Senin, 24 Agustus 2020

LAPORAN PENDAHULUAN SKOLIOSIS

 

A.      Definisi

Skoliosis adalah suatu kondisi di mana tulang belakang melengkung ke arah samping. Tulang punggung yang normal seharusnya melengkung di bagian atas bahu dan di bagian bawah punggung. Namun, jika tulang belakang Anda melengkung ke samping, atau membentuk huruf “S” atau “C”, Anda mungkin menderita skoliosis.

Semakin besar sudut lengkungan, risiko yang cukup serius semakin meningkat. Penyebab kondisi ini umumnya tidak diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini diyakini memiliki kaitan dengan faktor genetik serta kelainan otot dan saraf.

Kebanyakan kasus kondisi ini bersifat ringan. Tetapi, seiring dengan bertambahnya usia, lengkungan tulang punggung berpotensi memburuk. Tulang punggung dengan lengkungan yang cukup parah dapat memengaruhi kinerja paru-paru, sehingga pernapasan pun dapat terganggu.

Anak-anak dengan skoliosis ringan biasanya harus menjalani kontrol rutin dengan X-ray (rontgen) untuk melihat apakah lengkungan tulang punggung semakin memburuk. Beberapa anak mungkin harus mengenakan alat bantu yang mencegah pertambahan lengkungan. Dalam kasus lain, penderita mungkin harus menjalani prosedur operasi.

Bentuk Pinggang Tidak Proporsional - Tanya Alodokter Cegah Skoliosis Bertambah Parah


B.      Klasifikasi

Kasifikasi skoliosis sebagai berikut:

1. Skoliosis kongenital

Jenis ini terjadi pada bayi yang baru lahir dan diakibatkan karena tulang belakang belum terbentuk dengan sempurna saat bayi masih di dalam kandungan. Kondisi ini termasuk jarang terjadi.

2. Skoliosis idiopatik

Jenis ini umumnya terjadi pada masa pertumbuhan anak-anak. Kondisi ini lebih banyak ditemukan pada anak berusia 10-18 tahun. Penyebab pasti dari kondisi ini masih belum diketahui.

3. Skoliosis degeneratif

Kondisi ini lebih banyak ditemukan pada orang dewasa yang pernah mengidap skoliosis sebelumnya. Tulang belakang penderita akan mengalami aus seiring dengan bertambahnya usia. Kondisi ini menyebabkan tulang belakang pun bengkok.

4. Skoliosis neuromuskular

Jenis neuromuskular disebabkan oleh kelainan pada sistem saraf atau otot. Kondisi ini biasanya berkaitan dengan penyakit cerebral palsy dan spina bifida.

5. Kifosis Scheuermann

Jenis ini terjadi ketika bagian depan tulang belakang tumbuh lebih lambat dibanding dengan bagian belakang. Hal ini menyebabkan tulang belakang bagian depan menjadi lebih kecil, sehingga tulang belakang pu melengkung.

6. Skoliosis sindromik

Kondisi ini umumnya dikaitkan dengan beberapa sindrom kesehatan, seperti sindrom Marfan dan trisomy 21.

 C.      Etiologi

Penyebab terjadinya skoliosis diantaranya kondisi osteopatik, seperti fraktur, penyakit tulang, penyakit arthritis, dan infeksi. Pada skoliosis berat, perubahan progresif pada rongga toraks dapat menyebabkan perburukan pernapasan dan kardiovaskuler. (Nettina, Sandra M.)

Terdapat 3 penyebab umum dari skoliosis:

1.      Kongenital (bawaan), biasanya berhubungan dengan suatu kelainan dalam pembentukan tulang belakang atau tulang rusuk yang menyatu.

2.      Neuromuskuler, pengendalian oto yang buruk atau kelemahan otot atau kelumpuhan akibat penyakit berikut:

a.       Cerebral palsy

b.       Distrofi otot

c.        Polio

d.       Osteoporosis juvenile Idiopatik, penyebabnya tidak diketahui.

3.      Pada kebanyakan kasus2, penyebab dari skoliosis tidak diketahui (idiopatik). Tipe dari skoliosis ini digambarkan berdasarkan pada umur ketika skoliosis berkembang. Jika orang itu kurang dari 3 tahun umurnya, ia disebut infantile idiopathic scoliosis. Skoliosis yang berkembang antara umur 3 dan 10 tahun disebut juvenil idiopathic scoliosis, dan orang2 yang diatas 10 tahun umurnya mempunyai adolescent idiopathic scoliosis.

 

D.      Patofisiologi

Kelainan bentuk tulang punggung yang disebut skoliosis ini berawal dari adanya syaraf yang lemah atau bahkan lumpuh yang menarik ruas-ruas tulang belakang. Tarikan ini berfungsi untuk menjaga ruas tulang belakang berada pada garis yang normal yang bentuknya seperti penggaris atau lurus. Tetapi karena suatu hal, diantaranya kebiasaan duduk yang miring, membuat sebagian syaraf yang bekerja menjadi lemah. Bila ini terus berulang menjadi kebiasaan, maka syaraf itu bahkan akan mati. Ini berakibat pada ketidakseimbangan tarikan pada ruas tulang belakang. Oleh karena itu, tulang belakang penderita bengkok atau seperti huruf S atau huruf C.

 

E.       Manifestasi Klinik

Tanda-tanda skoliosis berupa:

1.          Bahu tidak sama tinggi.

2.          Garis pinggang sama tinggi.

3.          Badan belakang menjadi bongkok sbelah

4.          Badan bengkok ke satu arah

5.          Sebelah pinggul lebih tinggi

Gejala-gejala skoliosis yaitu berupa:

1.      Tulang belakang melengkung secara abnormal kea rah samping.

2.      Bahu dan pinggul kiri dan kanan tidak sama tingginya.

3.      Nyeri punggung

4.      Kelelahan pada tulang belakang setelah duduk atau berdiri lama

5.      Skoliosis yang berat (dengan kelengkungan yang lebih besar dari 60°c) bisa menyebabkan gangguan pernafasan.

 

F.       Komplikasi

1.      Kerusakan paru-paru dan jantung

2.      Tulang belakang terasa sakit

3.      Masalah imej

 

G.      Pemeriksaan Diagnostik

Adapun pemeriksaan diagnostik untuk menetapkan skoliosis adalah sebagai berikut:

1.      Mielografi yaitu untuk melihat kondisi kolumna vertebralis dan rongga intervetebra, saraf spinal, dan pembuluh darah.

2.      Computed tomography yaitu untuk  mendeteksi masalah musculoskeletal terutama kolumna vertebralis.

3.      Pengukuran dengan skoliometer (alat untuk mengukur kelengkungan tulang belakang).

4.      CT Skan

5.      Foto Ronsen

6.      MRI

 

H.      Prognosis

Prognosis tergantung pada penyebab, lokasi dan beratnya kelengkungan. Semakin besar kelengkungan skoliosis, semakin tinggi resiko terjadinya progresivitas sesudah masa pertumbuhan anak berlalu. Skoliosis ringan yang hanya diatasi dengan brace memiliki prognosis yang baik dan cenderung tidak menimbulkan masalah jangka panjang selain kemungkinan timbulnya sakit pinggang pada saat usia penderita semakin bertambah. Penderita skoliosis idiopatik yang menjalani pembedahan juga memiliki prognosis yang baik dan bisa hidup scara aktif dan sehat. Penderita skoliosis neuromuskuler selalu memiliki penyakit lainnya yang serius (misalnya cerebral palsy atau distrofi otot). Karena itu tujuan dari pembedahan biasanya adalah memungkinkan anak bisa duduk tegak pada kursi roda. Bayi yang menderita skoliosis kongenital memiliki sejumlah kelainan bentuk yangmendasarinya, sehingga penanganannyapun tidak mudah dan perlu dilakukan beberapa kali pembedahan.

 

I.        Penatalaksanaan

Pengobatan yang dilakukan tergantung kepada penyebab, derajat dan lokasi kelengkungan serta stadium pertumbuhan tulang. Jika kelengkungan kurang dari 20%, biasanya tidak perlu dilakukan pengobatan, tetapi penderita harus menjalani pemeriksaan secara teratur setiap 6 bulan. Pada anak-anak yang masih tumbuh, kelengkungan biasanya bertambah sampai 25-30%, karena itu biasanya dianjurkan untuk menggunakan brace (alat penyangga) untuk membantu memperlambat progresivitas kelengkungan tulang belakang. Brace dari Milwaukee & Boston efektif dalam mengendalikan progresivitas skoliosis, tetapi harus dipasang selama 23 jam/hari sampai masa pertumbuhan anak berhenti. Brace tidak efektif digunakan pada skoliosis kongenital maupun neuromuskuler.

Jika kelengkungan mencapai 40% atau lebih, biasanya dilakukan pembedahan. Pada pembedahan dilakukan perbaikan kelengkungan dan peleburan tulang-tulang. Tulang dipertahankan pada tempatnya dengan bantuan 1-2 alat logam yang terpasang sampai tulang pulih (kurang dari 20 tahun). Sesudah dilakukan pembedahan mungkin perlu dipasang brace untuk menstabilkan tulang belakang. Kadang diberikan perangsangan elektrospinal, dimana otot tulang belakang dirangsang dengan arus listrik rendah untuk meluruskan tulang belakang.

Adapun penatalaksanaan medis untuk skoliosis yaitu:

1.       Postural skoliosis dapat diperbaiki dengan latihan postural dan latihan yang dikombinasi dengan traksi (mis, traksi kotrel).

2.       Skoliosis dengan lengkungan fleksibel (kurang dari 40̊˚c derajat) dan pasien koperatif. Dengan pemasangan brace dikombinasi dengan latihan cukup untuk memperbaiki kelainan.

Minggu, 09 Agustus 2020

LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTUR

 

A. KONSEP DASAR PENYAKIT

1. Pengertian

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorpsinya. Fraktur dapat disebabkan pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan punter mendadak, dan bahkan kontraksi otot ekstrem (Bruner & Sudarth, 2002).

     Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer, 2007).

2. Etiologi

1.     a. Trauma langsung/ direct trauma. Yaitu apabila fraktur terjadi di tempat dimana bagian tersebut mendapat ruda paksa (misalnya benturan, pukulan yang mengakibatkan patah tulang).

2.    b.  Trauma yang tak langsung/ indirect trauma. Misalnya penderita jatuh dengan lengan dalam keadaan ekstensi dapat terjadi fraktur pada pegelangan tangan.

3.    c.  Trauma ringan pun dapat menyebabkan terjadinya fraktur bila tulang itu sendiri rapuh/ ada resiko terjadinya penyakit yang mendasari dan hal ini disebut dengan fraktur patologis.

4.    d.  Kekerasan akibat tarikan otot. Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi.Kekuatan dapat berupa pemuntiran, penekukan, penekukan dan penekanan, kombinasi dari ketiganya, dan penarikan.

33. 3. Jenis-jenis fraktur

a.         Berdasarkan sifat fraktur (luka yang ditimbulkan).

1). Faktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi.

2). Fraktur Terbuka (Open/Compound), bila terdapat hubungan antara hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit.

b.        Berdasarkan komplit atau ketidakklomplitan fraktur.

1). Fraktur Komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang.

2). Fraktru Inkomplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang seperti

 

4. Manifestasi Klinik

a. Deformitas

b. Bengkak/edema

c. Echimosis (Memar)

d. Spasme otot

e. Nyeri

f. Kurang/hilang sensasi

g. Krepitasi

h. Pergerakan abnormal

i. Rontgen abnormal


5. Penatalaksanaan a. Membersihkan luka area fraktur b. Immobilisasi (tidak menggerakan area tulang yang fraktur) c. Konsultasi dengan fisioterapi d. Makanan tinggi zat besi, kalsium dan vitamin D e. Operasi 6. Proses penyembuhan tulang 1) Stadium Satu-Pembentukan Hematoma Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma disekitar daerah fraktur. Sel-sel darah membentuk fibrin guna melindungi tulang yang rusak dan sebagai tempat tumbuhnya kapiler baru dan fibroblast. Stadium ini berlangsung 24 – 48 jam dan perdarahan berhenti sama sekali. 2) Stadium Dua-Proliferasi Seluler Pada stadium ini terjadi proliferasi dan differensiasi sel menjadi fibro kartilago yang berasal dari periosteum,`endosteum, dan bone marrow yang telah mengalami trauma. Sel-sel yang mengalami proliferasi ini terus masuk ke dalam lapisan yang lebih dalam dan disanalah osteoblast beregenerasi dan terjadi proses osteogenesis. Dalam beberapa hari terbentuklah tulang baru yang menggabungkan kedua fragmen tulang yang patah. Fase ini berlangsung selama 8 jam setelah fraktur sampai selesai, tergantung frakturnya. 3) Stadium Tiga-Pembentukan Kallus Sel–sel yang berkembang memiliki potensi yang kondrogenik dan osteogenik, bila diberikan keadaan yang tepat, sel itu akan mulai membentuk tulang dan juga kartilago. Populasi sel ini dipengaruhi oleh kegiatan osteoblast dan osteoklast mulai berfungsi dengan mengabsorbsi sel-sel tulang yang mati. Massa sel yang tebal dengan tulang yang imatur dan kartilago, membentuk kallus atau bebat pada permukaan endosteal dan periosteal. Sementara tulang yang imatur (anyaman tulang ) menjadi lebih padat sehingga gerakan pada tempat fraktur berkurang pada 4 minggu setelah fraktur menyatu. 4) Stadium Empat-Konsolidasi Bila aktivitas osteoclast dan osteoblast berlanjut, anyaman tulang berubah menjadi lamellar. Sistem ini sekarang cukup kaku dan memungkinkan osteoclast menerobos melalui reruntuhan pada garis fraktur, dan tepat dibelakangnya osteoclast mengisi celahcelah yang tersisa diantara fragmen dengan tulang yang baru. Ini adalah proses yang lambat dan mungkin perlu beberapa bulan sebelum tulang kuat untuk membawa beban yang normal. 5) Stadium Lima-Remodelling Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat. Selama beberapa bulan atau tahun, pengelasan kasar ini dibentuk ulang oleh proses resorbsi dan pembentukan tulang yang terusmenerus. Lamellae yang lebih tebal diletidakkan pada tempat yang tekanannya lebih tinggi, dinding yang tidak dikehendaki dibuang, rongga sumsum dibentuk, dan akhirnya dibentuk struktur yang mirip dengan normalnya. 7. Komplikasi fraktur a. Kerusakan pembuluh darah (arteri/vena) b. Kompartemen syndrom (sekumpulan masalah pada otot misal: sobek ) c. Fat embolisme ( masuknya lemak dari patahan tulang ke aliran darah) d. Infeksi e. Shock (akibat perdarahan)
B. KONSEP DASAR ASKEP DENGAN FRAKTUR 
1. Pengkajian
a. Data subjectif
• Mengeluh sakit
• Bebal / kesemutan
• Mengeluh kehilangan fungsi pada bagian yang fraktor
b. Data objectif
• Keterbatasan / kehilangan fungsi pada bagian fraktur
• Meringis kesakitan
• Kadang-kadang hipertensi (respon terhadap nyeri)
• Kadang hipotensi
• Takikardi (respon stres, hivopoterta)
• Penurunan atau tidak ada nadi pada bagian distal yang terkena cedera
• Pucat pada bagian cedera
• Bengkak & hematum pada sisi yang cedera
• Krepitasi depormitas lokal
• Laserasi kulit / adanya luka
• Pendarahan

2. Diagnosa keperawatan
a. Nyeri badan reflek spasme otot , gerakan prakmen tulang yang patah yang ditandai dengan pasien meringis kesakitan
b. Kerusakan imegritas kulit badan cedera / trauma pada jaringan (fraktur terbaik)
c. Kerusakan mobilitas fisik badan kekuatan & ketahanan sekunder akibat fraktur, & nyeri.
d. Kurang pengetahuan badan kurang terpajangnya terhadap informasi, dampak hospitalisasi, kemampuan intelektual yang kecil


3. Rencana tindakan
a. Diagnosa keperawatan I
Kriteria evaluasi :
• Menyatakan nyeri hilang / terkontrol
• Menunjukan tindakan santai mampu berpartisipasi dalam aktifitas / tidur istirahat dengan cepat.
• Menunjukan panggunaan ketrampilan relaksasi aktifitas terapeutik sesuai motivasi untuk situasi individual.
Interversi :
• Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring, gips
• Tinggikan dan dukung ektremitas yang terkena.
• Evaluasi keluhan nyeri, pertahankan lokasi dan karakteristik nyeri termasuk intervensi (skala 0-10) pertahankan nyeri, non verbal .
• Dorong pasien untuk mendiskusikan masalah sehubungan dengan cedera.
• Berikan alternatif tindakan kenyamanan (massage)
• Selidiki adanya keluhan nyeri yang tiba-tiba / buruk tidak hilang dengan analgetik

• Beri kompres dingin es 24 – 48 jam pertama sesuai kemampuan
• Kolaborasi pemberian analgetik sesuai indikasi

b. Diagnosa keperawatan 2
Kriteria evaluasi :
• Menyatakan ketidaknyamanan hilang
• Menunjukan perilaku/teknik untuk mencegah kerusakan kulit/memudahkan penyembuhan sesuai indikasi
• Mencapai penyambutan luka sesuai waktu/penyembuhan luka terjadi
Intervensi :
• Kaji kulit untukluka terbuka, benda asing, kemerahan , perdarahan dan bengkak.
• Ubah posisi dengan sering
• Massage kulit dengan sering
• Rawat luka bekas operasi pemasangan pen
• Lakukan penggunaan gips dan perawatan kulit
• Observasi luka setiap hari

c. Diagnosa keperawatan 3
Kriteria evaluasi :
• Memperlihatkan penggunaan alat-alat yang adaptif untuk meningkatkan mobilitas
• Menggunakan tindakan pengamanan untuk meminimalkan kemungkinan terhadap cedera
• Memperhatikan tindakan untuk meningkatkan mobilitas
• Melaporkan adanya peningkatan mobilitas
Intervensi
• Rujuk pada sindrom disuse untuk intervensi pencegahan komplikasi mobilitas
• Ajarkan untuk melakukan latihan rentang gerak aktif pada anggota gerak yang sehat
• Posisi dalam kesejajaran tubuh untuk mencegah komplikasi
• Berikan mobilisasi progresif secara bertahap
• Ajarkan individu tindakan kewaspadaan keamanan
• Beri dorongan penggunaan lengan yang sakit jika memungkinkan

d. Diagnosa keperawatan 4
Kriteria evaluasi :
• Menyatakan pemahaman kondisi, prognosis dan pengobatan
• Melakukan dengan benar prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan tindakan
Intervensi :
• Kaji ulang patologis, prognosis dan harapan yang akan datang
• Kaji ulang perawatan pen / luka yang tepat
• Jelaskan setiap prosedur keperawatan yang akan dilaksanakan
• Diskusikan dengan klien hal-hal yang belum jelas
• Berikan informasi yang jelas dan adekuat

4. Evaluasi
• Ds menyatakan nyeri berkurang / hilang / terkontrol
• Mempertahankan perfusi jaringan dibuktikan oleh terabanya nadi , kulit hangat / kering, tanda vital stabil
• Tidak adanya dispnea / sianosis frkuensi nafas & AGD normal
• Luka sembul
• Adanya peningkatan mobilitasn
• Menyatakan pemahaman mobilitas kondisi prognosis & pengobatan


DAFTAR PUSTAKA


Brunner, Suddarth. 2002. Buku Ajar keperawtan medikal bedah, edisi 8 vol.3. EGC. Jakarta
Carpenito, LJ. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 . Jakarta: EGC
Doengoes, M.E., 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta.
Ircham Machfoedz, 2007. Pertolongan Pertama di Rumah, di Tempat Kerja, atau di Perjalanan. Yogyakarta: Fitramaya
Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition. New Jersey: Upper Saddle River
Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1 edisi 3. Jakarta: Media Aesculapius
Mc Closkey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second Edition. New Jersey: Upper Saddle River
Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta: Prima Medika

Smeltzer, S.C., 2001, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta.