringan dengan
tekanan darah normal dan sedikit edema dapat diberikan aktivitas terbatas
tetapi tidak boleh masuk sekolah karena aktivitas yang berlebihan dapat
meningkatkan proteinuria dan hematuria.
b. Cairan. Masukan cairan biasanya dibatasi jika keluaran
urin rendah. Pada beberapa unit dibatasi antara 900 dan 1200 ml per hari.
Separuh dari masukan cairan dapat berupa susu dan separuh lainnya air. Sari
buah asli harus dihindari karena mereka mengandung kalium yang tinggi. Ini
merupakan hal yang penting keluaran urinarius kurang dari 200 sampai 300 ml per
hari karena bahaya retensi kalium.
c. Diit
Jika terjadi diuresis dan hipertensi telah hilang,
makanan seperti roti, buah-buahan, kentang dan sayur-sayuran dapat diberikan.
Garam dibatasi (1 g/hari) hingga hipertensi dan edema menurun. Protein dibatasi
(1 g/kgBB/hari) jika nitrogen urea darah meningkat dan sementara hematuria
ditemukan. Jika hematuria mikroskopik, masukan protein dapat dimulai kembali atau
ditingkatkan.
d. Pertimbangan harian sebagai indikasi peningkatan atau
penurunan edema.
e. Pentatatan tekanan darah
f. Uji urine harian untuk darah dan
protein (kualitatif dan kuantitatif)
g. Dukungan bagi orang tua. Ini termasuk pengenalan
kecemasan mereka dan mengurangi kecemasan dengan memberikan informasi yang
adekuat mengenai kondisi dan kemajuan yang dialami anak. Orang tua menginginkan
informasi mengenai derajat keterlibatan ginjal dan gambaran masa depan.
Bimbingan harus diberikan mengenai penyembuhan tindak lanjut dan pencegahan
infeksi streptokokus.
2. Medis
a. Pemberian penisilin pada fase akut
(baik secara oral atau intramuskuler). Pemberian antibiotik ini tidak
mempengaruhi beratnya glomerulonefritis, melainkan mengurangi menyebarnya
infeksi streptokokus yang mungkin masih ada. Pemberian penisilin dianjurkan
hanya untuk 10 hari. Pemberian profilaksis yang lama sesudah nefritisnya sembuh
terhadap kuman penyebab tidak dianjurkan karena terdapat imunitas yang menetap.
Secara teoritis anak dapat terinfeksi lagi dengan kuman nefritogen lain, tetapi
kemungkinan ini sangat kecil.
b. Pengobatan terhadap hipertensi. Pemberian cairan
dikurangi, pemberian sedativa untuk menenangkan pasien sehingga dapat cukup
beristirahat. Pada hipertensi dengan gejala serebral diberikan reserpin dan
hidralazin. Mula-mula diberikan reserpin sebanyak 0,07 mg/kgBB secara
intamuskuler. Bila terjadi diuresis 5-10 jam kemudian, selanjutnya pemberian
resepin peroral dengan dosis rumat 0,03 mg/kgBB/hari. Magnesium sulfat
parenteral tidak dianjurkan lagi karena memberi efek toksis.
c. Bila anuria berlangsung lama (5-7
hari) maka ureum harus dikeluarkan dari dalam darah. Dapat dengan cara
peritoneum dialisis, hemodialisis, transfusi tukar dan sebagainya.
d. Diuretikum dulu tidak diberikan pada glomerulonefritis
akut, tetapi akhir-akhir ini pemberian furosamid (lasix) secara intravena (1
mg/kgBB/hari) dalam 5-10 menit tidak berakibat buruk pada hemodinamika ginjal
dan filtrasi glomerulus.
e. Bila timbul gagal jantung, diberikan
dialisis, sedativum dan oksigen.
H. PROGNOSIS
Glomerululonefritis akut (GNA)
Diperkirakan 95% akan sembuh
sempurna dan 2% menjadi glomerulonefritis kronis (Abdul Latiefdkk, 1985).
Glomerululonefritis Kronis
Menurunnya fungsi ginjal dapat
berlangsung perlahan–lahan,
tetapi kadang kadang dapat berlangsung cepat dan berakhir dengan kematian
akibat uremia dalam beberapa bulan. Sering kematian terjadi dalam waktu 5–10
tahun tergantung kepada kerusakan ginjal.
I. EPIDEMIOLOGI
Penyakit Glomerulonefritis
akut (GNA) sering ditemukan pada anak berumur antara 3-7 tahun dan lebih sering
mengenai anak laki-laki dibanding anak wanita (Abdul Latiefdkk, 1985).
J. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a) Identitas Klien:
GNA adalah suatu reaksi
imunologi yang sering ditemukan pada anak umur 3-7 tahun lebih sering pada pria
b) Riwayat penyakit
sebelumnya :
Adanya riwayat infeksi
streptokokus beta hemolitik dan riwayat lupus eritematosus atau penyakit
autoimun lain.
c) Riwayat penyakit
sekarang : Klien mengeluh kencing berwarna seperti cucian daging, bengkak
sekitar mata dan seluruh tubuh. Tidak nafsu makan, mual , muntah dan
diare. Badan panas hanya sutu hari pertama sakit.
d) Pertumbuhan dan
perkembangan :
Pertumbuhan
:
BB = 9x7-5/2=29 kg
[ Behrman ], menurut anak umur 9 tahun
Bbnya adalah BB umur 6 tahun = 20 kg ditambah 5-7 lb
pertahun = 26 - 29 kg, tinggi badan anak 138
cm. Nadi 80—100x/menit, dan RR 18-20x/menit,, tekanan darah
65-108/60-68 mm Hg. Kebutuhan kalori 70-80 kal/kgBB/hari. Gigi pemanen pertama
/molar ,umur 6-7 tahun gigi susu mulai lepas, pada umur 10—11 tahun jumlah gigi
permanen 10-11 buah.
Perkembangan :
Psikososial : Anak pada tugas
perkembangan industri X inferioritas, dapat menyelesaikan tugas menghasilkan
sesuatu
e) Aktivitas/istirahat
- Gejala: kelemahan/malaise
- Tanda: kelemahan otot, kehilangan tonus otot
f) Sirkulasi
- Tanda: hipertensi, pucat,edema
g) Eliminasi
- Gejala: perubahan pola berkemih (oliguri)
- Tanda: Perubahan warna urine
(kuning pekat, merah)
h) Makanan/cairan
- Gejala: peæBB (edema), anoreksia,
mual,muntah
- Tanda: penurunan haluaran urine
i) Pernafasan
- Gejala: nafas pendek
- Tanda: Takipnea, dispnea, peningkatan
frekwensi, kedalaman (pernafasan kusmaul)
j) Nyeri/kenyamanan
- Gejala: nyeri pinggang, sakit kepala
- Tanda: perilaku berhati-hati/distraksi,
gelisah
k) Pengkajian Perpola
1) Pola nutrisi dan metabolik:
Suhu badan normal hanya panas
hari pertama sakit. Dapat terjadi kelebihan beban sirkulasi karena adanya
retensi natrium dan air, edema pada sekitar mata dan seluruh tubuh. Klien mudah
mengalami infeksi karena adanya depresi sistem imun. Adanya mual , muntah
dan anoreksia menyebabkan intake nutrisi yang tidak
adekuat. BB meningkat karena adanya edema. Perlukaan pada kulit dapat terjadi
karena uremia.
2) Pola eliminasi :
Eliminasi alvi tidak ada
gangguan, eliminasi uri : gangguan pada glumerulus menyebakan
sisa-sisa metabolisme tidak dapat diekskresi dan terjadi penyerapan
kembali air dan natrium pada tubulus yang tidak mengalami gangguan yang
menyebabkan oliguria sampai anuria ,proteinuri,
hematuria.
3) Pola Aktifitas dan latihan :
Pada Klien dengan kelemahan
malaise, kelemahan otot dan kehilangan tonus karena adanya hiperkalemia. Dalam
perawatan klien perlu istirahat karena adanya kelainan jantung
dan dan tekanan darah mutlak selama 2 minggu dan
mobilisasi duduk dimulai bila tekanan ddarah sudah
normaal selama 1 minggu. Adanya edema paru maka pada inspeksi
terlihat retraksi dada, pengggunaan otot bantu napas, teraba , auskultasi
terdengar rales dan krekels , pasien mengeluh sesak, frekuensi napas. Kelebihan
beban
sirkulasi dapat menyebabkan pemmbesaran
jantung [ Dispnea, ortopnea dan pasien terlihat lemah] , anemia dan hipertensi
yang juga disebabkan oleh spasme pembuluh darah. Hipertensi
yang menetap dapat menyebabkan gagal
jantung. Hipertensi ensefalopati merupakan gejala
serebrum karena hipertensi dengan gejala penglihatan kabur, pusing,
muntah, dan kejang-kejang. GNA munculnya tiba-tiba orang
tua tidak mengetahui penyebab dan penanganan penyakit ini.
4) Pola tidur dan istirahat :
Klien tidak dapat tidur
terlentang karena sesak dan gatal karena adanya uremia. keletihan, kelemahan
malaise, kelemahan otot dan kehilangan tonus
5) Kognitif & perseptual :
Peningkatan ureum darah
menyebabkan kulit bersisik kasar dan rasa gatal.Gangguan penglihatan
dapat terjadi apabila terjadi ensefalopati hipertensi. Hipertemi terjadi pada
hari pertama sakit dan ditemukan bila ada infeksi karena inumnitas
yang menurun.
6) Persepsi
diri :
Klien cemas dan
takut karena urinenya berwarna merah dan edema dan perawatan
yang lama. Anak berharap dapat sembuh kembali seperti semula
7) Hubungan peran :
Anak tidak dibesuk
oleh teman – temannya karena jauh dan lingkungan perawatann yang
baru serta kondisi kritis menyebabkan anak banyak diam.
8) Nilai keyakinan :
Klien berdoa
memohon kesembuhan sebelum tidur.
Pemeriksaan
penunjang :
1. LED tinggi dan Hb rendah
2. Kimia darah:
Serum albumin turun sedikit,
serum komplemen turun, ureum dan kreatinin naik. Titer antistreptolisin umumnya
naik [ kecuali infeksi streptokok yang mendahului mengenai kulit saja ].
3.
Jumlah urin
mengurang, BJnya rendah , albumin +, erittrosit ++, leukosit + dan
terdapat silinder leukosit, Eri dan hialin.
4.
Kultur darah
dan tenggorokan : ditemukan kuman streptococus Beta Hemoliticus gol A
5.
IVP : Test
fungsi Ginjal normal pada 50 % penderita
6. Biopsi Ginjal : secara
makroskopis ginjal tampak membesar, pucat dan terdapat titik-titik
perdarahan pada kortek. Mikroskopis ttampak hammpir semua
glomerulus terkena. Tampak proliferasi sel endotel
glomerulus yang keras sehingga lumen dan ruang simpai
Bowman , Infiltrasi sel epitelkapsul dan sel PMN dan monosit. Pada
pemeriksaan mikroskop elektron tampak BGM tidak teratur.
Terdapat gumpalan humps di sub epitel mungkin dibentuk
oleh globulin-gama, komplemenn dan antigen streptokokus.
2. Diagnosa
keperawatan :
1.
Intoleransi
aktifitas b.d. kekurangan protein dan disfungsi ginjal
2.
Potensial
kelebihan volume cairan b.d. retensi air dan natrium serta disfungsi
ginjal.
3.
Potensial
terjadi infeksi [ ISK, lokal, sistemik ] b.d. depresi sistem imun
4.
Potensial
gangguan perfusi jaringan: serebral/kardiopulmonal b.d. resiko
krisis hipertensi.
5.
Perubahan
integritas kulit b.d. imobilisasi, uremia, kerapuhan kapiler dan
edema.
6.
Kurang
pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses
penyakit, perawatan dirumah dan instruksi evaluasi.
3. Rencana
keperawatan
1) Intoleransi
aktifitas b.d. kekurangan protein dan ddisfungsi ginjal
Tujuan :
Klien dapat toleransi dengan aktifitas yang dianjurkan.
|
Rencana |
Rasional |
|
1. Pantau kekurangan protein yang
berlebihan [ proteinuri, albuminuria
] 2. Gunakan diet protein untuk
mengganti protein yang hilang. 3. Beri diet tinggi protein tinggi
karbohidrat. 4. Tirah baring 5. Berikan latihan selama pembatasan
aktifitas 6. Rencana aktifitas denga waktu
istirahat. 7. Rencanakan cara progresif untuk
kembali beraktifitas normal ; evaluasi tekanan darah dan haluaran
protein urin. |
1. Kekurangan
protein beerlebihan dapat menimbulkan kelelahan. 2. Diet
yang adekuat dapat mengembalikan kehilangan 3. TKTP
berfungsi menggantikan 4. Tirah
baring meningkatkan mengurangi penggunaan energi. 5. Latihan
penting untu kmempertahankan tunos otot 6. Keseimbangan
aktifitas dan istirahat mempertahankan kesegaran. 7. Aktifitas
yang bertahap menjaga kesembangan dan tidak mmemperparah proses penyakit |
2) Potensial
kelebihan volume cairan b.d. retensi air dan natrium serta disfungsi
ginjal.
Tujuan : Klien tidak menunjukan kelebihan volume cairan
|
Rencana |
Rasional |
|
1. Pantau dan laporkan tanda dan
gejala kelebihan cairan : 2. Ukur dan catat intak dan output
setiap 4-8 jam 3. Catat jumlah dan
karakteristik urine 4. Ukur berat jenis urine
tiap jam dan timbang BB tiap hari 5. Kolaborasi dengan gizi dalam
pembatasan diet natrium dan protein 6. Berikan es batu untuk
mengontrol rasa haus dan maasukan dalam perhitungan intak 7. Pantau
elektrolit tubuh dan observasi adanya tanda kekurangan
elektrolit tubuh · Hipokalemia : kram
abd,letargi,aritmia · Hiperkalemia : kram otot, kelemahan · Hipokalsemia : peka rangsang pada
neuromuskuler · Hiperfosfatemia:
hiperefleksi,parestesia, kram otot, gatal, kejang · Uremia : kacau mental,
letargi,gelisah 8. Kaji efektifitas pemberian
elektrolit parenteral dan oral |
1,2.Memonitor kelebihan cairan sehingga dapat dilakukan tindakan
penanganan 3,4.Jumlah , karakteristik urin dan BB dapat
menunjukan adanya ketidak seimbangan cairan. 5.Natrium dan protein meningkatkan osmolaritas sehingga tidak terjadi
retriksi cairan. 6. Rangsangan dingin ddapat merangsang pusat haus 7. Memoonitor adanya ketidak seimbangan elektrolit dan
menentukan tindakan penanganan yang tepat. 8.Pemberian elektrolit yang tepat mencegah ketidak seimbangan elektrolit. |
3) Potensial terjadi infeksi [ ISK, lokal, sistemik
] b.d. depresi sistem imun
Tujuan :
Klien tidak mengalami infeksi setelah diberikan asuhan keperawatan.
|
Rencana |
Rasional |
|
1.Kaji efektifitas pemberian imunosupresan 2.Pantau leukosit 3.Pantau suhu tiap 4 jam 4.Perhatikan karakteristik urine, kolaborasi jikka keruh dan
berbau 5.Hindari pemakaian alat/kateter pada saluran uriine 6.Pantau tanda dan gejala ISK dan lakukan tindakan
pencegahan ISK. 7.Gunakan dan anjurkan tehnik cuci tangan yang baik. 8.Anjurkan pada klien untuk menghindari orang terinfeksi 9.Lakukan pencegahan kerusakan integritas kulit 10.
Anjurlkan pasien ambulasi dini. |
1.Imunosupresan berfunsi menekan sisteem imun bila pemberiannya tidak
ekeftif maka tubbuh akan sangat rentan terhadap infeksi 2.Indikator adanya infeksi 3.Memonitor suhu & mengantipasi infeksi 2.Urine keruh mmenunjukan adanya infeksi saluran kemiih 3.Kateter dapat menjadi media masuknya kuman ke saluran kemih 4.Memonitor adanya infeksi sehingga dapat dilakukan tindakan dengan cepat 5.Tehnik cuci tangan yang baik dapat memutus rantai penularan. 6.Sistim imun yang terganggu memudahkan untu terinfeksi. 7.Kerusakan integritas kulit merupakan hilangnya barrier pertama tubuh |
4) Potensial gangguan perfusi
jaringan: serebral/kardiopulmonal b.d. resiko krisis hipertensi.
Tujuan :
Klien tidak mengalami perubahan perfusi jaringan.
|
Rencana |
Rasional |
|
1. Pantau tanda dan gejala
krisis hipertensi [ Hipertensi, takikardi, bradikardi, kacau mental,
penurunan tingkat kesadaran, sakit kepala, tinitus, mual, muntuh, kejang dan
disritmia]. 2. Pantau tekanan darah tiap jam
dan kolaborasi bila ada peningkatan TD sistole >160 dan diastole > 90
mm Hg 3. Kaji keefektifan obat
anti hipertensi 4. Pertahankan TT dalam posisi rendah |
1. Krisis hipertensi
menyebabkan suplay darah ke organ tubuh berkurang. 2. Tekanan
darah yang tinggi menyebabkan suplay darah berkurang. 3. Efektifitas obat
anti hipertensi penting untuk menjaga adekuatnya perfusi jarringan. 4. Posisi tidur yang
rendah menjaga suplay darah yang cukup ke daerah cerebral |
5) Perubahan integritas kulit b.d.
imobilisasi, uremia, kerapuhan kapiler dan edema.
Tujuan : Klien
tidak menunjukan adanya perubahan integritas kulit selama menjalani perawatan.
|
Rencana |
Rasional |
|
1. Kaji kulit dari kemerahan,
kerusakan, memar, turgor dan suhu. 2. Jaga kulit tetap kering dan bersih 3. Bersihkan & keringkan daerah
perineal setelah defikasi 4. Rawat kulit dengan menggunakan
lotion untuk mencegah kekeringan untuk daerah pruritus. 5. Hindari penggunaan sabun yang keras
dan kasar pada kulit klien 6. Instruksikan klien
untuk tidak menggaruk daerah pruritus. 7. Anjurkan ambulasi semampu klien. 8. Bantu klien untuk mengubah posisi
setiap 2 jam jika klien tirah baring. 9. Pertahankan linen bebas lipatan 10. Beri pelindung pada tumit dan siku. 11. Lepaskan pakaian, perhiasan yang dapat menyebabkan
sirkulasi terhambat. 12. Tangani area edema dengan hati -hati. 13. Berikan suntikan dengan hati-hati . 14. Perttahankan nutrisi adekuat. |
1. Mengantisipasi adanya kerusakan kulit sehingga dapat
diberikan penangan dini. 2,3. Kulit yang kering dan bersih tidak mudah terjadi iritasi dan
mengurangi media pertumbuhan kuman. 4. Lotion dapat melenturkan kulit sehingga tidak mudah pecah/rusak. 5.Sabun yang keras dapat menimbulkan kekeringan kulit dan
sabun yang kasar dapat menggores kulit. 7. Menggaruk menimbulkan kerusakan kulit. 7,8.Ambulasi dan perubahan posisi meningkatkan sirkulasi dan mencegah
penekanan pada satu sisi. 8. Lipatan
menimbulkan ttekanan pada kulit. 9. Sirkulasi yang
terhambat memudahkan terjadinya kerusakan kulit.. 10. Elastisitas kulit daerah edema sangat
kurang sehingga mudah rusak 14. Nutrisi yang adekuat meningkatkan pertahanan kulit |
DAFTAR PUSTAKA
Betz, Cecily L. 2002. Buku Saku
Keperawatan Pediatri. Jakarta: EGC.
Harnowo, Sapto. 2001. Keperawatan
Medikal Bedah untuk Akademi Keperawatan. Jakarta: Widya Medika.
Jhonson, Marion, dkk. 2000. NOC. St.
Louis Missouri: Mosby INC.
Mansjoer, Arif M. 2000. Kapita
Selekta Kedokteran, ed 3, jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius.
Mc. Closkey, cjuane, dkk. 1996. NIC.
St.Louis missouri: Mosby INC.
Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak
Sakit. Jakarta: EGC.
Sacharin, Rosa M. 1999. Prinsip
Keperawatan Pediatrik. Jakarta: ECG.
Santosa Budi. 2006. Panduan Diagnosa
Keperawatan Nanda 2005-2006: Definisi dan Klasifikasi. Jakarta: EGC.
Suriadi, dkk. 2001. Asuhan
Keperawatan Anak. Jakarta: PT. Fajar Luterpratama. Http://www.google.com. (Glomerulo
Nefritis Akut)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar