A. KONSEP DASAR BATU
GINJAL
1. Definisi
Nefrolitiasis adalah adanya batu atau kalkulus dalam pelvis renal batu-batu
tersebut dibentuk oleh kristalisasi larutan urin (kalsium oksolat asam urat,
kalium fosfat, struvit dan sistin).
(Baradero, 2009)
Mendefinisikan nefrolitiasis adalah batu ginjal yang ditemukan
didalam ginjal, yang merupakan pengkristalan mineral yang mengelilingi zat
organik, misalnya nanah, darah, atau sel yang sudah mati. Biasanya batu kalkuli
terdiri atas garam kalsium (oksalat dan fosfat) atau magnesium fosfat dan asam
urat.
Berdasarkan definisi di atas, maka
bisa diambil kesimpulan bahwa batu ginjal atau bisa disebut nefrolitiasis adalah
suatu penyakit yang terjadi pada saluran perkemihan karena terjadi pembentukan
batu di dalam ginjal, yang terbanyak pada bagian pelvis ginjal
yang menyebabkan gangguan pada saluran dan proses perkemihan
2. Epidemiologi
Penyakit
batu saluran kemih menyebar di seluruh dunia dengan perbedaan di negara
berkembang banyak ditemukan batu buli-buli sedangkan di negara maju lebih
banyak dijumpai batu saluran kemih bagian atas (gunjal dan ureter), perbedaan
ini dipengaruhi status gizi dan mobilitas aktivitas sehari-hari. Angka
prevalensi rata-rata di seluruh dunia adalah 1-12 % penduduk menderita batu
saluran kemih.
3. Anatomi
Fisiologi
a. Ginjal
Menurut Mary Baradero (2008:2)
ginjal terletak dibelakang peritoneum parietal (retro-peri-toneal),
pada dinding abdomen posterior. Ginjal juga terdapat pada kedua sisi aorta
abdominal dan vena kava inferior. Hepar menekan ginjal ke bawah sehingga ginjal
kanan lebih rendah daripada ginjal kiri. Ukuran setiap ginjal orang dewasa
adalah panjang 10 cm, 5,5 cm pada sisi lebar, dan 3 cm pada sisi sempit dengan
berat setiap ginjal berkisar 150 g (Arif Muttaqin, 2011:3). Ginjal terbungkus
oleh selaput tipis yang disebut kapsula renalis yang terdiri dari jaringan
fibrus berwarna ungu tua (Syaifuddin, 2006:237). Tarwoto (2009:314) menjelaskan
ginjal disokong oleh jaringan adipose dan jaringan penyokong yang disebut fasia
gerota serta di bungkus oleh kapsul ginjal, yang berguna untuk mempertahankan
ginjal, pembuluh darah, dan kelenjar adrenal terhadap adanya trauma.
Satuan unit fungsional ginjal
adalah nefron. Setiap ginjal memiliki satu juta nefron. Terdapat
dua macam nefron, yaitu kortikal dan juksta medular. Delapan puluh
lima persen dari semua nefron terdiri atas nefron kortikal,
sedangkan 15% terdiri atas nefron jukstamedular. Kedua macam nefron
ini diberi nama sesuai dengan letak glomerulinya dalam renal parenkim. Nefron
kortikal berperan dalam konsentarsi dan difusi urine. Struktur urine
yang berkaitan dengan proses pembentukan urine adalah korpus, tubulus
renal, tubulus koligentes. Korpus ginjal terdiri dari
glomerulus dan kapsula bowman yang membentuk ultrafiltrat dari darah. Tubulus
renal terdiri atas tubulus kontortus proksimal, ansa henle, dan
tubulus kontortus distal. Ketiga tubulus renal ini berfungsi
dalam reabsorpsi dan sekresi dengan mengubah volume dan komposisi ultrafiltrat
sehingga terbentuk produk akhir, yaitu urine (Mary Baradero, 2008:5). Nefron
jukstamedular adalah nefron yang terletak di korteks renal sebelah
dalam dekat medulla (Arif Muttaqin, 2011:5).
b. Bagian-bagian
dalam ginjal
Menurut Tarwoto (2009:314) ginjal terdiri dari 3 area
yaitu:
1. Korteks
Korteks merupakan bagian paling luar ginjal, dibawah
fibrosa sampai dengan lapisan medulla, tersusun atas nefron-nefron yang
jumlahnya lebih dari 1 juta. Semua glomerulus berada di korteks dan 90% aliran
darah menuju korteks.
2. Medula
Medulla terdiri dari saluran-saluran atau duktus
collecting yang disebut pyramid ginjal yang tersusun antara 8-18 buah.
3. Pelvis
Pelvis merupakan area yang terdiri dari kaliks
minor yang kemudian bergabung menjadi kalik mayor. Empat
sampai lima kaliks minor bergabung menjadi kaliks mayor dan dua sampai tiga
kaliks mayor bergabung menjadi pelvis ginjal yang berhubungan
dengan ureter bagian proksimal.
c. Fungsi
ginjal
Menurut Syaifuddin (2006:237) ginjal memilki beberapa
fungsi, yaitu:
1) Mengatur
volume air (cairan) dalam tubuh. Kelebihan air dalam tubuh akan di ekskresikan
oleh ginjal sebagai urine (kemih) yang encer dalam jumlah besar, kekurangan air
(kelebihan keringat) menyebabkan urine yang diekskresi berkurang dan
konsentrasinya lebih pekat sehingga susunan dan volume cairan tubuh dapat
dipertahankan relative normal.
2) Mengatur
keseimbangan osmotik dan mempertahankan keseimbangan ion yang optimal dalam
plasma (keseimbangan elektrolit). Bila terjadi pemasukan/pengeluaran yang
abnormal ion-ion akibat pemasukan garam yang berlebihan/penyakit perdarahan
(diare, muntah) ginjal akan meningkatkan/mengurangi ekskresi ion-ion yang
penting (misalnya Na, K, Cl, dan fosfat).
3) Mengatur
keseimbangan asam basa cairan tubuh. Menurut Tarwoto (2009:318) Pengendalian
asam basa oleh ginjal dilakukan dengan sekresi urin yang urin atau basa,
melalui pengeluaran ion hydrogen atau bikarbonat dalam urin.
4) Ekskresi
sisa metabolisme (ureum, asam urat, kreatinin) zat-zat toksik, obat-obatan,
hasil metabolisme hemoglobin dan bahan kimia asing (pestisida).
5) Fungsi
hormonal dan metabolisme. Ginjal menyekresikan hormon renin yang berperan
penting mengatur tekanan darah (sistem renin angiotensin aldosteron),
membentuk eritropoiesis mempunyai peranan penting untuk memproses pembentukan
sel darah merah (eritropoiesis).
Disamping itu ginjal juga membentuk hormon
dihidroksi kolekalsiferol(vitamin D aktif) yang diperlukan untuk
mengabsorbsi ion kalsium di usus.
d. Aliran darah di
Ginjal dan Persarafan Ginjal
Menurut Arif Muttaqin (2011:6)
ginjal menerima sekitar 1.200 ml darah per menit atau 21 % dari curah jantung.
Aliran darah yang sangat besar ini tidak ditujukan untuk memenuhi kebutuhan
energi yang berlebihan, tetapi agar ginjal dapat secara terus-menerus
menyesuaikan komposisi darah. Dengan menyesuaikan komposisi darah, memastikan
keseimbangan natrium, klorida, kalium, kalsium, fosfat, dan pH serta membuang
produk-produk metabolisme urea.
Syaifuddin (2006:239) menjelaskan
ginjal mendapat darah dari aorta abdominalis yang mempunyai
percabangan arteria renalis. Arteri ini berpasangan kiri dan kanan.
Arteria renalis bercabang menjadi arteria interlobaris kemudian
menjadi arteri arkuata. Arteri interloburalis yang
berada di tepi ginjal bercabang menjadi kapiler membentuk gumpalan-gumpalan
yang disebut glomerulus. Glomerulus ini dikelilingi oleh alat
yang disebut simpai bowman. Disini terjadi penyaringan pertama dan
kapiler darah yang meninggalkan simpai bowman kemudian menjadi vena renalis
mauk ke vena kava inferior.
e. Persyarafan
Ginjal
Menurut Syaifuddin (2006:240) ginjal
mendapatkan persarafan dari fleksus renalis (vasomotor). Saraf ini berfungsi
untuk mengatur jumlah darah yang masuk ke dalam ginjal, saraf ini berjalan
bersamaan dengan pembuluh darah yang masuk ke ginjal. Diatas ginjal ini
terdapat kelenjar suprarenalis, kelenjar ini merupakan sebuah kelenjar buntu
yang menghasilkan dua macam hormon yaitu hormone adrenalin dan hormon kortison.
f. Proses
Pembentukan Urin
Menurut Syaifuddin (2006:239) ada 3 tahap dalam
pembentukan urine, yaitu :
1) Proses
filtrasi
Terjadi di glomerulus, proses ini terjadi karena
aferen lebih besar dari permukaan eferen maka terjadi penyerapan darah.
Sedangkan bagian yang tersaring adalah bagian cairan darah kecuali protein.
Cairan yang tersaring ditampung oleh simpai bowman yang terdiri dari glukosa,
air, natrium, klorida, sulfat, bikarbonat, dll, yang diteruskan ke tubulus
ginjal.
2) Proses
reabsorpsi
Pada proses ini terjadi penyerapan kembali sebagian
besar glukosa, natrium, klorida, fosfat, dan ion bikarbonat. Prosesnya terjadi
secara pasif yang dikenal dengan obligator reabsorpsi terjadi pada tubulus
atas. Sedangkan pada tubulus ginjal bagian bawah terjadi kembali penyerapan
natrium dan ion bikarbonat. Bila diperlukan akan diserap kembali ke dalam
tubulus bagian bawah. Penyerapannya terjadi secara aktif dikenal dengan
reabsorpsi fakultatif dan sisanya dialirkan pada papilla renalis.
3) Proses
sekresi
Sisanya penyerapan urine kembali yang terjadi pada
tubulus dan diteruskan ke piala ginjal selanjutnya diteruskan ke ureter masuk
ke vesika urinaria.
g. Ureter
Ureter merupakan organ yang
berbentuk tabung kecil yang berfungsi mengalirkan urine dari pielum ginjal ke
dalam kandung kemih (Arif Muttaqin, 2011:17). Panjangnya 25-30 cm dengan
diameter 6mm. berjalan mulai dari pelvis renal setinggi lumbal ke 2 (Tarwoto,
2009:323).
Menurut Syaifuddin (2006:241)
lapisan dinding ureter terdiri dari :
1) Dinding luar
jaringan ikat (jaringan fibrosa)
2) Lapisan tengah
lapisan otot polos
3) Lapisan sebelah
dalam lapisan mukosa
Jika karena sesuatu sebab terjadi
sumbatan pada aliran urine, terjadi kontraksi otot polos yang berlebihan yang
bertujuan untuk mendorong mengeluarkan sumbatan tersebut dari saluran kemih.
Kontraksi itu dirasakan sebagai nyeri kolik yang datang secara berkala, sesuai
dengan irama peristaltik ureter (Arif Muttaqin, 2011:17).
Menurut Arif Muttaqin (2011:17)
kedua ureter merupakan kelanjutan dari pelvis ginjal dan membawa urine ke dalam
kandung kemih, khususnya ke area yang disebut trigon. Trigon adalah
area segitiga yang terdiri atas lapisan membran mukus yang dapat berfungsi
sebagai katup untuk menghindari refluks urine ke dalam ureter ketika kandung
kemih berkontraksi (Mary Baradero, 2008:5). Ureter memasuki kandung kemih
menembus otot detrusor di daerah trigonum kandung kemih. Normalnya ureter
berjalan secara obliquesepanjang beberapa sentimeter menembus
kandung kemih yang disebut dengan ureter intramural.
h. Vesikula
Urinaria ( Kandung Kemih )
Kandung kemih berfungsi menampung
urine dari ureter dan kemudian mengeluarkannya melalui uretra dalam
mekanisme miksi/berkemih (Arif Muttaqin, 2011:18).
Menurut Tarwoto (2009:325) kapasitas
maksimum kandung kemih pada oran dewasa sekitar 300-450 ml, dan anak-anak
antara 50-200 ml. Pada laki-laki kandung kemih berada dibelakang simpisis pubis
dan didepan rektum, pada wanita kandung kemih berada dibawah uterus dan didepan
vagina. Pada keadaan penuh akan memberikan rangsangan pada saraf aferen ke
pusat miksi sehingga terjadi kontraksi otot detrusor yang mendorong terbukanya
leher kandung kemih, sehingga terjadi proses miksi. Fungsi utama dari ginjal
adalah menampung urin dari ureter dan kemudian dikeluarkan melalui uretra.
Dinding kandung kemih memiliki 4 lapisan jaringan, yaitu:
1) Lapisan
paling dalam adalah mukosa yang menghasilkan mukus.
2) Lapisan
submukosa adalah lapisan otot polos yang satu sama lain membentuk sudut disebut
otot detrusor.
3) Lapisan
paling luar adalah serosa.
i. Uretra
Uretra merupakan saluran sempit yang
berpangkal pada kandung kemih yang berfungsi menyalurkan air kemih keluar.
Uretra pada pria panjang uretra ± 20 cm, sedangkan pada perempuan panjangnya ±
3-4 cm (Syaifuddin, 2006:246). Perbedaan panjang inilah yang menyebabkan
keluhan hambatan pengeluaran urine lebih sering terjadi pada pria. Uretra
dilengkapi dengan sfingter uretra interna yang terletak pada perbatasan kandung
kemih dan uretra, serta sfingter uretra eksterna yang terletak pada perbatasan
uretra anterior dan posterior (Arif Muttaqin, 2011:20). Adanya sfingter uretra
interna yang dikontrol secara involunter memungkinkan pengeluaran urine dapat
dikontrol. Pada pria saluran ini juga berfungsi sebagai tempat menyalurkan air
mani (Tarwoto,2009:327).
j. Proses
Berkemih
Menurut Tarwoto (2009:326) urine
diproduksi oleh ginjal sekitar 1 ml/menit, tetapi dapat bervariasi antara
0,5-20 ml/menit. Aktivitas saraf parasimpatis meningkatkan frekwensi
peristaltik dan stimulasi simpatis menurunkan frekwensi. Banyaknya aliran urine
pada uretra di pengaruhi oleh adanya obstruksi Karena konstriksi ureter dan juga
kontriksi arterior afferen yang berakibat pada penurunan produksi urine,
demikian juga pada adanya obstruksi ureter karena batu.
Kandung kemih dipersarafi oleh saraf
dari pelvis , baik sensorik maupun motorik. Pengaktifan saraf parasimpatis
menyebabkan kontraksi dari otot detrusor. Normalnya spinter interna pada leher
kandung kemih berkontraksi. Sedangkan spinter eksterna dikontrol berdasarkan
kesadaran (volunter), dipersarafi oleh nervus pudendal yang merupakan serat
saraf somatik.
Menurut Syaifuddin (2006:247)
kontrol volunter ini hanya mungkin bila saraf-saraf yang menangani kandung
kemih uretra, medulla spinalis dan otak, bila tidak maka terjadi inkontinensia
urine.
4. Etiologi
Menurut Kartika S. W. (2013:183) ada
beberapa faktor yang menyebabkan terbentuknya batu pada ginjal, yaitu :
a. Faktor
dari dalam (intrinsik), seperti keturunan, usia (lebih banyak pada usia
30-50 tahun, dan jenis kelamin laki-laki lebih banyak dari pada perempuan.
b. Faktor
dari luar (ekstrinsik), seperti geografi, cuaca dan suhu, asupan air
(bila jumlah air dan kadar mineral kalsium pada air yang diminum kurang), diet
banyak purin, oksalat (teh, kopi, minuman soda, dan sayuran berwarna hijau
terutama bayam), kalsium (daging, susu, kaldu, ikan asin, dan jeroan), dan
pekerjaan (kurang bergerak).
Berapa penyebab lain adalah :
a. Infeksi
saluran kemih
Infeksi saluran kencing dapat menyebabkan nekrosis
jaringan ginjal dan akan menjadi inti pembentukan batu saluran kencing.
b. Stasis
obstruksi urine
Adanya obstruksi dan stasis urine akan mempermudah
pembentukan batu saluran kencing.
c. Suhu
Tempat yang bersuhu panas menyebabkan banyak
mengeluarkan keringat sedangkan asupan air kurang dan tingginya kadar mineral
dalam air minum meningkatkan insiden batu saluran kemih.
d. Idiopatik
(Arif Muttaqin, 2011:108)
5. Pathway

6. Manivestasi klinis
Keluhan pada penderita nefrolitiasis yaitu
:
a. Nyeri
dan pegal di daerah pinggang : Lokasi nyeri tergantung dari dimana batu itu
berada. Bila pada piala ginjal rasa nyeri adalah akibat dari hidronefrosis yang
rasanya lebih tumpul dan sifatnya konstan. Terutama timbul pada costovertebral.
b. Hematuria
: Darah dari ginjal berwarna coklat tua, dapat terjadi karena adanya trauma
yang disebabkan oleh adanya batu atau terjadi kolik
(http://mantrinews.blogspot.com)
c. Batu
ginjal menimbulkan peningkatan tekanan hidrostatik dan distensi pelvis ginjal
serta ureter proksimal yang menyebabkan kolik.
d. Sumbatan:
batu menutup aliran urine akan menimbulkan gejala infeksi saluran kemih: demam
dan menggigil.
e. Gejala
gastrointestinal, meliputi:
1) Mual
2) Muntah
3) Diare (Nursalam,
2011:67)
7. Komplikasi
Menurut (Nursalam, 2011:67) komplikasi yang disebabkan
dari batunefrolitiasis adalah:
a. Sumbatan:
akibat pecahan batu
b. Infeksi:
akibat diseminasi partikel batu ginjal atau bakteri akibat obstruksi.
c. Kerusakan
fungsi ginjal: akibat sumbatan yang lama sebelum pengobatan dan pengangkatan
batu ginjal
d. Hidronefrosis
(Susan Martin, 2007:727).
8. Test Diagnostik
Menurut (http://mantrinews.blogspot.com)
ada beberapa pemeriksaan diagnostik dalam menegakkan diagnosa nefrolitiasis,
yaitu :
a. Urin
1. PH
lebih dari 7,6
2. Sediment
sel darah merah lebih dari 90%
3. Biakan
urin
4. Ekskresi
kalsium fosfor, asam urat
b. Darah
1. Hb
turun
2. Leukositosis
3. Urium
kreatinin
4. Kalsium,
fosfor, asam urat
c. Radiologi
1. Foto
BNO/NP untuk melihat lokasi batu dan besar batu
2. USG
abdomen
3. PIV
(Pielografi Intravena)
4. Sistoskpi
(Mary Baradero, 2008:61)
9. Penatalaksanaan
Menurut ((http://mantrinews.blogspot.com)
penatalaksanaan pada batu ginjal, yaitu:
a. Terapi medis dan simtomatik
Terapi medis berusaha untuk mengeluarkan batu atau
melarutkan batu yang dapat dilarutkan adalah batu asam urat, dilarutkan dengan
pelarut solutin G. Terapi simtomatik berusaha untuk menghilangkan nyeri. Selain
itu dapat diberikan minum yang lebih/banyak sekitar 2000 cc/hari dan pemberian
diuretik bendofluezida 5 – 10 mg/hr.
b. Terapi mekanik (Litotripsi)
Pada batu ginjal, litotripsi dilakukan dengan bantuan
nefroskopi perkutan untuk membawa tranduser melalui sonde kebatu yang ada di
ginjal. Cara ini disebut nefrolitotripsi. Salah satu alternatif tindakan yang
paling sering dilakukan adalah ESWL. ESWL (Extracorporeal Shock Wave
Lithotripsy) adalah tindakan memecahkan batu ginjal dari luar tubuh dengan
menggunakan gelombang kejut.
c. Tindakan bedah
Tindakan bedah dilakukan jika tidak tersedia alat
litotripsor, (alat gelombang kejut). Pengangkatan batu ginjal secara bedah
merupakan mode utama. Namun demikian saat ini bedah dilakukan hanya pada 1-2%
pasien. Intervensi bedah diindikasikan jika batu tersebut tidak berespon
terhadap bentuk penanganan lain. Ini juga dilakukan untuk mengoreksi setiap
abnormalitas anatomik dalam ginjal untuk memperbaiki drainase urin. Jenis
pembedahan yang dilakukan antara lain:
1) Pielolititomi: jika batu berada di piala ginjal
2) Nefrolithotomi/nefrektomi : jika batu terletak didalam ginjal
3) Ureterolitotomi : jika batu berada dalam ureter
4) Sistolitotomi : jika batu berada di kandung kemih
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN BATU GINJAL
1. Pengkajian
a. Identitas
klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan,
pekerjaan, no registrasi, diagnose medis, dan tanggal medis.
b. Keluhan
utama
Keluhan utama adalah keluhan yang dirasa sangat
mengganggu saat ini. Menurut (Arif Muttaqin, 2011:110) keluhan utama yang lazim
didapatkan adalah nyeri pada pinggang. Untuk lebih komprehensifnya, pengkajian
nyeri dapat dilakukan dengan pendekatan PQRST.
Tabel 2.1 Pengkajian Nyeri
dengan pendekatan PQRST
|
Teknik Pengkajian, Prediksi Hasil, dan implikasi
Klinis |
|
|
Provoking Incident |
Tidak ada penyebab spesifik yang menyebabkan nyeri,
tetapi pada beberapa kasus di dapatkan bahwa pada perubahan posisi secara
tiba-tiba dari berdiri atau berbaring berubah ke posisi duduk atau melakukan
fleksi pada badan biasanya menyebabkan keluhan nyeri. |
|
Quality of pain |
Kualitas nyeri batu ginjal dapat berupa nyeri kolik
ataupun bukan kolik. Nyeri kolik terjadi karena aktivitas peristaltik otot
polos system kalises ataupun ureter meningkat dalam usaha untuk mengeluarkan
batu dari saluran kemih. Peningkatan peristaltik tersebut menyebabkan tekanan
intraluminalnya meningkat sehingga terjadi peregangan dari terminal saraf
yang memberikan sensai nyeri. Nyeri non-kolik terjadi akibat peregengan
kapsul ginjal karena terjadi terjadi hidronefrosis atau infeksi pada ginjal.
Bila nyeri |
|
mendadak menjadi akut, disertai keluhan nyeri
diseluruh area kostovertebral dan keluhan gastrointestinal seperti mual dan
muntah. Diare dan ketidaknyamanan abdominal dapat terjadi. Gejala
gastrointestinal ini akibat dari reflex retrointestinal dan proksimitas
anatomi ginjal ke lambung, pankreas dan usus besar. |
|
|
Region, radiation, relief |
Batu ginjal yang terjebak di ureter menyebabkan
keluhan nyeri yang luar biasa, akut dan kolik yang menyebar ke paha dan
genetalia. Pasien merasa ingin berkemih, namun hanya sedikit urine yang
keluar dan biasanya mengandung darah akibat aksi abrasive batu. Keluhan ini
disebut kolik ureteral. Nyeri yang berasal dari area renal menyebar secara
anterior dan pada wanita ke bawah mendekati kandung kemih, sedangkan pada
pria mendekati testis. |
|
Severity (scale) of pain |
Pasien bisa ditanya dengan menggunakan rentang 0-4
dan pasien akan menilai seberapa jauh yang dirasakan. 0= Tidak ada nyeri 1= Nyeri ringan 2= Nyeri sedang 3= Nyeri berat 4= Nyeri berat sekali/tak tertahan |
|
Skala nyeri pada kolik batu ginjal secara lazim
berada pada posisi 3 di rentang 0-4 pengkajian skala nyeri. |
|
|
Time |
Sifat mula timbulnya (onset), tentukan apakah gejala
timbul mendadak, perlahan-lahan atau seketika itu juga. Tanyakan apakah
gejala-gejala timbul secara terus menerus atau hilang timbul (intermiten).
Tanyakan apa yang sedang dilakukan pasien pada waktu gejala timbul. Lama
timbulnya (durasi), tentukan kapan gejala tersebut pertama kali timbul dan
usahakan menghitung tanggalnya seteliti mungkin. Misalnya, tanyakan kepada
pasien apa yang pertama kali dirasakan tidak biasa atau tidak enak |
c. Riwayat
Kesehatan
1. Riwayat
penyakit sekarang.
Mengetahui bagaimana penyakit itu timbul, penyebab dan
faktor yang mempengaruhi, memperberat sehingga mulai kapan timbul sampai di
bawa ke RS.
2. Riwayat
penyakit dahulu.
Klien dengan batu ginjal didapatkan riwayat adaya batu
dalam ginjal.Menurut Kartika S. W. (2013:137) kaji adanya riwayat batu saluran kemih
pada keluarga, penyakit ginjal, hipertensi, gout, ISK kronis,
riwayat penyakit bedah usus halus, bedah abdomen sebelumnya,
hiperparatiroidisme, penggunaan antibiotika, anti hipertensi, natrium,
bikarbonat, alupurinol, fosfat, tiazid, pemasukan berlebihan kalsium atau
vitamin D.
3. Riwayat
penyakit keluarga.
Yaitu mengenai gambaran kesehatan keluarga adanya
riwayat keturunan dari orang tua.
4. Riwayat Psikososial
Bagaimana hubungan dengan keluarga, teman sebaya dan
bagaimana perawat secara umum. Menurut Arif Muttaqin (2011:112) pengkajian
psikologis pasien meliputi beberapa dimensi yang memungkinkan perawat untuk
memperoleh persepsi yang jelas mengenai status emosi, kognitif, dan perilaku
pasien. Perawat mengumpulkan pemerikasaan awal pasien tentang kapasitas fisik
dan intelektual saat ini, yang menentukan tingkat perlunya pengkajian
psikososialspiritual yang seksama.
d. Pola-pola Fungsi Kesehatan
Menurut (http://perawathati.blogspot.com)
pengkajian pola-pola fungsi kesehatan pada pasien dengan diagnosa nefrolitiasis, yaitu
:
1. Pola persepsi dan tata laksana hidup
Bagaimana pola hidup orang atau klien yang
mempunyai penyakit batu ginjal dalam menjaga kebersihan diri klien perawatan
dan tata laksana hidup sehat.
2. Pola nutrisi dan metabolisme
Nafsu makan pada klien batu ginjal terjadi
nafsu makan menurun karena adanya luka pada ginjal.
Kaji adanya mual dan muntah, nyeri tekan
abdomen, diit tinggi purin, kalsium oksalat atau fosfat, atau ketidakcukupan
pemasukan cairan, terjadi abdominal, penurunan bising usus (Kartika S. W.,
2013:187).
3. Pola aktivitas dan latihan
Klien mengalami gangguan aktivitas karena
kelemahan fisik gangguan karena adanya luka pada ginjal.
4. Pola eliminasi
Bagaimana pola BAB dan BAK pada pasien
batu ginjal biasanya BAK sedikit karena adanya sumbatan atau batu ginjal dalam saluran kemih, BAK normal.
5. Pola tidur dan istirahat
Klien batu ginjal biasanya tidur dan
istirahat kurang atau terganggu karena adanya penyakitnya.
6. Pola persepsi dan konsep diri
Bagaimana persepsi klien terdapat tindakan
operasi yang akan dilakukan dan bagaimana dilakukan operasi.
7. Pola sensori dan kognitif
Bagaimana pengetahuan klien tarhadap
penyakit yang dideritanya selama di rumah sakit.
8. Pola reproduksi sexual
Apakah klien dengan nefrolitiasis dalam
hal tersebut masih dapat melakukan dan selama sakit tidak ada gangguan yang
berhubungan dengan produksi sexual.
9. Pola hubungan peran
Biasanya klien nefrolitiasis dalam
hubungan orang sekitar tetap baik tidak ada gangguan.
10. Pola penaggulangan stress
Klien dengan nefrolitiasis tetap berusaha
dab selalu melakukan hal yang positif jika stress muncul.
11. Pola nilai dan kepercayaan
Klien tetap berusaha dan berdo’a supaya
penyakit yang di derita ada obat dan dapat sembuh.
e. Pemeriksaan
Fisik Fokus
Menurut Arif Muttaqin (2011:113)
pada pemeriksaan fokus nefrolitiasisdidapatkan adanya perubahan TTV
sekunder dari nyeri kolik. Pasien terlihat sangat kesakitan, keringat dingin,
dan lemah.
1. Inspeksi
Pada pola eliminasi urine terjadi perubahan akibat
adanya hematuri, retensi urine, dan sering miksi. Adanya nyeri kolik
menyebabkan pasien terlihat mual dan muntah.
2. Palpasi
Palpasi ginjal dilakukan untuk mengidentifikasi masa.
Pada beberapa kasus dapat teraba ginjal pada sisi sakit akibat hidronefrosis.
3. Perkusi
Perkusi atau pemeriksaan ketok ginjal dilakukan dengan
memberikan ketokan pada sudut kostovertebral dan didapatkan respon nyeri.
2. Diagnosa
Keperawatan
a. Nyeri
berhubungan dengan iritasi pada saluran kemih
b. Perubahan
pola eliminasi: urine berhubungan dengan obstruksi karena batu.
c. Risiko
tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah
d. Ketidakefektifan
management regiment terapeutik tentang perawatan post operasi dan pencegahan
berhubungan dengan kurangnya pengetahuan/informasi
e. Kurang
pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan belajar berhubungan
dengan kurang terpajan/ kurang mengingat/salah intepretasi/informasi. Tidak
mengenal masalah/sumber masalah.
3. Intervensi
Keperawatan
|
No |
Diagnosa |
Tujuan |
Intervensi |
|
1 |
Nyeri berhubungan dengan iritasi pada saluran kemih |
Tujuan :Setelah dilakukan tindakan selama 3 x 24 jam
maka nyeri hilang, keseimbangan cairan dipertahankan. Kriteria hasil : Pasien bebas dari rasa nyeri , Pasien tampak rileks,
bisa tidur dan istirahat. |
1. Catat
lokasi, lamanya intensitas dan penyebaran. 2. Jelaskan
penyebab nyeri dan pentingnya melaporkan ke staf terhadap perubahan
kejadian/karakteristik nyeri. 3. Berikan
tindakan nyaman, contoh pijatan punggung, lingkungan istirahat. 4. Bantu
atau dorong penggunaan napas berfokus, bimbingan imajinasi, dan aktivitas
terapetik. 5. Berikan
obat sesuai indikasi : narkotik, contoh meperidin (Demerol), morfin. Berika kompres hangat pada punggung. |
|
2 |
Perubahan pola eliminasi: urine berhubungan dengan
obstruksi karena batu. |
Tujuan : setelah dilakukan interfensi selama 3 x 24
jam maka pasien mampu berkemih dengan normal. Kriteria hasil : Pola eliminasi urine dan output dalam batas
normal,Tidak menunjukkan tanda-tanda obstruksi (tidak ada rasa sakit saat
berkemih, pengeluaran urin lancar). |
1. Awasi
pemasukan dan pengeluaran dan karakteristik urine. 2. Tentukan
pola berkemih norml pasien dan perhatikan variasi. 3. Dorong
meningkatkan pemasukan cairan. 4. Awasi
pemeriksaan laboratorium, contoh elektrolit, BUN, kretainin. 5. Ambil
urine untuk culture dan sensifitas. |
|
3 |
Risiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan
dengan mual dan muntah |
Tujuan : setelah dilakukan tindakan 1 x 24 jam maka
pasien mempertahankan keseimbangan cairan adekuat. Kriteria hasil : membrane mukosa lembab, turgor
kulit baik, berat badan normal. |
1. Awasi
pemasukan dan pengeluaran. 2. Catat
insiden muntah, diare, perhatikan karakteristik muntah dan diare. 3. Tindakan
pemasukan cairan sampai 3-4 L/hari dalam toleransi jantung. 4. Awasi
tanda vital 5. Kalau
perlu berikan obat anti enemik. |
|
4 |
Ketidakefektifan management regiment terapeutik
tentang perawatan post operasi dan pencegahan berhubungan dengan kurangnya
pengetahuan/informasi |
Tujuan : setelah dilakukan tndkan selama 1 x 24 jam
makan keluarga atau pasien menyatakan pemahaman proses penyakit,
menghubungkan gejala dengan factor penyebab. Kriteria hasil : melakukan perubahan perilku yang
perlu dan berpartisipasi dalam program pengobatan. |
1. Kaji
ulang proses penyakit dan harapan di masa dating. Rasional Tekankan
pentingnya peningkatan cairan, 2. pembilasan
system ginjal menurunkan kesempatan statis ginjal dan pembentukan batu. Diet
rendah purin, contoh membatasi daging berlemak, kalkun, tumbuhan polog,
gandum, alkohol. 3. Diet
rendah kalsium, contoh membatasi susu, keju, sayur berdaun hijau, yogurt.
Rasional : menurnukan pembentukan batu kalsium. Diet rendah
kalsium. |
|
5 |
Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan
kebutuhan belajar berhubungan dengan kurang terpajan/ kurang mengingat/salah
intepretasi/informasi. Tidak mengenal masalah/sumber masalah. |
Tujuan : setelah dilakukan tindakan
selama 1 x 24 jam maka managenen regiment trepuitik tentang perawatan post
operasi efektif Keriteria hasil: Pasien mengungkapkan proses
penyakit, faktor-faktor penyebab, Pasien dapat berpartisipasi dalam
perawatan. |
1. Kaji
pengetahuan pasien/tanyakan proses sakit dan harapan pasien. 2. Jelaskan
pentingnya peningkatan cairan per oral 3 – 4 liter per hari. 3. Jelaskan
dan anjurkan pasien untuk melakukan aktivitas secara teratur. 4. Identifikasi
tanda-tanda nyeri, hematuri, oliguri. Jelaskan prosedur pengobatan dan perubahan gaya
hidup. |
DAFTAR PUSTAKA
Baradero, Dayrit, Siswadi. 2009.
Seri Asuhan Keperawatan : Klien Gangguan Ginjal. Jakarta: EGC
Carpenito, L.J. (2009). Diagnosis
Keperawatan:aplikasi pada praktik klinis. Edisi ke Sembilan. Jakarta :EGC.
Doengoes, E. M. (2000). Rencana
Asuhan Keperawatan. Edisi Kedua. Jakarta: EGC.
Muttaqin, Arif & Sari, Kurmala.
2011. Gangguan Gastrointestinal : Aplikasi Asuhan Keperawatan Medikal bedah.
Jakarta : Salemba medika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar