Senin, 29 Maret 2021

Implementasi Keperawatan

 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ilmu Keperawatan didasarkan pada suatu teori yang sangat luas. Proses keperawatan adalah metode dimana suatu konsep diterapkan dalam praktik keperawatan. Hal ini bisa disebut sebagai suatu pendekatan problem-solving yang memerlukan ilmu, teknik, dan ketrampilan interpersonal dan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan klien/ keluarga. Proses keperawatan terdiri dari lima tahap yang sequensial dan berhubungan. Antara lain yaitu pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahap tersebut berintegrasi dalam mendefinisikan suatu tindakan perawatan. Salah satunya adalah implementasi atau pelaksanaan.

Proses keperawatan menyediakan struktur bagian praktis dengan penggunaan pengetahuan dan keterampilan yang dilakukan oleh perawat untuk mengekspresikan kebutuhan perawatan (human caring). Keperawatan digunakan secara terus-menerus ketika merencanakan dan memberikan asuhan keperawatan dengan mempertimbangkan pasien sebagai figur central dalam merencanakan asuhan dengan mengobservasi respons pasien terhadap setiap tindakan sebagai penatalaksanaan dalam suatu asuhan keperawatan.

Pada saat implementasi perawat harus melaksanakan hasil dari rencana keperawatan yang di lihat dari diagnosa keperawatan. Di mana perawat membantu klien dari masalah status kesehatan yang dihadapi kestatus kesehatan yang lebih baik yang menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan.

Sehingga, dengan proses keperawatan, rasa tanggung jawab dan tanggung gugat bagi perawat itu dapat dimiliki dan dapat digunakan dalam tindakan-tindakan yang merugikan atau menghindari tindakan yang legal. Semua tatanan perawatan kesehatan secara hukum perlu mencatat observasi keperawatan, perawatan yang diberikan, dan respons pasien.

1.2 Rumusan Masalah

a. Apa yang dimaksud dengan implementasi ?

b. Bagaimana dokumentasi pada tahap impementasi ?

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan dibuatnya makalah ini adalah mahasiswa dapat melakukan dan mendokumentasikanimplementasi keperawatan.

1.4 Manfaat Penulisan

1.4.1 Bagi penulis

Diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan, serta dapat mengaktualisasikannya pada lingkungan sekitar, baik dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat.

1.4.2 Bagi Pembaca

Diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan mengenai proses implementasi keperawatan berdasarkan teori.

BAB II

PEMBAHASAN


2.1 Pengertian Implementasi Keperawatan

            Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang dihadapi kestatus kesehatan yang lebih baik yang menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan (Gordon, 1994, dalam Potter & Perry, 1997). Implementasi merupakan inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan pada nursing orders untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu rencana tindakan yang spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan klien. Tujuan dari pelaksanaan adalah membantu klien dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan, yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan, penyakit, pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping.

            Untuk kesuksesan pelaksanaan implementasi keperawatan agar sesuai dengan rencana keperawatan, perawat harus mempunyai kemampuan kognitif (intelektual), kemampuan dalam hubungan interpersonal, dan keterampilan dalam melakukan tindakan. Proses pelaksanaan implementasi harus berpusat kepada kebutuhan klien, faktor-faktor lain yang mempengaruhi kebutuhan keperawatan, strategi implementasi keperawatan, dan kegiatan komunikasi. (Kozier et al., 1995).


2.2 Tahap-tahap Tindakan Keperawatan

2.2.1 Tahap I : Persiapan

Tahap awal tindakan keperawatan ini menuntut perawat mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam tindakan. Meliputi :

- Review tindakan keperawatan yang diidentifikasi pada tahap perencanaan

- Menganalisa pengetahuan dan ketrampilan keperawatan yang diperlukan

- Mengetahui komplikasi dari tindakan keperawatan yang mungkin timbul

- Menentukan dan mempersiapkan peralatan yang diperlukan

- Mempersiapkan lingkungan yang kondusif sesuai dengan tindakan

- Mengidentifikasi aspek hukum dan etik terhadap resiko dari potensi tindakan

2.2.2. Tahap II : Intervensi

Fokus tahap pelaksanaan tindakan perawatan adalah kegiatan pelaksanaan tindakan dari perencanaan untuk memenuhi kebutuhan fisik dan emosional. Pendekatan ini meliputi :

a. Independent

Adalah suatu kegiatan yang di laksanakan oleh perawat tanpa petunjuk dan perintah dari dokter atau tenaga kesehatan lainnya. Tipe tindakan independent keperawatan ada 4 yaitu:

1). Tindakan Diagnostik

a. Wawancara dengan klien

b. Observasidan pemeriksaan fisik

c. Melakukan pemeriksaan laboratorium sederhana, misalnya HB dan membaca hasil dari pemeriksaan laboratorium tersebut.

2). Tindakan terapeutik

Tindakan untuk mencegah, mengurangi, dan mengatasi masalah klien. Misalnya: Untuk mencegah gangguan integritas kulit dengan melakukan mobilisasi dan memberikan bantal air pada bagian tubuh yang tertekan.

3). Tindakan Edukatif

Tindakan ini untuk merubah perilaku klien melalui promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan kepada klien. Misalnya: Perawat mengajarkan kepada klien cara injeksi insulin.

4). Tindakan Merujuk

Tindakan kerja sama dengan tim kesehatan lainnya.

b. Interdependent, yaitu suatu kegiatan yang memerlukan suatu kerja sama dengan tenaga kesehatan lainnya misalnya tenaga soaial, ahli gizi, fisioterapi dan dokter.

c. Dependent, yaitu tindakan keperawatan atas dasar rujukan dari profesi lain. seperti ahli gizi, physiotherapies, psikolog dan sebagainya.


2.2.3. Tahap III : Dokumentasi

Pelaksanaan tindakan keperawatan harus diikuti oleh pencatatan yang lengkap dan akurat terhadap suatu kejadian dalam proses keperawatan. Ada 3 tipe sistem pencatatan yang digunakan pada dokumentasi :

1) Sources-Oriented records,

2) Problem-Oriented records,

3) Computer-Assissted records.


2.3 Metode Implementasi Keperawatan

Beberapa metode yang digunakan dalam tahap implementasi keperawatan pada asuhan keperawatan yaitu:

1. Membantu dalam aktifitas kehidupan sehari-sehari.

Aktifitas kehidupan sehari-hari adalah aktifitas yang biasanya dilakukan dalam sepanjang hari normal: mencakup ambulasi, makan, berpakaian, menyikat gigi, berhias.

2. Konseling

Konseling adalah metode implementasi yang mebantu klien menggunakan proses pemecahan masalah untuk mengenali dan menangani stres dan yang memudahkan hubungan interpersonal antara klien, keluarganya, dan tim perawatan kesehatan. Ini berjtujuan untuk membantu klien menerima perubahan yang akan terjadi, yang diakibatkan stres berupa dukungan emosional, intelektual, spiritual, dan psikologis.

3. Penyuluhan

Penyuluhan adalah metode implementasi yang digunakan untuk menyajikan prinsip prosedur, dan teknik yang tepat tentang perawatan kesehatan untuk klien dan untuk menginformasikan klien tentang status kesehatannya.

4. Memberikan asuhan keperawatan langsung.

5. Kompensasi untuk reaksi yang merugikan.

6. Teknik tepat dalam memberikan perawatan dan menyiapkan klien untuk prosedur.

7. Mencapai tujuan perawatan.

8. Mengawasi dan mengevaluasi kerja dari anggota staf lain


2.4 Pedoman dalam Melaksanakan Implementasi Keperawatan

Beberapa pedoman dalam pelaksanaan implementasi keperawatan adalah sebagai berikut:

1. Berdasarkan respons klien.

2. Berdasarkan ilmu pengetahuan, hasil penelitian keperawatan, standar pelayanan professional, hukum dan kode etik keperawatan.

3. Berdasarkan penggunaan sumber-sumber yang tersedia.

4. Sesuai dengan tanggung jawab dan tanggung gugat profesi keperawatan.

5. Mengerti dengan jelas pesanan-pesanan yang ada dalam rencana intervensi keperawatan.

6. Harus dapat menciptakan adaptasi dengan klien sebagai individu dalam upaya meningkatkan peran serta untuk merawat diri sendiri (Self Care).

7. Menekankan pada aspek pencegahan dan upaya peningkatan status kesehatan.

8. Dapat menjaga rasa aman, harga diri dan melindungi klien.

9. Memberikan pendidikan, dukungan dan bantuan.

10. Bersifat holistik.

11. Kerjasama dengan profesi lain.

12. Melakukan dokumentasi


Ø Ada tiga prinsip pedoman implementasi asuhan keperawatan, yaitu:

a. Mempertahankan keamanan klien

Keamanan merupakan fokus utama dalam melakukan tindakan. Oleh karena, tindakan yang membahayakan tidak hanya dianggap sebagai pelanggaran etika standar keperawatan professional, tetapi juga merupakan suatu tindakan pelanggaran hukum yang dapat dituntut.

b. Memberikan asuhan yang efektif

Asuhan yang efektif adalah memberikan asuhan sesuai dengan yang harus dilakukan. Semakin baik pengetahuan dan pengalaman seorang perawat, maka semakin efektif asuhan yang akan diberikan.

c. Memberikan asuhan seefisien mungkin

Asuhan yang efisien berarti perawat dalam memberikan asuhan dapat menggunakan waktu sebaik mungkin sehinnga dapat menyelesaikan masalah.


2.5 Dokumentasi pada Tahap Implementasi Keperawatan

2.5.1 Pengertian Dokumentasi

Dokumentasi didefinisikan sebagai segala sesuatu yang tertulis atau tercetak yang dapat diandalkan sebagai catatan tentang bukti bagi individu yang berwenang. Catatan medis harus mendeskripsikan tentang status dan kebutuhan klien yang komprehensif, juga layanan yang diberikan untuk perawatan klien. Dokumentasi yang baik mencerminkan tidak hanya kualitas perawatan tetapi juga membuktikan pertanggunggugatan setiap anggota tim perawatan dalam memberikan perawatan.


2.5.2 Hal-hal yang Harus di Dokumentasikan

Hal-hal yang perlu didokumentasikan pada tahap implementasi:

1. Mencatat waktu dan tanggal pelaksanaan.

2. Mencatat diagnosa keperawatan nomor berapa yang dilakukan intervensi tersebut.

3. Mencatat semua jenis intervensi keperawatan.

Contoh : Mengornpres luka dengan betadin 5 %, hasil : luka tampak bersih, pus tidak ada, tidak berbau.

4. Berikan tanda tangan dan nama jelas perawat satu tim kesehatan yang telah melakukan intervensi.


2.5.3 Prinsip – Prinsip Dokumentasi Implementasi

o Gunakan bulpoint tertulis jelas, tulis dengan huruf cetak bila tulisan tidak jelas. Bila salah tidak boleh di tipp x tetapi dicoret saja, dan ditulis kembali diatas atau disamping

o Jangan lupa menuliskan waktu, jam pelaksanaan

o Jangan membiarkan baris kosong, tetapi buatlah garis ke samping untuk mengisi tempat yang tidak digunakan

o Dokumentasikan sesegera mungkin setelah tindakan dilaksanakan guna mnghindari kealpaan (lupa)

o Gunakan kata kerja aktif untuk menjelaskan apa yang dikerjakan

o Dokumentasikan bagaimana respon pasien terhadap tindakan yang dilakukan

o Dokumentasikan aspek keamanan, kenyamanan dan pengawasan infeksi terhadap klien

o Dokumentasikan pula modifikasi lingkungan bila itu merupakan bagian dari tindakan keperawatan

o Dokumentasikan persetujuan keluarga untuk prosedur khusus dan tindakan invasif yang mempunyai resiko tambahan

o Dokumentasikan semua informasi yang diberikan dan pendidikan kesehatan yang diberikan

o Dokumentasikan dengan jelas, lengkap, bukan berarti semua kalimat harus ditulis, tetapi kata – kata kunci dan simbol – simbol dan lambang – lambang sudah baku atau lazim dapat digunakan

o Spesifik hindarkan penggunaan kata yang tidak jelas, bila perlu tuliskan ungkapan klien untuk memperjelas maksud

o Rujuk ke petunjuk, kebijakan dan prosedur rumah sakit untuk penggunaan format


2.5.4 Tehnik Dokumentasi Pada Tahap Implementasi Keperawatan

Pendokumentasian implementasi meliputi cara catatan intervensi, diagnosa yang direncanakan, waktu target yang sudah ditetapkan pada intervensi.

Contoh Format Dokumentasi Implementasi Keperawatan :

No.Diagnosis Masalah Kolaboratif

Tgl/Jam

Tindakan

Paraf







Ø Pedoman Pengisian Format Pelaksanaan Tindakan Keperawatan

1. Nomor diagnosis keperawatan/masalah kolaboratif.

Tulislah nomor diagnosis keperawatan/masalah kolaboratif sesuai dengan masalah yang sudah teridentifikasi dalam format diagnosis keperawatan.

2. Tanggal/jam

Tulislah tanggal, bulan, dan jam pelaksanaan tindakan keperawatan.

3. Tindakan

- Tulislah nomor urut tindakan

- Tindakan dituliskan berdasarkan urutan pelaksanaan tindakan

- Tulislah tindakan yang dilakuakn beserta hasil atau respon yang jelas

- Jangan lupa menuliskan nama/jenis obat, dosis, cara memberikat, dan instruksi medis yang lain dengan jelas

- Jangan menuliskan istilah sering, kecil, besar, atau istilah lain yang dapat menimbulkan persepsi yang berbeda atau masih menimbulkan pertanyaan. Contoh :memberi makan lebih sering dari biasanya. Lebih baik tuliskan pada jam berapa saja memberikan makan dan dalam berapa porsi makanan diberikan

- Untuk tindakan pendidikan kesehatan tulislah “melakukan penkes tentang (…..) laporan penkes terlampir

- Bila penkes dilakukan secara singkat tulislah tindakan dan respon pasien setelah penkes dengan jelas

4. Paraf

Tuliskan paraf dan nama terang.


2.6 Contoh Format Pendokumentasian Implementasi Keperawatan

Kasus :

Seorang pasien bernama Ny.K setelah dikaji didapatkan masalah keperawatan sbb :


1. Intoleransi aktivitas b/d kelemahan umum

DS: Pasien mengatakan badan lemah, cepat lelah, dan sering pusing

DO:

- Pasien lemah

- Membran mukosa kering dan pucat

- TTV:

• TD: 170/110 mmHg

• S: 36 °C

• RR: 20 x/menit

• N: 90 x/menit

2. Nyeri (akut) kepala b/d peningkatan tekanan vaskuler serebral

DS: Pasien mengatakan setiap dibuat berjalan merasa nyeri pada bagian kepala

DO:

- Wajah tampak menyeringai

- Nyeri pada kepala

- Skala nyeri 5

3. Keterbatasan informasi b/d kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit

DS: Px mengatakan belum mengerti tentang pengobatan, faktor resiko dan perawatan lanjut

DO:

- Bertanya mengenai pendidikan

- Informasi

CATATAN KEPERAWATAN

NAMA : Ny “ K “

NO. REG. :

NO

TANGGAL/JAM

NO.DX

IMPLEMENTASI

TTD

1.

11 Mei 2015

(17.00)

1

- memberikan posisi yang nyaman dan lingkungan yang tenang

- memantau respon pasien terhadap peningkatan dan memberikan pujian di setiap perkembangan

- menganjurkan pasien tentang teknik penghematan energi

- mengobservasi TTV

AL

2.

11 Mei 2015

(19.00)

2

- memberikan penjelasan tentang penyebab nyeri pada pasien

- melakukan pengkajian pada skala nyeri pasien

- mengukur tekanan darah, suhu tubuh, nadi dan pernapasan

- memberikan obat anti nyeri

· Oral (ibu profen 2x1)

AL

3.

11 Mei 2015

(20.30)

3

- memberitahukan pasien batas tekanan darah normal

- mendorong pasien agar membuat program olahraga

- menganjurkan makanan tinggi kalsium dan minuman yang mengandung kalori

- memberikan terapi pengobatan

Oral:

· Pamol 3x1

· Farmoten 3x1

· B1 3X1

· Ibu profen 2x1

AL















BAB III

PENUTUP


3.1 Kesimpulan

Implementasi merupakan inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan pada nursing orders untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Pelaksanaan tindakan keperawatan harus diikuti oleh pencatatan yang lengkap dan akurat terhadap suatu kejadian dalam proses keperawatan.


3.2 Saran

Seluruh perawat agar meningkatkan pemahamannya terhadap berbagai cara pendokumentasian implementasi keperawatan sehingga dapat dikembangkan dalam tatanan layanan keperawatan. Diharapkan agar perawat bisa menindak lanjuti pendokumentasian tersebut melalui kegiatan asuhan keperawatan sebagai dasar untuk pengembangan kedisiplinan di Lingkungan Rumah Sakit dalam ruang lingkup keperawatan.

Minggu, 28 Maret 2021

Gangguan Sistem Indera

 Gangguan dan Penyakit Alat Indra Manusia Disertai Penjelasannya

Amongguru.com. Alat indra merupakan organ penting yang ada pada tubuh manusia. Terdapat lima alat indra manusia dengan fungsinya masing-masing, yaitu mata sebagai indra penglihatan, hidung sebagai indra pembau, telinga sebagai indra pendengar, lidah sebagai indra pengecap, dan kulit sebagai indra peraba.

Kelima alat indra manusia dapat mengalami gangguan dan penyakit. Faktor penyebab gangguan dan penyakit alat indra manusia juga bermacam-macam, bisa berasal dari faktor internal (dalam diri manusia) dan juga faktor eksternal (luar tubuh manusia).

Gangguan dan penyakit alat indra manusia akan mengganggu interaksi tubuh dengan dunia luar.

Berikut ini adalah beberapa gangguan dan penyakit alat indra manusia disertai penjelasannya

A. Gangguan dan Penyakit Mata

Berikut ini adalah beberapa gangguan dan penyakit pada mata manusia./

1. Rabun Jauh (Miopi)

Rabun jauh atau miopi merupakan kondisi ketidakmampuan mata untuk melihat benda yang berjarak jauh. Rabun jauh disebut miopi.

Penyebab rabun jauh adalah ukuran bola mata terlalu panjang dari ukuran normal, sehingga bayangan benda jatuh di depan retina. Rabun jauh dapat diatasi dengan menggunakan kaca mata berlensa cekung (negatif).

2. Rabun Dekat (Hipermetropi)

Rabun dekat (hipermetropi) adalah ketidakmampuan mata untuk melihat benda padajarak dekat.

Hal ini disebabkan oleh ukuran bola mata yang terlalu pendek, sehingga bayangan jatuh di belakang retina. Rabun dekat dapat diatasi menggunakan kaca mata berlensa cembung (positif).

3. Presbiopi (Rabun Tua)

Presbiopi atau rabun tua disebabkan karena menurunnya daya akomodasi lensa mata, sehingga lensa mata kehilangan elastisitasnya seiring bertambahnya usia seseorang. Penderita presbiopi tidak mampu melihat benda yang terlalu jauh dan terlalau dekat.

Presbiopi biasanya diderita oleh orang-orang yang sudah tua atau lanjut usia. Penderita presbiopi ditolong dengan kacamata lensa rangkap, yaitu kacamata cembung dan cekung.

4. Rabun Senja

Rabun senja atau disebut juga rabun ayam merupakan ketidakmampuan mata untuk melihat benda yang berada di tempat redup dan di malam hari.

Gangguan mata ini disebabkan oleh kekurangan vitamin A, sehingga sel batang tidak berfungsi dengan baik, karena protein rodopson tidak terbentuk. Penderita rabun senja harus banyak mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung vitamin A.

5. Buta Warna

Buta warna adalah kondisi dimana mata tidak mampu untuk membedakan warna. Buta warna merupakan penyakit yang bersifat menurun.

Apabila seseorang hanya mampu melihat warna hitam dan putih saja, maka dikatakan buta warna total.

Akan tetapi, jika seseorang tidak bisa membedakan warna tertentu, disebut buta warna parsial.

6. Katarak

Katarak (bular mata) adalah gangguan penglihatan yang disebabkan oleh lensa mata yang keruh, sehingga menghalangi masuknya cahaya pada retina. Apabila tidak segera diobati, katarak dapat menimbulkan kebutaan dengan tanpa rasa sakit.

Penderita katarak pada umumnya berumur di atas 55 tahun. Katarak dapat disembuhkan dengan melakukan operasi mata.

7. Astigmatisme

Astigmatisme atau mata silindris merupakan gangguan mata yang disebabkan oleh ukuran lensa mata atau kornea yang tidak rata.

Akibatnya jika penderita melihat suatu kotak, garis-garis vertikal akan terlihat kabur dan garis horizontal terlihat jelas atau sebaliknya. Cacat mata ini dapat ditolong dengan menggunakan kacamata berlensa silindris.

B. Gangguan dan Penyakit Hidung

Gangguan pada hidung biasanya disebabkan oleh radang atau sakit pilek yang menghasilkan lendir atau ingus sehingga menghalangi bau mencapai ujung saraf pembau.

Gangguan lain juga bisa disebabkan oleh adanya kotoran pada hidung dan bulu hidung yang terlalu banyak.

Kita harus selalu membersihkan hidung dari kotoran dan merapikan bulu-bulunya supaya penciuman kita tidak terganggu.

Indera pembau pada hidung dapat mengalami kelainan. Kelainan- kelainan itu antara lain sebagai berikut.

  1. Anosmia; gangguan hidung karena hidung tidak dapat mencium bau. Gangguan ini dapat disebabkan oleh penyumbatan rongga hidung karena polip atau tumor, atau reseptor pembau rusak karena infeksi virus.
  2. Influenza; penyebab influenza adalah infeksi virus flu yang menyebabkan tersumbatnya rongga hidung sehingga kemampuan membau menjadi berkurang.
  3. Polip hidung; polip atau benjolan pada hidung memiliki ciri-ciri bertekstur lunak, tidak menimbulkan rasa sakit, dan bukan dikategorikan sebagai kanker. Biasanya, benjolan tumbuh dalam saluran atau rongga sistem pernapasan.
  4. Mimisan atau hidung berdarah; merupakan kondisi dimana darah keluar dari hidung. Daerah hidung yang kaya akan pembuluh darah ada di permukaan bagian depan dan belakang. Pembuluh darah sangat rapuh sehingga mudah mengeluarkan darah.
  5. Patah hidung; merupakan cedera yang umum dialami seseorang yang disebabkan oleh hantaman keras atau benturan benda tumpul ke wajah.
  6. Rhinitis; rhinitis terbagi menjadi dua, yaitu rhinitis alergi dan rhinitis nonalergi. Penyakit hidung berupa rhinitis ini ditandai dengan iritasi pada selaput lendir. Penyebab rhinitis nonalergi lebih bervariasi, mulai dari terpapar asap rokok, aroma yang menyengat, perubahan cuaca, hingga iritasi debu. Perbedaannya dengan rhinitis alergi adalah tidak ditemukannya antibodi IgE yang beraksi terhadap penyebab alergi tertentu.

C. Gangguan dan Penyakit Telinga

Penyebab gangguan telinga dibedakan menjadi dua, yaitu gangguan penghantar bunyi dan gangguan saraf.

Berikut ini beberapa gangguan dan penyakit telinga sebagai indra pendengaran manusia.

  1. Tuli, disebabkan oleh gangguan transmisi suara ke dalam koklea akibat penumpukan kotoran atau bisa juga terjadi karena kerusakan koklea.
  2. Infeksi telinga bagian luar (otitis eksterna), infeksi telinga bagian luar menyebabkan bagian yang terinfeksi mengeluarkan nanah sehingga harus segera diobati.
  3. Infeksi telinga bagian dalam (otitis interna), disebut juga otitis media akut, infeksi saluran telinga bagian tengah biasanya terjadi karena bakteri atau infeksi virus yang menyerang bagian tengah saluran telinga.
  4. Otosklerosis, adalah kelainan pada tulang sanggurdi yang ditandai dengan gejala tinitus (dering pada telinga) ketika masih kecil.
  5. Presbikusis,merupakan kerusakan pada sel saraf telinga yang terjadi pada usia manula.
  6. Rusaknya reseptor pendengaran pada telinga bagian dalam akibat dari mendengarkan suara yang terlalu keras.
  7. Kerusakan gendang telinga, misalnya gendang telinga pecah akibat kapasitas suara yang didengar terlalu kuat atau gendang telinga tertembus benda tajam.
  8. Penumpukan kotoran telinga atau earwaxpenumpukan kotoran telinga dapat menyebabkan penyumbatan pada saluran telinga.

D. Gangguan dan Penyakit Lidah

Gangguan pada lidah dapat disebabkan oleh makan atau minum sesuatu yang bersuhu terlalu tinggi dan terlalu rendah, sehingga lidah mati rasa. Akan tetapi gangguan mati rasa ini hanya bersifat sementara.

Gangguan yang bersifat tetap, misalnya terjadi padan orang yang mengalami trauma pada bagian tertentu otak. Pada lidah juga sering terjadi iritasi, yang disebabkan karena luka atau kekurangan vitamin C.

Berikut ini adalah beberapa gangguan dan penyakit pada lidah.

1. Lidah berubah warna

Perubahan warna pada lidah menjadi pink terang sering disebabkan kekurangan asam folat, vitamin B12, atau zat besi.

Lidah menjadi warna putih biasanya disebabkan oleh kebiasaan minum alkohol, merokok, infeksi jamur, dan sisa-sisa makanan yang tidak dibersihkan.

Lidah berwarna merah berhubungan dengan kekurangan vitamin, penyakit Kawasaki, atau demam scarlet yang disebabkan oleh infeksi bakteri.

2. Lidah berubah tekstur

Tekstur lidah menjadi berbulu atau tampak berbulu hitam, kemungkinan disebabkan oleh antibiotik atau kebiasaan merokok, sering mengonsumsi kopi, menggunakan obat kumur, serta paparan radiasi di kepala atau leher.

3. Lidah nyeri

Nyeri lidah paling sering disebabkan karena sariawan. Penyebabnya karena alergi makanan, kekurangan vitamin dan zat besi, penggunaan pasta gigi dan obat kumur berbahan keras, atau tidak sengaja menggigit lidah saat makan atau bicara. Nyeri juga bisa disebabkan oleh peradangan papilla alias kuncup pengecap.

4. Lidah bengkak

Lidah bengkak bisa merupakan gejala dari kondisi medis, seperti sindrom Down, kanker lidah, leukimia, radang tenggorokan, anemia, dan kelenjar tiroid yang terlalu aktif. Apabia pembengkakan lidah terjadi secara tiba-tiba, penyebabnya mungkin adalah alergi.

E. Gangguan dan Penyakit Kulit

Berikut ini adalah beberapa gangguan pada kulit.

1. Jerawat

Jerawat adalah salah satu masalah kulit yang disebabkan karena ada gangguan pada bagian kelenjar kulit.

Kelenjar kulit terhubung secara langsung dengan bagian pori-pori kulit. Kelenjar minyak yang ada di bagian bawah kulit dapat terkena infeksi dari kotoran luar yang masuk lewat pori-pori, sel-sel kulit mati dan bakteri atau virus, sehingga terbentuk jerawat.

2. Panu

Panu termasuk dalam penyakit kulit yang disebabkan karena infeksi jamur yang menyerang pada bagian pigmen kulit.

Infeksi panu yang terjadi menyebabkan bercak putih yang akan terlihat karena berbeda dengan bagian kulit yang lain.

3. Eksim

Eksim ditunjukkan dengan benjolan kecil yang akan berkembang menjadi ruam. Pada tahap yang lebih parah, maka eksim bisa menyebabkan infeksi.

Pemicu eksim biasanya karena reaksi alergi, tekanan, dan juga stress. Infeksi bakteri tertentu akan menyebabkan eksim menjadi bertambah parah.

4. Herpes

Herpes adalah jenis penyakit kulit yang disebabkan oleh virus varisella. Herpes dapat menyebabkan kulit menjadi ruam dan terasa perih serta gatal.

Penyakit ini sangat mengganggu, karena biasanya menyebabkan sakit dan demam pada penderitanya.

5. Kudis

Kudis adalah jenis penyakit kulit yang disebabkan karena serangan tungau atau kutu kecil. Jenis kutu kecil ini sering disebut dengan istilah sarcoptes scabiei. Penyakit kudis akan menyebabkan bercak kemerahan pada bagian kulit tertentu.

Senin, 22 Maret 2021

PENYIMPANAN ALKES

 

  1. Prinsip-Prinsip yang perlu diperhatikan dalam Penyimpanan Alat dan Bahan.

  1. Aman.

Alat disimpan supaya aman dari pencuri dan kerusakan, atas dasar alat yang mudah dibawa dan mahal harganya seperti stop watch perlu disimpan pada lemari terkunci. Aman juga berarti tidak menimbulkan akibat rusaknya alat dan bahan sehingga fungsinya berkurang.

  1. Mudah di Cari.

Untuk memudahkan mencari letak masing–masing alat dan bahan, perlu diberi tanda yaitu dengan menggunakan label pada setiap tempat penyimpanan alat (lemari, rak atau laci).

  1. Mudah di Ambil.

Penyimpanan alat diperlukan ruang penyimpanan dan perlengkapan seperti lemari, rak dan laci yang ukurannya disesuaikan dengan luas ruangan yang tersedia.


  1. Penyimpanan Alat Kesehatan 

  1. Penyimpanan alat yang terbuat dari logam

Alat-alat yang terbuat dari logam misalnya besi, tembaga maupun aluminium sering terjadi karatan. Untuk menghidari terjadinya hal demikian maka alat-alat tersebut harus disimpan pada tempat yang mempunyai temperatur tinggi (±37°C) dan lingkungan yang kering kalau perlu memakai bahan silikon sebagai penyerap uap air.

Sebelum disimpan alat tersebut harus bebas dari kotoran debu maupun air yang melekat, kemudian diolesi dengan minyak oli, minyak rem atau parafin cair(DepKes R I.2009).


  1. Penyimpanan alat yang terbuat dari gelas

Bahan gelas banyak dipakai dalam laboratorium medis. Ada beberapa keuntungan maupun kelemahan dari bahan baku gelas tersebut.

Keuntungannya:

Bahan gelas tahan terhadap reaksi kimia, terutama bahan gelas pyrex, tahan terhadap perubahan temperatur yang mendadak, koefisien mulai yang kecil dan tembus cahaya yang besar.



Kelemahan:

Mudah pecah terhadap tekanan mekanik, dan mudah tumbuh jamur sehingga menggangu daya tembus sinar, kadang-kadang dengan menggunakan kain katun untuk membersihkan saja mudah timbul goresan.

Dengan memperhatikan keuntungan dan kelemahan dari bahan gelas, maka dalam segi perawatan maupun memperlakukan alat-alat gelas harus perhatikan:

  1. Penyimpanan pada ruangan yang suhunya berkisar 270C-370C dan diberi tambahan lampu

  2. Ruang tempat penyimpanan diberikan silikon sebagai zat higroskopis

  3. Gunakan alkohol, aceton, kapas, sikat halus dan pompa angin untuk membersihkan lensa sampai merusak lapisan lensa

  4. Pada waktu memanaskan tabung reaksi hendaknya ditempatkan diatas kawat kasa, atau boleh melakukan pemanasan secara langsung asalkan bahan gelas terbuat dari pyrex

  5. Gelas yang akan direbus hendaknya jangan dimasukkan langsung kedalam air yang sedang mendidih melainkan gelas dimasukkan kedalam air dingin kemudian dipanaskan secara perlahan-lahan. Sebaliknya untuk pendingin mendadak tidak diperkenangkan

  6. Membersihkan bahan/kotoran dari gelas sebaiknya segera setelah dipakai dapat menggunakan:

  1. Air yang bersih

  2. Detergent : dapat menghilangkan lemak dan tidak membawa efek perubahan fisik.

  3. Larutan:    

  1. Kalium dishromat  10 gram

  2. Asam belerang       25 ml

  3. Aquadest                75 ml

Kadang-kadang memerlukan perendam sampai beberapa jam, kemudian dibilas dengan air bersih, dikeringkan dengan udara panas lalu disimpan ditempat yang kering (DepKes R I.2009).


  1. Penyimpanan alat kesehatan dari karet.

Sarung tangan dari karet/hand schoen mudah sekali meleleh atau melengket apabila disimpan terlalu lama. Untuk menghidari kerusakan dari bahan karet, sebelum melakukan penyimpanan mula-mula bersihkan kotoran darah atau cairan obat dengan cara mencuci dengan sabun kemudian dikeringkan dengan menjemur dibawah sinar matahari atau hembusan udara hangat. Setelah itu taburi talk pada seluruh permukaan karet (Hartini,Yustina Sri dan Sulasmono.2006).





  1. Penyimpanan Alat Kesehatan dari Kain.

Diusahakan di simpan pada tempat suhu yang kering dan usahakan jauhkan dari jangkauan  mikroorganisme (Hartini,Yustina Sri dan Sulasmono.2006).


  1. Hal yang perlu diperhatikan

Penyimpanan alat dan bahan selain berdasar hal – hal di atas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu:

  1. Mikroskop disimpan dalam lemari terpisah dengan zat higroskopis dan dipasang lampu yang selalu menyala untuk menjaga agar udara tetap kering dan mencegah tumbuhnya jamur.

  2. Alat berbentuk set, penyimpanannya harus dalam bentuk set yang tidak terpasang.

  3. Ada alat yang harus disimpan berdiri, misalnya higrometer, neraca lengan dan beaker glass.

  4. Alat yang memiliki bobot relatif berat, disimpan pada tempat yang tingginya tidak melebihi tinggi bahu.

  5. Penyimpanan zat kimia harus diberi label dengan jelas dan disusun menurut abjad.

  6. Zat kimia beracun harus disimpan dalam lemari terpisah dan terkunci, zat kimia yang mudah menguap harus disimpan di ruangan terpisah dengan ventilasi yang baik.


Penyimpanan alat perlu memperhatikan frekuensi pemakaian alat. Apabila alat itu sering dipakai maka alat tersebut disimpan pada tempat yang mudah diambil. Alat–alat yang boleh diambil oleh siswa dengan sepengetahuan guru pembimbing, hendaknya diletakkan pada meja demonstrasi atau di lemari di bawah meja keramik yang menempel di dinding. Contoh alat yangdapat diletakkan di meja demonstrasi adalah: kaki tiga, asbes dengan kasa dan tabung reaksi.

Penyimpanan dan pemeliharaan alat / bahan harus memperhitungkan sumber kerusakan alat dan bahan. Sumber kerusakan alat dan bahan akibat lingkungan meliputi hal – hal berikut:

  1. Udara.

Udara mengandung oksigen dan uap air (memilki kelembaban). Kandungan ini memungkinkan alat dari besi menjadi berkarat dan membuat kusam logam lainnya seperti tembaga dan kuningan. Usaha untuk menghindarkan barang tersebut terkena udara bebas seprti dengan cara mengecat, memoles, memvernis serta melapisi dengan khrom atau nikel. Kontak dengan udara bebas dapat menyebabkan bahan kimia bereaksi. Akibat reaksi bahan kimia dengan udara bebas seperti timbulnya zat baru, terjadinya endapan, gas dan panas. Dampaknya bahan kimia tersebut tidak berfungsi lagi serta dapat menimbulkan kecelakaan dan keracunan.





  1. Air Asam-Basa

Alat laboratorium sebaiknya disimpan dalam keadaan kering dan bersih, jauh dari air, asam dan basa. Senyawa air, asam dan basa dapat menyebabkan kerusakan alat seperti berkarat, korosif dan berubah fungsinya. Bahan kimia yang bereaksi dengan zat kimia lainnya menyebabkan bahan tersebut tidak berfungsi lagi dan menimbulkan zat baru, gas, endapan, panas serta kemungkinan terjadinya ledakan.


  1. Suhu.

Suhu yang tinggi atau rendah dapat mengakibatkan :alat memuai atau mengkerut, memacu terjadinya oksidasi, merusak cat serta mengganggu fungsi alat elektronika.

  1. Mekanis.

Sebaiknya hindarkan alat dan bahan dari benturan, tarikan dan tekanan yang besar. Gangguan mekanis dapat menyebabkan terjadinya kerusakan alat / bahan.

  1. Cahaya.

Secara umum alat dan bahan kimia sebaiknya dihindarkan dari sengatan matahari secara langsung. Penyimpanan bagi alat dan bahan yang dapat rusak jika terkena cahaya matahari langsung, sebaiknya disimpan dalam lemari tertutup. Bahan kimianya sebaiknya disimpan dalam botol yang berwarna gelap.

  1. Api.

Komponen yang menjadi penyebab kebakaran ada tiga, disebut sebagai segitiga api. Komponen tersebut yaitu adanya bahan bakar, adanya panas yang cukup tinggi, dan adanya oksigen. Oleh karenanya penyimpanan alat dan bahan laboratorium harus memperhatikan komponen yang dapat menimbulkan kebakaran tersebut


Jumat, 12 Maret 2021

Perawatan Keluarga (Materi PMR)

 Pengertian

Perawatan keluarga adalah perawatan yang dilakukan oleh anggota keluarga itu sendiri dengan menggunakan alat-alat yang ada di lingkungan keluarga itu dan sederhana tetapi hasilnya memuaskan. 
Dasar-dasar Perawatan Keluarga
  • Maksud  Perawatan  Keluargaa.   Karena RS penuh / jumlah RS kurang, serta tenaga Dokter dan perawat kurang.
    b.   Karena pengaruh keadaan ekonomi, tidak semua orang mampu membayar ongkos
          Rumah Sakit.
    c.   Karena faktor kepercayaan / keinginan si penderita yang tidak menginginkan
          untuk  dirawat diluar.
  • Tujuan Perawatan Keluarga.   Meringankan keadaan si korban.
    b.   Mempercepat upaya penyembuhan.
    c.   Memperkecil penularan.
    d.   Mendidik anggota keluarga untuk menghemat.
    e.   Membiasakan hidup sehat.
  • Fungsi Perawatan Keluarga.   Pengamatan terhadap penderita.
    b.   Tindakan perawatan
    c.   Tindakan pengobatan
    d.   Pencatatan.
    e.   Penyuluhan kesehatan.
  • Sasaran Perawatan Keluarga.   Penderita yang layak dirawat dirumah.
    b.   Bayi dan anak yang tidak terawat.
  • Alasan Perawatan Keluarga.   Secara psikologis orang yang sakit lebih senang dirawat di rumah sendiri.
    b.   Dapat menghemat waktu dan biaya.
    c.   Dirawat oleh anggota keluarga sendiri dapat mempercepat penyembuhan.
  • Pelaku Perawatan Keluarga.   Siapa saja asal mendapat pendidikan sebelumnya.
    b.   Mereka yang mampu menyelenggarakan.
  • Sifat pelaku Perawatan Keluarga.   Mempunyai rasa kasih sayang.
    b.   Adanya suatu keinginan untuk melakukan perawatan keluarga.
    c.   Mengutamakan kepentingan si penderita.
    d.   Sehat jasmani dan rohani.
    e.   Bertanggungjawab
    f.   Terbuka
Langkah-langkah Persiapan Perawatan Keluarga.

1.  Persiapan
a.    Mencuci tangan
. Tujuannya :
       Setiap pelaku PK sebelum dan sesudah melakukan kegiatan, pelaku PK harus mencuci
       tangan.
       Tujuannya yaitu :
  • Membersihkan tangan dari segala kotoran
  • Menjaga kesehatan pelaku
  • Mencegah penularan penyakit
  • Melatih suatu kebiasaan yang baik
       Cara Pelaksanaan :
  • Lepaskan seluruh perhiasan di tangan seperti arloji, cincin, dan gelang
  • Buka kran/siram air dari ketel
  • Gosok putaran kran dengan sabun kemudian dibilas
  • Basahi tangan sampai siku dan beri sabun hingga berbusa. Bila perlu dengan sikat tangan mulai dari telapak tangan, sela-sela jari, kuku, punggung tangan, dan lengan sampai siku
  • Sabun disiram air sebelum diletakkan kembali pada tempatnya
  • Bilas tangan sampai bersih
  • Tutup kran dan keringkan tangan dengan handuk
  • Selesai
b.   Memakai celemek, fungsinya :
         Celemek adalah bentuk pakaian untuk menutup pakaian pelaku PK pada waktu merawat
         orang sakit.
         Tujuan : Melindungi pakaian pelaku dari kotoran dan mencegah penularan penyakit.
         Cara menggunakan celemek:
  • Setelah mencuci tangan pegang tali penggantung celemek
  • Masukkan melalui kepala
  • Kedua tali diikat pada bagian belakang dengan ikatan yang mudah dilepaskan
         Cara menggantung celemek setelah dipakai:
  • Apabila di dalam ruangan orang sakit : bagian luar celemek terlihat dari luar
  • Apabila di luar ruangan orang sakit : bagian dalam celemek terlihat dari luar
    - Untuk menghindari penularan.
    - Melindungi pakaian.
c.   Urutan tindakan Perawatan Keluarga
      a.   Persiapan pelaku.
      b.   Mempersiapkan alat-alat yang dibutuhkan.
      c.   Persiapan penderita.
      d.   Pelaksanaan.
      e.   Selesai.
Hal-hal yang dilakukan dalam Perawatan Keluarga :
      a.   Membersihkan tempat tidur si penderita.
      b.   Penggantian dan pemasangan sprai.
      c.   Pemeriksaan denyut nadi, suhu tubuh dengan thermometer.
      d.   Pemberian makan dan minum.
      e.   Pemberian obat.
Alat-alat yang diperlukan :
      a.   Alat-alat untuk tidur
      b.   Celemek
      c.   Thermometer
      d.   Obat-obatan
      e.   Alat mandi
      f.   Pispot
      g.   Pasu najis
      h.   Alat kompres

Dasar Perawatan Keluarga
a. Mengapa Diperlukan PK?
  1. Pada umumnya mereka yang sakit senang bila ia berada di rumah di tangah keluarga daripada berbaring di RS dan dirawat oleh orang yang belum dikenal.
  2. Demi untuk menghemat waktu, tenaga dan biaya transportasi.
  3. Dirawat oleh orang lain di sebuah kamar dapat mempengaruhi keadaan si sakit sehingga mempengaruhi penyembuhannya.
  4. Untuk meningkatkan kemandirian orang sakit dan keluargnya secara optimal.
 b. Siapa Yang Melakukan PK?
  1. Pada dasarnya siapa saja dapat melakukan tugas PK asal sebelumnya diberi pengetahuan (berupa pendidikan PK) dan dilatih secukupnya.
  2. Sejak tahun 1950 PMI telah menyelenggarakan pendidikan latihan PK.
c. Sifat pribadi yang tepat untuk menerima pendidikan PK adalah:
  1. Mempunyai sifat kasih sayang yang tulus.
  2. Menaruh minat dan memiliki rasa kemanusiaan yang dalam.
  3. Ingin belajar dan berbakat dalam bidang perawatan.
d. Sikap dan Perilaku yang perlu dimiliki oleh pelaku PK
  1. Berperikemanusiaan yang jelas tampak dan sikap kesediaan untuk menolong yang akan memberi kesan tetang kepribadiannya.
  2. Bertanggungjawab, sifat ini harus tampak dari segala tindakan pelaku pk yang senantiasa berpedoman pada apa yang ia telah pelajari antara lain tidak akan melakukan tindakan yang merugikan si sakit maupun angggota keluraga yang lain.
  3. Selalu mengutamakan kebutuhan si sakit.
  4. Selalu bersikap terbuka terhadap tindakan yang akan dilakukan terhadap si sakit sera menerangkan/mendidik kelurga lain misalnya bagaimana hidup sehat
d. Prinsip kerja seorang pelaku PK
  1. Sikap yang baik seorang pelaku PK penting untuk memberi kesan baik tentang kepribadian.
  2. Menunjukkan memampuan kerja denga tenang, cepat dan tanpa ragu-ragu.
  3. Mempunyai sikap yang ramah, selalu tersenyum, bersedia untuk mendengar dan mampu untuk menenangkan si sakit.
  4. Berpirlah sebelum bertindak/bekerja.
  5. Jagalah kebersihan lingkungan dan ruangan si sakit, tetapi perlu juga memperhatikan diri sendiri.
  6. Catat selalu hasil pengamatan dan perawatan yang telah diberi secara pendek, lengkap dan jelas.
  7. Usahakan agar tidak menambah penderitaan si sakit.
  8. Jangan bertindak menyimpang dari peraturan dan perintah dokter/petugas kesehatan dan jangan keliru memberi obat.
  9. Jika dianggap perlu untuk merujuk si sakit ke puskesmas/RS diperlukan persiapan antara lain pakaian bersih dan alat toilet si sakit dan kemungkinan harus dihubungi petugas yang mengurus angkutan/ambulans.
  10. Bila ada sesuatu yang perlu dirahasiakan janganlah disampaikan langsung si sakit.
e. Peralatan yang diperlukan
  1. Perawatan yang dilakukan di rumah membutuhkan peralatan. Kita tidak boleh memaksakan untuk membeli peralatan seperti yang ada di RS. Dengan peralatan yang ada dan sederhana dapatlah kita menolong si sakit dengan cukup memuaskan.
  2. Perlengkapan kamar tidur.
  3. Tempat penyimpanan obat-obatan.
f. Penerapan
  1. Sebagai individu : Perlu mempersiapkan diri agar mampu dan mau melakukan PK untuk siapa saja yang membutuhkan.
  2. Sebagai anggota masyarakat : Menjelaskan kepada anggota masyarakat pentingnya PK. Dapat juga mengordinir disediakannya peralatan PK agar masyarakat sekitar dapat menggunakan secara bersama.
  3. Di lingkungan organisasi PMI : Turut berpartisipasi pada Tim PK PMI dalam kegiatan pelayanan sosialnya PMI misalnya untuk panti jompo.
  4. Pada saat bencana : Turut berpartisipasi pada Tim PK PMI dalam kegiatan di tempat penampungan sementara/pengungsian.
Kesehatan Dasar Keluarga
a. Kebersihan Diri
  1. Kebersihan diri merupakan factor penting dalam usaha pemeliharaan kesehatan, agar kita selalu dapat hidup sehat.
  2. Menjaga kebersihan diri berarti juga menjaga kesehatan umum.
  3. Cara menjaga kebersihan diri :
  • Mandi setiap hari secara teratur
  • Tangan harus dicuci sebelum menyiapkan makanan dan minuman, sebelum makan, sesudah buang air besar atau buang air kecil.
  • Kuku digunting pendek dan bersih.
  • Kaki perlu dirawat dengan baik dan teratur.
  • Sikat gigi setiap habis makan.
  • Pakaian perlu diganti setiap habis mandi dengan pakaian yang sudah dicuci bersih dengan sabun, dijemur dan disetrika.
b. Kebersihan lingkungan
  1. Kebersihan lingkungan adalah suatu usaha menjaga lingkungan bersih, dan sehat sehingga dapat mencegah penularan penyakit
  2. Penularan penyakit terjadi bila ada hubungan anatara 3 mata rantai, yaitu: sumber penyakit, perantara penyakit dan orang yang lemah/peka terhadap serangan penyakit.
  3. Usaha meningkatkan kebersihan lingkungan dapat dilakukan bersama masyarakat dengan mengusahakan untuk memutuskan hubungan mata rantai tersebut agar tidak akan terjadi penularan.
  4. Kebersihan lingkungan dapat dicapai dengan:
  • Rumah harus sehat dan terpelihara.
  • Hewan peliharaan tidak berkeliaran di dalam rumah atau ditempat anak bermain terutama hewan yang berkutu
  • Sediakan tempat sampah yang tertutup dan buang sampah ditempatnya
  • Jaga kebersihan sumber air, MCK dan lingkungannya
  • Hindari genangan air/air hujan di sekitar rumah
  • Air limbah usahakan lancer alirannya.
Pelaksanaan Perawatan
Merawat orang sakit di rumah
a. Mencuci Tangan
1. Suatu keharusan bagi setiap perawat termasuk pelaku PK yang dilakukan:
  • Sebelum dan sesudah merawat orang sakit
  • Sebelum menyiapkan makanan dan minuman
  • Sesudah memegang barang-barang kotor dan memegang binatang
  • Sesudah buang air besar (b.a.b) atau buang air kecil (b.a.k)
2. Tujuan
  • Membersihkan tangan dari segala kotoran
  • Menjaga kesehatan pelaku
  • Mencegah penularan penyakit
  • Melatih suatu kebiasaan yang baik
b. Memakai Celemek
  1. Celemek adalah bentuk pakaian untuk menutup pakaian pelaku PK waktu menolong merawat si sakit, tanpa mengganggu gerak si pelaku.
  2. Tujuan:
  • Melindungi pakaian pelaku dari kotoran
  • Mencegah penularan penyakit
Mengukur Auhu
a. Mengukur suhu
    Alat untuk mengukur suhu disebut termometer. Menurut skalanya ada 2 macam, yaitu: termometer celcius (lazim dipakai di Indonesia) dan termometer Fahrenheit (lazim dipakai di Amerika)
1. Bagian dari termometer
  • Tabung gas panjang, berbentuk persegi gepeng bundar atau persegi
  • Pipa gelas tempat turun naik air raksa
  • Skala yang menunjukkan derajat suhu
  • Reservoir tempat air raksa
2. Tujuan
  • Mengetahui suhu badan si sakit
  • Mengetahui adanya kelainan pada tubuh
  • Mengetahui perkembangan penyakit
  • Sebagai salah satu penyokong dalam membantu dokter dalam menentukan diagnosa
3. Tempat dan cara pengukuran suhu
    
    3.1. Ketiak
  • Cuci tangan
  • Siapkan termometer
  • Beritahu si sakit
  • Keringkan ketiak dengan handuk/waslap
  • Tempatkan pangkal termometer di tengah ketiak di minta si sakit menjepitnya 10-15 menit, tangan yang lain membantu menekan bagian lengan yang menjepit termometer
  • Setelah 10-15 menit termometer dikeluarkan, dibaca sampai di mana naiknya air raksa dan dicatat.
  • Termometer dibersihkan, lalu disimpan
  • Cuci tangan
3.2. Dubur
  • Pengukuran suhu di dubur dilakukan:
- Pada bayi, anak, orang sakit parah
- Pada keadaan tertentu, misalnya:patah lengan,bagian ketiak di balut
- Atas petunjuk dokter
  • Pengukuran suhu di dibibir tidak boleh dilakukan pada:
- Orang sakit yang luka pada daerah dubur
- Orang sakit yang berpenyakit kelamin
  • Pelaksanaan :
  1. Cuci tangan
  2. Siapkan termometer dan minyak kelapa/vaselin
  3. Beritahu si sakit
  4. Miringkan si sakit,bebaskan pakaian yang menutupi bokong
  5. Kaki yang sebelah atas ditekuk kearah perut
  6. Oleskan pangkal termometer dengan minyak kela[a/vaselin untuk memudahkan memasukkan ke dalam anus. Hati-hati bila ada wasir
  7. Pisahkan bokong si sakit agar dubur terlihat, lalu pangkal termometer di masukkan
  8. Pegang termometer selama berada dalam anus selama 3 menit
  9. Keluarka termometer, baca dan catat di buku catatan harian
  10. Termometer dibersihkan lalu disimpan
  11. Cuci tangan
3.3. Mulut
  • Dilakukan pada orang sakit bila pada kedua tempat di atas tidak memungkinkan pemasangan thermometer.
  • Pengukuran suhu di mulut tidak boleh dilakukan pada:
- Orang sakit yang tidak sadar atau gelisah
- Orang yang berpenyakit milit,batuk pilek atau sesak nafas
- Bayi/anak yang masih kecil
  • Pelaksanaan :
  1. Cuci tangan
  2. Siapkan termometer
  3. Beritahu si sakit
  4. Si sakit diminta untuk membuka mulut
  5. Letakkan pangkal termometer di bawah lidah agak ke samping, di minta si sakit untuk menutup mulut dan bernafas melalui hidung
  6. Setelah 3 menit keluarkan termometer, baca dan catat di buku catatan harian
  7. Termometer dibersihkan lalu disimpan
  8. Cuci tangan
Menghitung Denyut Nadi
Menghitung denyut nadi adalah sama penting dengan mengukur suhu. Denyut nadi menjadi lebih cepat bila berada dalam ketakutan, gelisah, demam dan sesudah gerak badan.
a. Denyut nadi dapat diraba pada :
  1. Leher
  2. Bagian muka telinga
  3. Dekat ujung tulang selangkang
  4. Sisi dalam dari lengan atas
  5. Lipatan paha
  6. Pergelangan tangan
  7. Denyut bayi sampai umur 1 tahun dapat diraba di ubun-ubun
b. Tujuan mengukur denyut nadi
  1. Mengetahui keadaan umum si sakit
  2. Mengetahui keadaan jantung
  3. Mengikuti perkembangan jalannya penyakit
  4. Membantu menentukan diagnosa
c. Jumlah denyut nadi rata-rata permenit
  1. Bayi baru lahir  : + 130 - 160
  2. Bayi : + 110 - 130
  3. Anak umur 4-7 tahun  : + 80 - 120
  4. Anak umur lebih 7 tahun  : + 80 - 90
  5. Pria dewasa  : + 60 - 80
  6. Wanita lebih banyak antara 10-15 denyutan.
Umumnya kecepatan denyut nadi meningkat bila suhu badan meningkat. Tiap kenaikan suhu 1 derajat C, denyut nadi akan bertambah 10-15 denyutan.
d. Pelaksanaan
  1. Cuci tangan
  2. Beritahu si sakit
  3. Si sakit duduk atau berbaring, lengan dikendurkan dengan ibu jari di sebelah atas. Cari nadinya dengan 3 jari si pelaku dipergelangan tangan si sakit kea rah ibu jari si sakit diantara urat-urat
  4. Hitung denyut nadi selama ½ menit, hasilnya dikalikan 2 dan dicatat dalam buku catatan harian
Menghitung Pernafasan
 Satu kali pernafasan adalah 1 kali menarik nafas dan 1 kali mengeluarkan nafas
a. Tujuan menghitung pernafasan :
  1. Membantu menentukan diagnosa
  2. Mengetahui keadaan umum si sakit
b. Pelaksanaan
  1. Dihitung segera setelah menghitung denyut nadi. Jangan diberitahu si sakit akan dihitung pernafasannya dengan pergelangan si sakit tetap dipegang seolah-olah masih menghitung denyut nadi
  2. Diperhatikan apakah kedua sisi dada bergerak seirama, apakah terlihat adanya kesukaran dalam bernafas
  3. Hitung pernafasan selama ½ menit dan hasilnya dikali 2, catat dalam buku catatan harian
c. Jumlah pernafasan permenit
  1. Bayi baru lahir  : 30-60
  2. Anak umur 1 tahun  : 25-30
  3. Anak umur 2 tahun  : 20-25
  4. Anak umur 15 tahun  : 18 -20
  5. Pria dewasa  : 16-18
  6. Wanita dewasa  : 18-20
d . Perbandingan jumlah pernafasan dengan denyut nadi adalah 1: 4
7. Penataan Tempat Tidur Orang Sakit
a. Maksud dan tujuan
  1. Mempercepat penyembuhan
  2. Mencegah penyakit bertambah parah
  3. Memperkecil bahaya penularan
b. Syarat tempat tidur si sakit
  1. Panjang tempat tidur harus sepadan dengan panjang badan si sakit
  2. Ditempatkan pada bagian kamar yang tak banyak kena hembusan angin
  3. Terhindar dari cahaya yang menyilaukan, bau yang merangsang dan keributan
  4. Barang tenun (seprei,sarung bantal dsab) hendaknya diganti paling sedikit 2 kali seminggu, kecuali bila basah atau kotor maka harus segera diganti.
c. Peralatan
  1. Tempat tidur + kasur + bantal
  2. Kain seprei + sarung bantal
  3. Kain perlak + kain alas perlak
  4. Selimut
Perawatan Sehari-hari di Rumah
1. Menolong si sakit B.A.B / B.A.K di atas tempat tidur
Di Indonesia biasanya orang sakit selama masih dapat berjalan akan berusaha untuk pergi ke kamar kecil untuk B.A.B / B.A.K. sebenarnya hal ini tidak dibenarkan karena si sakit membuang tenaga yang ia perlukan untuk melawan penyakitnya. Perlu diketahui, bahwa antara orang sakit pria dan wanita cara menolongnya berbeda.
  • Wanita : alat kelamin bagian luar dan dalam dihubungkan oleh sebuah saluran yang sangat pendek jaraknya, sehingga sangat mudah terkena infeksi. Untuk b.a.b dan b.a.k menggunakan sebuah tempat yang disebut pasu najis.
  • Pria : untuk b.a.b dan b.a.k dapat hanya menggunakan sebuah labuh kemih, semacam botol.
a. Peralatan
  1. Pasu najis beserta tutupnya
  2. Labu kemih untuk pria
  3. Bamboo/botol berisi air
  4. Kertas toilet
  5. Alas bokong (perlak beserta alasnya)
  6. Bel
  7. Bangku kecil untuk pasu najis
  8. Handuk, sabun, bedak
  9. Air untuk mencuci bokong
2Menyeka / memandikan si sakit di tempat tidur
a. Tujuan
  1. Memberikan perasaan enak dan segar kepada si sakit
  2. Membersihkan kotoran yang melekat pada tubuhnya
  3. Membantu memperlancar peredaran darah
  4. Melatih otot-otot secara aktif dan pasif
  5. Mencegah terjadinya lecet
b. Peralatan
  1. 2 baskom (untuk menyabun + membilas)
  2. Air hangat dalam cerek dan air dingin dalam ember + gayung
  3. 2 waslap + 2 handuk besar
  4. 1 ember yang agak besar untuk menampung air
  5. Sabun mandi dalam tempatnya, talk dan kamfer spiritus,alat bersolek, alat cukur dan sisir
  6. Pakaian si sakit yang bersih
  7. Tempat/keranjang untuk pakaian kotor
  8. Bila perlu disediakan lbu kemih dan pasu najis, botol berisi air untuk cebok
3. Mencuci rambut si sakit di tempat tidur
a. Tujuan
  1. Memberikan perasaan segar dan senang kepada si sakit
  2. Menghilangkan kotoran yang melekat pada kepala si sakit
  3. Agar rambut tetap bersih, rapi dan terpelihara
b. Peralatan :
  1. Baki yang berisi sisir, 1 handuk, 1 waslap, shampo, alas(handuk + perlak
  2. Talak plastik yang dapat diganti dengan pelepah pisang/sebuah perlak yang digulung
  3. Ember berisi air hangat kuku, gayung bermulut lancip/kobokan
  4. Ember kosong
  5. Kain pel
  6. Cadangan air panas dalam cerek dan air dingin dalam ember
  7. Alat pengering rambut atau kipas
Merubah Posisi Tidur Orang Sakit
Seorang pelaku PK harus pandai menolong si sakit duduk , berbalik, merubah posisi tidurnya, mengangkatnya, menolong turun / naik tempat tidur dengan cara teratur.
Merubah sikap tidur si sakit adalah hal yang sangat penting, karena dapat menghindari :
  1. Bahaya lecet pada tubuh
  2. Ketegangan pada sendi-sendi
  3. Bahaya timbulnya cacat
  4. Memperbaiki peredaran darah
a. Meminggirkan atau menengahkan si sakit
Meminggirkan adalah menggeser si sakit dari tengah ke pinggir tempat tidur, sedangkan menengahkan adalah menggeser si sakit dari pinggir ke tengah tempat tidur.
b. Memiringkan si sakit
Memiringkan adalah membentuk posisi si sakit menjadiposisi miring.
Untuk memiringkan si sakit ke kanan, maka dilakukan dari arah saebaliknya/berlawanan. Begitu juga jika memiringkan posisi si sakit dari arah kiri.
c. Memindahkan si sakit
Bila sakit seorang dewasa yang gemuk, maka untuk mengangkatnya sebaiknya dilakukan berdua atau bertiga. Jangan coba melakukan sendiri, karena akibatnya mungkin si sakit merasa lebih sakit atau mungkn terjatuh.
d. Menolong si sakit turun dari tempat tidur, berjalan ke kursi dan kembali ke tempat tidur. Bila si sakit yang telah berbaring lama di atas tempat tidur mulai sembuh, maka dokter akan memerintahkan agar ia didudukkan. Mula-mula duduk dipinggir tempat tidur dengan kaki yang diayun-ayunkan, kemudia di atas kursi dalam ruangan si sakit. Peristiwa ini merupakan hal yang menggembirakan bagi si sakit, sehingga ia akan memberikan bantuaanya. Tetapi si sakit kecewa bila mulai duduk atau berjalan, merasa psing, kaki berat dan lemas. Oleh sebab itu, hal ini perlu dilakukan secara bertahap.
Peralatan
  1. Kursi yang memakai sandaran untuk lengan
  2. Bantal untuk menopang punggungnya
  3. Selimut
  4. Sandal yang ringan
  5. Bila perlu dingklik/kursi pendek dan bel
Penyajian Makanan dan Pemberian Obat
a. Penyajian makanan kepada pasien
Makanan berguna untuk memberikan zat-zat makanan yang cukup utnuk memelihara kesehatan, memulihkannya bila sakit, menghasilkan tenaga untuk melaksanakan berbagai kegiatan pertumbuhan dan perkembangan jiwa serta raga.
b. Cara menyajikan makanan
  1. Makanan disajikan di atas sebuah baki yang berisi alas supaya rapi. Di atas baki ada piring, sendok dan garpu, gelas yang berisi air minm dengan tatakan dan tutupnya dan serbet/lap.
  2. Cocokkan makanan sesuai dengan pantangan, rasa disesuaikan denga selera sejauh tidak bertentangan dengan pantangan.
  3. Makanan dijaga agar tidak dihinggapi lalat
  4. Piring jangan di isi penuh, karena dapat mengurangi selera makan si sakit.
  5. Sayuran dan lauk pauk diletakkan terpisah dalam piring kecil diatur secara baik dengan sedikit variasi.
  6. Sedapat mungkin makanan disajikan dalam keadaan hangat.
  7. Waktu makan ditentukan
  8. Agar menarik diberi jambangan kecil dan diberi bunga, kepada anak-anak diberi mainan.
  9. Bila dapat makan sendiri, digunakan meja kecil yang diberi alas
  10. Selesai makan, baki dan isinya diangkat dan dibawah keluar kamar.
c Beberapa jenis makanan khusus
  1. Makanan lunak untuk orang panas atau sakit mulut/tenggorokan
  2. Makanan untuk orang diare
  3. Makanan rendah lemak untuk orang sakit kuning
  4. Makanan rendah garam untuk orang sakit busung/uderma
  5. Makanan tanpa gula untuk orang sakit kencing manis
Pemberian Obat Kepada Orang sakit
a. Tujuan
  1. Mempercepat penyembuhan
  2. Mengurangi penderitaan
b. Bentuk obat
  1. Pil
  2. Tablet
  3. Kapsul
  4. Salep
  5. Obat cair
  6. Puyer/serbuk
c. Etiket/label
  • Biasanya diletakkan pada botol, dus, kantong plastik, dsb yang memberi petunjuk tentang pemakain obat
  • Warna etiket :
1) Etiket putih : merupakan obat dalam (untuk diminum)
2) Etiket biru : merupakan obat luar (tidak boleh ditelan)
3) Etiket hitam dan biasanya bergambar tengkorak: merupakan obat berbahaya (obat keras atau racun)
Perawatan Bayi
a. Kondisi bayi
  1. Nadi               : Kurang lebih 140 denyutan permenit pada waktu lahir
  2. Pernafasan    : Kurang lebih 33 – 40 gerakan permenit
  3. B.a.b             : 3 – 4 kali dalam waktu 24 jam pada bulan pertama. Warnanya hitam dan agak lengket, akan berubah menjadi lembek kekuning-kuningan bila si bayi mulai menetek
  4. Berat badan : Seorang bayi rata-rata mempunyai berat badan sekitar 3 kg waktu lahir. Dalam waktu beberapa hari ia akan kehilangan berat sampai 300 gram, tapi dalam waktu 2 minggu diharapkan berat badannya akan kembali seperti pada waktu dilahirkan.
  5. Kulit             : Pada waktu lahir, biasanya kulit bayi diliputi lemak putih kekuning-kuningan, warna kulitnya merah muda
  6. Penglihatan    : Baru mampu pada awal bulan ke 2
  7. Pendengaran : Baru mampu pada awal bulan ke 4
  8. Tidur            : Pada bulan pertama bayi tidur 18 – 22 jam sehari, kalau basah atau haus/lapar ia akan bangun dan menangis
b. Makanan
Makanan yang terbaik adalah ASI yang akan membuat bayi tumbuh baik dan sehat. Bila ASI kurang, maka dokter akan menambah dengan susu buatan yang cocok
c. Pemeriksaan
Pada usia 2 minggu bayi sebaiknya dibawa ke dokter atau bidan untuk diperiksa berat badannya dan apakah keadaan pusarnya baik. Juga untuk menerima nasihat mengenai pertumbuhan bayi, kekebalan dan makanan tambahan.
d. Memandikan Bayi
  • Di daerah panas bayi dimandikan pagi dan sore, di daerah pegunungan cukup sekali sehari misalnya sore saja. Sebaiknya waktu mandi ditentukan, agar tidak seorangpun dapat mengganggu pelaksanaan tugas ini.
  • Peralatan
  1. Satu buah handuk
  2. Dua buah waslap
  3. Ember / baskom berisi air hangat kuku
  4. Pakaian untuk ganti
  5. Sabun
  6. Bedak
  7. Alkohol, iodinepovidon dan kasa untuk komprse (untuk bayi yang belum lepas tali pusarnya)