2.1.1 Pengertian
Sindrom nefrotik adalah suatu kumpulan gejala gangguan
klinis, meliputi hal-hal: Proteinuria masif> 3,5 gr/hr, Hipoalbuminemia, Edema, Hiperlipidemia. Manifestasi dari keempat kondisi tersebut yang sangat merusak membran
kapiler glomelurus dan menyebabkan peningkatan permeabilitas glomerulus. (Muttaqin,
Sindrom nefrotik merupakan gangguan klinis ditandai
oleh peningkatan protein, penurunan albumin dalam darah (hipoalbuminemia),
edema dan serum kolesterol yang tinggi dan lipoprotein densitas rendah
(hiperlipidemia). (Brunner & Suddarth, 2001).
Nefrotik sindrom merupakan kelainan klinis yang
ditandai dengan proteinuria, hipoalbuminemia, edema, dan hiperkolesterolmia.
(Baughman, 2000).
2.1.2 Anatomi Fisiologi
Ginjal
merupakan salah satu bagian saluran kemih yang terletak retroperitoneal dengan
panjang lebih kurang 11-12 cm, disamping kiri kanan vertebra. Pada umumnya,
ginjal kanan lebih rendah dari ginjal kiri oleh karena adanya hepar dan lebih
dekat ke garis tengah tubuh. Batas atas ginjal kiri setinggi batas atas
vertebra thorakalis XII dan batas bawah ginjal setinggi batas bawah vertebra
lumbalis III.
Parenkim
ginjal terdiri atas korteks dan medula. Medula terdiri atas piramid-piramid yang
berjumlah kira-kira 8-18 buah, rata-rata 12 buah. Tiap-tiap piramid dipisahkan
oleh kolumna bertini. Dasar piramid ini ditutup oleh korteks, sedang puncaknya
(papilla marginalis) menonjol ke dalam kaliks minor. Beberapa kaliks minor
bersatu menjadi kaliks mayor yang berjumlah 2 atau 3 ditiap ginjal. Kaliks
mayor/minor ini bersatu menjadi pelvis renalis dan di pelvis renalis inilah
keluar ureter.
Korteks
sendiri terdiri atas glomeruli dan tubuli, sedangkan pada medula hanya terdapat
tubuli. Glomeruli dari tubuli ini akan membentuk Nefron. Satu unit nefron
terdiri dari glomerolus, tubulus proksimal, loop of henle, tubulus distal
(kadang-kadang dimasukkan pula duktus koligentes). Tiap ginjal mempunyai lebih
kurang 1,5-2 juta nefron berarti pula lebih kurang 1,5-2 juta glomeruli.
Ginjal
berfungsi sebagai salah satu alat ekskresi yang sangat penting melalui
ultrafiltrat yang terbentuk dalam glomerulus. Terbentuknya ultrafiltrat ini
sangat dipengaruhi oleh sirkulasi ginjal yang mendapat darah 20% dari seluruh
cardiac output.
1. Faal
glomerolus
Fungsi
terpenting dari glomerolus adalah membentuk ultrafiltrat yang dapat masuk ke
tubulus akibat tekanan hidrostatik kapiler yang lebih besar dibanding tekanan
hidrostatik intra kapiler dan tekanan koloid osmotik. Volume ultrafiltrat tiap
menit per luas permukaan tubuh disebut glomerula filtration rate (GFR). GFR
normal dewasa : 120 cc/menit/1,73 m2 (luas pemukaan tubuh). GFR normal umur
2-12 tahun : 30-90 cc/menit/luas permukaan tubuh anak.
2. Tubulus
Fungsi utama
dari tubulus adalah melakukan reabsorbsi dan sekresi dari zat-zat yang ada
dalam ultrafiltrat yang terbentuk di glomerolus.
a) Tubulus
Proksimal
Tubulus
proksimal merupakan bagian nefron yang paling banyak melakukan reabsorbsi yaitu
± 60-80 % dari ultrafiltrat yang terbentuk di glomerolus. Zat-zat yang
direabsorbsi adalah protein, asam amino dan glukosa yang direabsorbsi sempurna.
Begitu pula dengan elektrolit (Na, K, Cl, Bikarbonat), endogenus organic ion
(citrat, malat, asam karbonat), H2O dan urea. Zat-zat yang diekskresi asam dan
basa organik.
b) Loop
of henle
Loop of henle
yang terdiri atas decending thick limb, thin limb dan ascending thick limb itu
berfungsi untuk membuat cairan intratubuler lebih hipotonik.
c) Tubulus
distalis
Mengatur
keseimbangan asam basa dan keseimbangan elektrolit dengan cara reabsorbsi Na
dan H2O dan ekskresi Na, K, Amonium dan ion hidrogen.
d) Duktus koligentis
Mereabsorbsi dan
menyekresi kalium. Ekskresi aktif kalium dilakukan pada duktus koligen kortikal
dan dikendalikan oleh aldosteron.
2.1.3 Etiologi
Penyebab
nefrotik sindrom dibagi menjadi dua yaitu sebagai berikut.
1. Primer, berkaitan dengan berbagai penyakit ginjal, seperti berikut ini.
a. Glomerulonefritis
b. Nefrotik sindrom perubahan minimal
2.
Sekunder, akibat infeksi, penggunaan obat, dan
penyakitsistemik lain, seperti berikut ini.
a. Dibetes militus
b. Sistema lupus eritematosus
c. Amyloidosis
2.1.4 Patofisiologi
Glomeruli
adalah bagian dari ginjal yang berfungsi untuk menyaring darah. Pada nefrotik
sindrom, glomeruli mengalami kerusakan sehingga terjadi perubahan permeabilitas
karena inflamasi dan hialinisasi sehingga hilangnya plasma protein, terutama
albumin ke dalam urine. Meskipun hati mampu meningkatkan produksi albumin,
namun organ ini tidak mampu untuk terus mempertahankannya. Jika albumin terus
menerus hilang maka akan terjadi hipoalbuminemia.
Hilangnya
protein menyebabkan penurunan tekanan onkotik yang menyebabkan edema
generalisata akibat cairan yang berpindah dari sistem vaskuler ke dalam ruang
cairan ekstraseluler. Penurunan volume cairan vaskuler
menstimulli sistem renin-angio-tensin, yang mengakibatkan
disekresinya hormon anti diuretik (ADH) dan aldosteron menyebabkan
reabsorbsi natrium (Na) dan air sehingga mengalami peningkatan
dan akhirnya menambah volume intravaskuler.
Hilangnya
protein dalam serum menstimulasi sintesis LDL ( Low Density Lipoprotein) dalam
hati dan peningkatan kosentrasi lemak dalam darah (hiperlipidemia). Adanya
hiperlipidemia juga akibat dari meningkatnya produksi lipoprotein dalam hati
yang timbul oleh karena kompensasi hilangnya protein, dan lemak akan banyak
dalam urin ( lipiduria ). (Toto Suharyanto, 2009).
Menurunya
respon immun karena sel immun tertekan, kemungkinan disebabkan oleh karena
hipoalbuminemia, hiperlipidemia, atau defesiensi seng. Penyebab mencakup
glomerulosklerosis interkapiler, amiloidosis ginjal, penyakit lupus
erythematosus sistemik, dan trombosis vena renal
2.1.5
Manifestasi
Klinis
1. Tanda
paling umum adalah peningkatan cairan di dalam tubuh, diantaranya adalah:
a) Edema
periorbital, yang tampak pada pagi hari.
b) Pitting,
yaitu edema (penumpukan cairan) pada kaki bagian atas.
c) Penumpukan
cairan pada rongga pleura yang menyebabkan efusi pleura.
d) Penumpukan
cairan pada rongga peritoneal yang menyebabkan asites.
2. Hipertensi (jarang terjadi),
karena penurunan voulume intravaskuler yang mengakibatkan menurunnya tekanan
perfusi renal yang mengaktifkan sistem renin angiotensin yang akan meningkatkan
konstriksi pembuluh darah.
3. Beberapa pasien mungkin
mengalami dimana urin berbusa, akibat penumpukan tekanan permukaan akibat
proteinuria.
4. Hematuri
5. Oliguri (tidak umum terjadi
pada nefrotik sindrom), terjadi karena penurunan volume cairan vaskuler yang
menstimulli sistem renin-angio-tensin, yang mengakibatkan
disekresinya hormon anti diuretik (ADH)
6. Malaise
7. Sakit kepala
8. Mual, anoreksia
9. Irritabilitas
10. Keletihan
2.1.6
Pemeriksaan
Diagnostik
1. Laboratorium
a) Pemeriksaan sampel urin
Pemeriksaan
sampel urin menunjukkan adanya proteinuri (adanya protein di dalam urin).
b) Pemeriksaan darah
· Hipoalbuminemia dimana kadar albumin kurang dari 30
gram/liter.
· Hiperkolesterolemia (kadar kolesterol darah
meningkat), khususnya peningkatan Low Density Lipoprotein (LDL), yang secara
umum bersamaan dengan peningkatan VLDL.
· Pemeriksaan elektrolit, ureum dan kreatinin, yang
berguna untuk mengetahui fungsi ginjal
2. Pemeriksaan
lain
Pemeriksaan
lebih lanjut perlu dilakukan apabila penyebabnya belum diketahui secara jelas,
yaitu:
a. Biopsi ginjal (jarang
dilakukan pada anak-anak ).
b. Pemeriksaan penanda Auto-immune (ANA, ASOT, C3,
cryoglobulins, serum electrophoresis).
2.1.7
Komplikasi
1. Trombosis vena, akibat
kehilangan anti-thrombin 3, yang berfungsi untuk mencegah terjadinya trombosis
vena ini sering terjadi pada vena renalis. Tindakan yang dilakukan untuk
mengatasinya adalah dengan pemberian heparin.
2. Infeksi (seperti haemophilus
influenzae and streptococcus pneumonia), akibat kehilangan immunoglobulin.
3. Gagal ginjal akut akibat
hipovolemia. Disamping terjadinya penumpukan cairan di dalam jaringan, terjadi
juga kehilangan cairan di dalam intravaskuler.
4. Edema pulmonal, akibat
kebocoran cairan, kadang-kadang masuk kedalam paru-paru yang menyebabkan
hipoksia dan dispnea.
2.1.8
Penatalaksanaan
Medis
A. Suportif
1. Menjaga
pasien dalam keadaan tirah baring
2. Memonitor
dan mempertahankan volume cairan tubuh yang normal.
a. Memonitor
urin output
b. Pemeriksaan
tekanan darah secara berkala
c. Pembatasan
cairan, sampai 1 liter
3. Memonitor
fungsi ginjal
a. Lakukan
pemeriksaan elektrolit, ureum, dan kreatinin setiap hari.
b. Hitung
GFR/LFG setiap hari.
Klasifikasi atas
dasar derajat penyakit, dibuat atas dasar LFG, yang dihitung menggunakan rumus
Kockcroft-Gault sebagai berikut:
LFG
(ml/menit/1,73m2)=
*pada
perempuan dikali 0,85
|
Dasar Derajat
Penyakit
|
|
Derajat
|
Penjelasan
|
LFG
(ml/mn/1.73m2)
|
|
1
2
3
4
5
|
Kerusakan
ginjal dengan LFG normal atau↑
Kerusakan
ginjal dengan LFG ↓ ringan
Kerusakan
ginjal dengan LFG ↓ sedang
Kerusakan
ginjal dengan LFG ↓ berat
Gagal ginjal
|
≥ 90
60-89
30-58
15-29
< 15 atau
dialisis
|
(Ilmu Penyakit
Dalam Jilid I, 2006)
c. Mencegah komplikasi
d. Pemberian transfusi albumin
secara umum tidak dipergunakan Karena efek kehilangan hanya bersifat sementara.
B. Tindakan khusus
1. Pemberian diuretik
(Furosemid IV).
2. Pemberian imunosupresi untuk
mengatasi glomerulonefritis (steroids, cyclosporin)
3. Pembatasan glukosa darah,
apabila diabetes mellitus
4. Pemberian albumin-rendah
garam bila diperlukan
5. Pemberian ACE inhibitor:
untuk menurunkan tekanan darah.
6. Diet tinggi protein; cegah
makanan tinggi garam
7. Antibiotik profilaktik
spektrum luas untuk menurunkan resiko infeksi sampai anak mendapat pengurangan
dosis steroid secara bertahap
8. Irigasi mata/krim oftalmik
untuk mengatasi iritasi mata pada edema yang berat
2.2 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
2.1.1 Pengkajian
1. Identitas :
Umumnya 90 %
dijumpai pada kasus anak. Enam kasus pertahun setiap 100.000 anak terjadi
pada usia kurang dari 14 tahun. Rasio laki-laki dan perempuan yaitu 2 :
1. Pada daerah endemik malaria banyak mengalami komplikasi nefrotic syndrome.
2. Keluhan Utama
Keluhan utama
yang sering dikeluhkan adalah adanya bengkak pada wajah atau kaki.
3. Riwayat Penyakit Sekarang ( RPS )
Pada pengkajian riwayat kesehatan sekarang, perawat
menanyakan hal berikut: Kaji berapa lama keluhan
adanya perubahan urine output, kaji onset
keluhan bengkak pada wajah dan kaki apakah disertai dengan adanya keluhan
pusing dan cepat lelah, kaji adanya anoreksia pada klien, kaji adanya keluhan sakit kepala dan malaise
4. Riwayat Penyakit Dahulu (RPD)
Pada pengkajian riwayat kesehatan dahulu, perawat
perlu mengkaji apakah klien pernah menderita penyakit edema, apakah ada riwayat
dirawat dengan penyakit diabetes melitus dan penyakit hipertensi pada
masa sebelumnya. Penting dikaji tentang riwayat pemakaian obat-obatan masa lalu
adanya riwayat alergi terhadap jenis obat dan dokumentasikan.
5. Riwayat Pada pengkajian psikososiokultural
Adanya kelemahan fisik, wajah, dan kaki yang bengkak
akan memberikan dampak rasa cemas dan koping yang maladaptif pada klien
6. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum
klien lemah dan terlihat sakit berat dengan tingkat kesadaran biasanya
compos mentis. Pada TTV sering tidak didapatkan adanya perubahan.
a. Sistem pernapasan.
Frekuensi pernapasan 15 – 32 X/menit, rata-rata 18 X/menit, efusi pleura karena
distensi abdomen
b. Sistem kardiovaskuler.
Nadi 70 – 110 X/mnt, tekanan darah 95/65 – 100/60 mmHg, hipertensi ringan
bisa dijumpai.
c. Sistem persarafan.
Dalam batas normal.
d. Sistem perkemihan.
Urine/24 jam 600-700 ml, hematuri, proteinuria, oliguri.
e. Sistem pencernaan.
Diare, napsu makan menurun, anoreksia, hepatomegali, nyeri daerah perut,
malnutrisi berat, hernia umbilikalis, prolaps anii.
f. Sistem muskuloskeletal.
Dalam batas normal.
g. Sistem integumen.
Edema periorbital, ascites.
h. Sistem endokrin
Dalam batas normal
i. Sistem reproduksi
Dalam batas normal.
a. B1 (breathing)
Biasanya tidak didapatkan adanya gangguan pola napas dan jalan napas walau
secara frekuensi mengalami peningkatan terutama pada fase akut. Pada fase
lanjut sering didapatkan adanya gangguan pola napas dan jalan napas yang
merupakan respons terhadap edema pulmoner dan efusi pleura.
b. B2 (Blood)
Sering ditemukan penurunan curah jantung respon sekunder dari peningkatan
beban volume.
c. B3 (Brain)
Didapatkan edema wajah terutama periorbital, sklera tidak ikterik. Status
neurologis mengalami perubahan sesuai tingkat parahnya azotemia pada sistem
saraf pusat.
d. B4 (Bladder)
Perubahan warna urine output seperti warna urine berwarna kola.
e. B5 (Bowel)
Didapatkan adanya mual dan muntah, anoreksia sehingga sering didapatkan
penurunan intake nutrisi dari kebutuhan. Didapatkan asites pada abdomen.
f. B6 (Bone)
Didapatkan adanya kelemahan fisik secara umum, efek sekunder dari edema
tungkai dari keletihan fisik secara umum
7. Pemeriksaan diagnostic
Urinalisis
didapatkan hematuria secara mikroskopik, proteinuria, terutama albumin. Keadaan
ini juga terjadi akibat meningkatnya permeabilitas membran glomerulus.
8. Pengkajian penatalaksanaan medis
Tujuan terapi
adalah menceah terjadinya kerusakan ginjal lebih lanjut dan menurunkan resiko
komplikasi. Untuk mencapai tujuan terapi, maka penatalaksanaan tersebut,
meliputi hal-hal berikut
a. Tirah baring
b. Diuretik
c. Adenokortikosteroid, golongan prednison
d. Diet rendah natrium tinggi protein
e. Terapi cairan. Jika klien dirawat dirumah sakt , maka
intake dan output diukur secara cermat dan dicatat. Cairan diberikan untk
mengatasi kehilangan cairan dan berat badan harian.
2.2.2 Diagnosa Keperawatan
A. Analisa Data
|
Symptom
|
Etiologi
|
Problem
|
|
DS :
- Klien mengeluh edema.
DO :
- Tampak ada penumpukan cairan di
ekstermitas
|
|
Kelebihan volume cairan
|
|
DS :
- Klien mengeluh kurang nafsu makan
DO :
- Klien tampak gemuk karena pumpukan
cairan
|
|
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
|
|
DS :
- Klien mengeluh dehidrasi
DO :
- Klien tampak sianosis
- Klien tampak pucat
|
|
Resiko kehilangan volume cairan intravaskuler
|
|
DS :
- Klien mengeluh malaise
DO :
- Klien tampak cemas
|
|
Ansietas
|
B. Diagnosa
a. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan akumulasi
cairan di dalam jaringan.
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan kehilangan nafsu makan (anoreksia).
c. Resiko kehilangan volume cairan intravaskuler
berhubungan dengan kehilangan protein, cairan dan edema.
d. Ansietas Berhubungan
dengan kurang pengetahuan tentang penyakit.
2.2.3 Intervensi Keperawatan
|
Hari/
Tgl
|
Dx
|
Tujuan & kriteria hasil
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1
|
Setelah dilakukan tindakan selama 3x24 jam diharapkan Kelebihan
volume cairan terkontrol dengan Kriteria Hasil:
a. Pasien tidak
menunjukan tanda-tanda akumulasi cairan.
b. Pasien mendapatkan
volume cairan yang tepat.
|
a. Pantau asupan dan
haluaran cairan setiap pergantian
b. Timbang berat badan
tiap hari
c. Programkan pasien
pada diet rendah natrium selama fase edema
d. Kaji kulit, wajah,
area tergantung untuk edema. Evaluasi derajat edema (pada skala +1 sampai
+4).
e. Awasi pemerikasaan laboratorium,
contoh: BUN, kreatinin, natrium, kalium, Hb/ht, foto dada
f. Berikan obat sesuai
indikasi Diuretik, contoh furosemid (lasix), mannitol (Os-mitol;
|
a. Pemantauan membantu
menentukan status cairan pasien.
b. Penimbangan berat badan harian adalah
pengawasan status cairan terbaik. Peningkatan berat badan lebih dari 0,5
kg/hari diduga ada retensi cairan.
c. Suatu diet rendah
natrium dapat mencegah retensi cairan
d. Edema terjadi terutama pada jaringan
yang tergantung pada tubuh.
e. Mengkaji
berlanjutnya dan penanganan disfungsi/gagal ginjal. Meskipun kedua nilai
mungkin meningkat, kreatinin adalah indikator yang lebih baik untuk fungsi
ginjal karena tidak dipengaruhi oleh hidrasi, diet, dan katabolisme jaringan.
f. Diberikan dini
pada fase oliguria untuk mengubah ke fase
nonoliguria, untuk melebarkan lumen tubular dari debris, menurunkan
hiperkalimea, dan meningkatkan volume urine adekuat
|
|
2
|
Setelah dilakukan tindakan selama 3x24 jam diharapkan kebutuhan
nutrisi terpenuhi dengan Kriteria hasil: Klien dapat Mempertahankan berat
badan yang diharapkan
|
a. Kaji / catat
pemasukan diet.
b. Timbang BB tiap
hari.
c. Tawarkan perawatan
mulut sebelum dan sesudah makan .
d. Berikan makanan
sedikit tapi sering.
e. Berikan diet tinggi
protein dan rendah garam.
f. Berikan makanan yang
disukai dan menarik
g. Awasi pemeriksaan
laboratorium, contoh: BUN, albumin serum, transferin, natrium, dan kalium.
|
a. Membantu dan
mengidentifikasi defisiensii dan kebutuhan diet.
b. Perubahan kelebihan
0,5 kg dapat menunjukkan perpindahan keseimbangan cairan.
c. Meningkatkan nafsu
makan
d. meminimalkan anoreksia dan mual
sehubungan dengan status uremik
e. Memenuhi kebutuhan
protein, yang hilang bersama urine.
f. Pasien cenderung
mengonsumsi lebih banyak porsi makan jika ia diberi beberapa makanan
kesukanannya.
g. Indikator kebutuhan
nutrisi, pembatasan, dan efektivitas terapi.
|
|
3
|
Setelah dilakukan tindakan selama 3x24 jam diharapkan Resiko
kehilangan cairan tidak terjadi dengan Kriteria Hasil: Tidak
ditemukannya atau tanda-tandanya kehilangan cairan intravaskuler
seperti:
a. Masukan dan keluaran
seimbang
b. Tanda vital yang
stabil
c. Elektrolit dalam
batas normal
d. Hidrasi adekuat yang
ditunjukkan dengan turgor kulit yang normal
|
a. Awasi TTV
b. Kaji masukan dan haluaran cairan.
Hitung kehilangan tak kasat mata.
c. Kaji membran mukosa
mulut dan elastisitas turgor kulit
d. Berikan cairan sesuai indikasi ;
misalnya albumin
e. Berikan cairan
parenteral sesuai dengan petunjuk
f. Awasi pemerikasaan
laboratorium, contoh protein (albumin)
|
a. Hipotensi ortostatik
dan takikardi indikasi hipovolemia.
b. Membantu memperkirakan kebutuhan
penggantian cairan.
c. Membran mukosa
kering, turgor kulit buruk, dan penurunan nadi dalah indikator dehidrasi
d. penggantian cairan tergantung dari
berapa banyaknya cairan yang hilang atau dikeluarkan.
e. Pemberian cairan
parenteral diperlukan, dengan tujuan mempertahankann hidrasi yang adekuat.
f. Mengkaji untuk
penanganan medis berikutnya
|
|
4
|
Setelah dilakukan tindakan selama 3x24 jam diharapkan Rasa cemas
berkurang setelah mendapat penjelasan dengan kriteria: Klien mengungkapkan
sudah tidak takut terhadap tindakan perawatan, klien tampak tenang, klien
kooperatif.
|
a. Berikan motivasi
pada keluarga untuk ikut secara aktif dalam kegiatan perawatan klien.
b. Jelaskan pada klien
setiap tindakan yang akan dilakukan.
c. Observasi tingkat
kecemasan klien dan respon klien terhadap tindakan yang telah dilakukan
|
a. Deteksi dini terhadap
perkembangan klien.
b. Peran serta keluarga
secara aktif dapat mengurangi rasa cemas klien.
c. Penjelasan yang
memadai memungkinkan klien kooperatif terhadap tindakan yang akan dilakukan.
|
2.2.4 Evaluasi
Setelah mendapat
intervensi keperawatan, maka pasien dengan sindrom nefrotik diharapkan sebagai
berikut:
1. Kelebihan volume cairan teratasi
2. Meningkatnya asupan nutrisi
3. Peningkatan kemampuan aktivitas sehari-hari
4. Penurunan kecemasan
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sindrom nefrotik adalah suatu kumpulan gejala gangguan
klinis, meliputi hal-hal: Proteinuria masif> 3,5 gr/hr, Hipoalbuminemia, Edema, Hiperlipidemia. Manifestasi dari keempat kondisi tersebut yang sangat merusak membran
kapiler glomelurus dan menyebabkan peningkatan permeabilitas glomerulus. (Muttaqin,
Sindrom nefrotik merupakan gangguan klinis ditandai
oleh peningkatan protein, penurunan albumin dalam darah (hipoalbuminemia),
edema dan serum kolesterol yang tinggi dan lipoprotein densitas rendah
(hiperlipidemia). (Brunner & Suddarth, 2001).
Etiologi nefrotik sindrom dibagi menjadi 3, yaitu
primer (Glomerulonefritis dan nefrotik sindrom perubahan minimal), sekunder
(Diabetes Mellitus, Sistema Lupus Erimatosis, dan Amyloidosis), dan idiopatik
(tidak diketahui penyebabnya).Tanda paling umum adalah peningkatan cairan di
dalam tubuh. Sehingga masalah keperawatan yang mungkin muncul adalah kelebihan
volume cairan berhubungan, perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan, resiko
kehilangan volume cairan intravaskuler, dan kecemasan.
3.2 Saran
Demikian makalah yang kami sampaikan. Kami berharap
agar makalah yang kami buat ini dapat bermanfaat bagi para dosen, teman-teman
dan pembaca sekalian.