Senin, 22 Februari 2021

PROSES KEPERAWATAN “PENGKAJIAN“


 PENGERTIAN PROSES KEPERAWATAN

Banyak pakar telah merumuskan definisi dari proses keperawatan (Weitzel, Marriner, Murray, Yura, Herber, dll). Secara umum dapat dikatakan bahwa proses keperawatan adalah metode pengorganisasian yang sistematis, dalam melakuan asuhan keperawatan pada individu, kelompok dan masyarakat yang berfokus pada identifikasi dan pemecahan masalah dari respn pasien terhadap penyakitnya (Tarwoto & Wartonah, 2004). Atau :

       A. Proses keperawatan adalah :

1. Suatu pendekatan sistematis untuk mengenal masalah-masalah pasien dan mencarikan alternatif pemecahan masalah dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan pasien.

2. Merupakan proses pemecahan masalah yang dinamis dalam memperbaiki dan meningkatkan kesehatan pasien sampai ke tahap maksimum.

3. Merupakan pendekatan ilmiah

4. Terdiri dari 5 tahap : pengkajian, diagnosis keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.


  A TAHAPAN PENGKAJIAN

Pengkajian merupakan tahap awal proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien.

Tahap pengkajian merupakan pemikiran dasar dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan individu. Pengkajian yang lengkap, akurat, sesuai kenyataan, kebenaran data sangat penting untuk merumuskan suatu diagnosa keperawatan dan dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan respon individu.

Data Dasar adalah kumpulan data yang berisikan mengenai status kesehatan klien, kemampuan klien untuk mengelola kesehatan terhadap dirinya sendiri, dan hasil konsultasi dari medis atau profesi kesehatan lainnya.

Data Fokus adalah data tentang perubahan-perubahan atau respon klien terhadap kesehatan dan masalah kesehatannya serta hal-hal yang mencakup tindakan yang dilaksanakan terhadap klien.

Fokus Pengkajian Keperawatan Pengkajian keperawatan tidak sama dengan pengkajian medis. Pengkajian medis difokuskan pada keadaan patologis, sedangkan pengkajian keperawatan ditujukan pada respon klien terhadap masalah-masalah kesehatan yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Misalnya dapatkah klien melakukan aktivitas sehari-hari, sehingga fokus pengkajian klien adalah respon klien yang nyata maupun potensial terhadap masalah-masalah aktifitas harian.

Pulta (Pengumpulan Data) Pengumpulan data adalah pengumpulan informasi tentang klien yang dilakukan secara sistematis untuk menentukan masalah-masalah, serta kebutuhan-kebutuhan keperawatan dan kesehatan klien.

Pengumpulan informasi merupakan tahap awal dalam proses keperawatan. Dari informasi yang terkumpul, didapatkan data dasar tentang masalah-masalah yang dihadapi klien. Selanjutnya data dasar tersebut digunakan untuk menentukan diagnosis keperawatan, merencanakan asuhan keperawatan, serta tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah-masalah klien.

Pengumpulan data dimulai sejak klien masuk ke rumah sakit (initial assessment), irawat secara terus-menerus (ongoing assessment), serta pengkajian ulang untuk menambah / melengkapi data (re-assessment).


1. Tujuan Pengumpulan Data

 a. Memperoleh informasi tentang keadaan kesehatan klien.

      b. Untuk menentukan masalah keperawatan dan kesehatan klien.

      c. Untuk menilai keadaan kesehatan klien.

. d. Untuk membuat keputusan yang tepat dalam menentukan langkah-langkah

           berikutnya


2. Tipe Data : 

                a. Data Subjektif

Data Subjektif adalah data yang didapatkan dari klien sebagai suatu pendapat terhadap suatu situasi dan kejadian. Informasi tersebut tidak bisa ditentukan oleh perawat, mencakup persepsi, perasaan, ide klien tentang status kesehatannya. Misalnya tentang nyeri, perasaan lemah, ketakutan, kecemasan, frustrasi, mual, perasaan malu. 

b.Data Objektif

Data Objektif adalah data yang dapat diobservasi dan diukur, dapat diperoleh menggunakan panca indera (lihat, dengar, cium, raba) selama pemeriksaan fisik. Misalnya frekuensi nadi, pernafasan, tekanan darah, edema, berat badan, tingkat kesadaran.


3. Karakteristik Data 

a. Lengkap

Data yang terkumpul harus lengkap guna membantu mengatasi masalah klien yang adekuat. Misalnya klien tidak mau makan selama 3 hari. Perawat harus mengkaji lebih dalam mengenai masalah klien tersebut dengan menanyakan hal-hal sebagai berikut: apakan tidak mau makan karena tidak ada nafsu makan atau disengaja? Apakah karena adanya perubahan pola makan atau hal-hal yang patologis? Bagaimana respon klien mengapa tidak mau makan.

     b. Akurat dan Nyata

Untuk menghindari kesalahan, maka perawat harus berfikir secara akurat dan nyata untuk membuktikan benar tidaknya apa yang didengar, dilihat, diamati dan diukur melalui pemeriksaan ada tidaknya validasi terhadap semua data yang mungkin meragukan. Apabila perawat merasa kurang jelas atau kurang mengerti terhadap data yang telah dikumpulkan, maka perawat harus berkonsultasi dengan perawat yang lebih mengerti. Misalnya, pada observasi : “klien selalu diam dan sering menutup mukanya dengan kedua tangannya.

Perawat berusaha mengajak klien berkomunikasi, tetapi klien selalu diam dan tidak menjawab pertanyaan perawat. Selama sehari klien tidak mau makan makanan yang diberikan”, jika keadaan klien tersebut ditulis oleh perawat bahwa klien depresi berat, maka hal itu merupakan perkiraan dari perilaku klien dan bukan data yang aktual. Diperlukan penyelidikan lebih lanjut untuk menetapkan kondisi klien. Dokumentasikan apa adanya sesuai yang ditemukan pada saat pengkajian.

    c. Relevan

Pencatatan data yang komprehensif biasanya menyebabkan banyak sekali data yang harus dikumpulkan, sehingga menyita waktu dalam mengidentifikasi. Kondisi seperti ini bisa diantisipasi dengan membuat data komprehensif tapi singkat dan jelas. Dengan mencatat data yang relevan sesuai dengan masalah klien, yang merupakan data fokus terhadap masalah klien dan sesuai dengan situasi khusus.


4. Sumber Data: 

a. Sumber data primer

Klien adalah sumber utama data (primer) dan perawat dapat menggali informasi yang sebenarnya mengenai masalah kesehatan klien.

 b. Sumber data sekunder

Orang terdekat, informasi dapat diperoleh melalui orang tua, suami atau istri, anak, teman klien, jika klien mengalami gangguan keterbatasan dalam berkomunikasi atau kesadaran yang menurun, misalnya klien bayi atau anak-anak, atau klien dalam kondisi tidak sadar.

c. Sumber data lainnya 

 1. Catatan medis dan anggota tim kesehatan lainnya. Catatan kesehatan terdahulu dapat digunakan sebagai sumber informasi yang dapat mendukung rencana tindakan perawatan.

2. Riwayat penyakit Pemeriksaan fisik dan catatan perkembangan merupakan riwayat penyakit yang diperoleh dari terapis. Informasi yang diperoleh adalah hal-hal yang difokuskan pada identifikasi patologis dan untuk menentukan rencana tindakan medis.

3. Konsultasi Kadang terapis memerlukan konsultasi dengan anggota tim kesehatan spesialis, khususnya dalam menentukan diagnosa medis atau dalam merencanakan dan melakukan tindakan medis. Informasi tersebut dapat diambil guna membantu menegakkan diagnosa.

4. Hasil pemeriksaan diagnostic Seperti hasil pemeriksaan laboratorium dan tes diagnostik, dapat digunakan perawat sebagai data objektif yang dapat disesuaikan dengan masalah kesehatan klien. Hasil pemeriksaan diagnostik dapat digunakan membantu mengevaluasi keberhasilan dari tindakan keperawatan.

5. Perawat lain Jika klien adalah rujukan dari pelayanan kesehatan lainnya, maka perawat harus meminta informasi kepada perawat yang telah merawat klien sebelumnya. Hal ini untuk kelanjutan tindakan keperawatan yang telah diberikan.

6. Kepustakaan. Untuk mendapatkan data dasar klien yang komprehensif, perawat dapat membaca literatur yang berhubungan dengan masalah klien. Memperoleh literatur sangat membantu perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang benar dan tepat.


5. Metoda Pengumpulan Data

   a. Wawancara

       Tujuan wawancara adalah:

1) Mendapatkan informasi yang dibutuhkan dalam mengidentifikasi dan merencanakan tindakan keperawatan.

2) Meningkatkan hubungan perawat dengan klien dalam komunikasi

3) Membantu klien untuk memperoleh informasi dan berpartisipasi dalam identifikasi masalah, tujuan.

4) Membantu perawat untuk menentukan investigasi lebih lanjut selama tahap pengkajian.


Komunikasi keperawatan adalah suatu proses yang kompleks dan memerlukan ketrampilan/skill komunikasi dan interaksi, yang difokuskan pada identifikasi respon klien yang mungkin dapat diobati melalui tindakan keperawatan.


Tahapan Wawancara:

   1. Persiapan ( Pengaturan Posisi,membaca status klien jika ada, tanpa prasangka buruk)

    2. Pembukaan/Perkenalan

    3. Isi/Tahap kerja,focus pada permasalahan klien/yang ingin diketahui

    4.Tahap terminasi/pengakhiran


Teknik wawancara yang digunakan adalah teknik :

1. Mencari masalah

2. Pemecahan masalah

3. Pertanyaan langsung

4. Pertanyaan terbuka


  b. Observasi

        Adalah mengamati perilaku dan keadaan klien untuk memperoleh data tentang 

    masalah kesehatan dan keperawatan klien. Metode ini memerlukan suatu ketrampilan 

   disiplin dan praktik klinik sebagai bagian tugas perawat. Kegiatan observasi meliputi : 

   2S HFT ( Sight/Pengelihatan, Smell/bau, Hearing/Pendengaran, Feeling/daya rasa, 

   Taste/cita rasa ). Kegiatan tersebut meliputi aspek : Fisik,mental,social dan spiritual.


  c. Pemeriksaan fisik

       Metode pemeriksaan fisik digunakan untuk memperoleh data obyektif dari 

   perawatan klien, pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan bersamaan dengan melakukan

   wawancara. Fokus pengkajian fisik klien yang dilakuakn perawat adalah pada 

   kemampuan fungsional yang bertujuan untuk menentukan status kesehatan klien, 

   mengidentifikasi masalah kesehatan dan mengambil data dasar untuk menentukan 

   rencana tindakan perawatan.

      Metode/Teknik pemeriksaan fisik: Inspeksi,Palpasi, Perkusi, dan Auskultasi.Aspek/

   pendekatan pemeriksaan fisik dapat menggunakan:

    1. Head to toe ( pemeriksaan fisik/tubuh klien dari kepala sampai kaki.

    2. Review of System/ROS ( pemeriksaan berdasarkan system tubuh manusia)

    3. Pola fungsi kesehatan.

     Masalah-masalah yang ditemukan/mungkin terjadi selama proses pengumpulan data adalah :

    a. Ketidak mampuan perawat mengorganisir data dasar

   b. Kehilangan data yang dikumpulkan

   c. Data tidak relavan

   d. Duplikasi data

   e. Mispersepsi data

   f.Tidak lengkap

   g. Adanya interpretasi data dalam mengobservasi perilaku

   h. Kegagalan pengambilan data dasar terbaru


  d. Interpretasi Data

Pada tahap ini perawat secara kritis memilih tipe informasi yang dikumpulkan tentang klien, mengintepretasi informasi untuk menentukan abnormalitas, melakukan pengamatan lebih lanjut untuk mengklarifikasi informasi dan kemudian menyebutkan masalah klien dalam format diagnose keperawatan.

  e. Pengelompokan Data

      Setelah mengumpulkan dan memvalidasi data subyektif dan obyektif serta mengintepretasi data perawat mengorganisir informasi menjadi kelompok yang bermakana. Hal ini tergantung pada pengenalan isyarat yang signifikan yang dapat membantu untuk menimbulakan diagnose keperawatan.

     Contoh kasus:

Anak Dion, 13 tahun mengatakan baru saja terjatuh dari atas pohon, menangis sambil memegangi kaki kanan bagian bawah yang mengeluarkan darah banyak.Apa saja yang dapat dikumpulkan /dikaji pada anak Dion tersebut?

1. Wawancara, Pertanyaan yang dapat diajukan baik pada klien ataupun keluarga/orang terdekat adalah: Kapan terjatuh, bagaimana posisi waktu jatuh, sadar, dari ketinggian berapa meter, membentur apa saja, nyeri, dll. 

2. Obsevasi, pengamatan yang dapat dilakukan adalah: Adanya luka, kondisi luka, sifat aliran darah, bengkak/edema, perubahan bentuk kaki, ekspresi wajah, tanda-tanda vital, dll.

3. Pemeriksaan fisik.Bagian kaki/lokasi kaki yang luka, rasa nyeri,edema,keadaan luka,dll


   Interpretasi data

     Adanya luka pada kaki bagian bawah/cruris dextra, diameter lika 1x3x1 cm-terbuka-kotor, darah mengucur keluar, edema disekitar luka, terdapat nyeri, tidak terdapat perubahan bentuk, klien mengeluhbsakit/nyeri terutama jika digerakan.

   Pengelompokan data

     1. Data Subyektif : Klien mengeluh nyeri terutama jika kaki digerakan

     2. Data Obyektif : - Terdapat luka pada cruris dextra diameter 1x3x1 cm

- Luka kotor

- Keluar darah

- Edema disekitar luka

- Tidak terdapat perubahan bentuk

Senin, 15 Februari 2021

PENGGOLONGAN OBAT MENURUT UU FARMASI

 

PENGGOLONGAN OBAT MENURUT UU FARMASI

 

Pengertian Obat

Obat adalah bahan atau zat yang berasal dari tumbuhan, hewan,mineral maupun zat kimia tertentu yang dapat digunakan untuk mengurangi rasa sakit, memperlambat proses penyakit dan atau menyembuhkan penyakit. Obat harus sesuai dosis agar efek terapi atau khasiatnya bisa kita dapatkan.

 

Penggolongan Obat

Golongan obat adalah penggolongan yang dimaksudkan untuk peningkatan keamanan dan ketepatan penggunaan serta pengamanan distribusi yang terdiri dari obat bebas, obat bebas terbatas, obat wajib apotek, obat keras, psikotropika dan narkotika yang diatur dalam Peraturan Mentri Kesehatan RI Nomor 949/Menkes/Per/VI/2000. Berdasarkan Peraturan tersebut, obat digolongkan dalam (5) golongan yaitu :

1. Obat Bebas,

2. Obat Bebas Terbatas,

3. Obat Wajib Apotek,

4. Obat Keras,

5. Obat Psikotropika dan Narkotika.

Penggolongan Obat (1)

unduhanBerikut penjabaran dari masing-masing golongan tersebut.

1. Obat Bebas

 

 

Obat bebas adalah obat yang boleh digunakan tanpa resep dokter disebut obat OTC (Over The Counter), terdiri atas obat bebas dan obat bebas terbatas. Obat bebas dapat dijual bebas di warung kelontong, toko obat berizin, supermarket serta apotek. Dalam pemakaiannya, penderita dapat membeli dalam jumlah sangat sedikit saat obat diperlukan, jenis zat aktif pada obat golongan ini relatif aman sehingga pemakaiannya tidak memerlukan pengawasan tenaga medis selama diminum sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan obat. Oleh karena itu, sebaiknya golongan obat ini tetap dibeli bersama kemasannya.penandaan obat bebas diatur berdasarkan S.K Menkes RI Nomor 2380/A/SKA/I/1983 tentang tanda khusus untuk obat bebas dan obat bebas terbatas. Di Indonesia, obat golongan ini ditandai dengan lingkaran berwarna hijau dengan garis tepi berwarna hitam. Yang termasuk golongan obat ini yaitu obat analgetik atau pain killer (parasetamol), vitamin/multivitamin dan mineral. Contoh lainnya, yaitu promag, bodrex, biogesic, panadol, puyer bintang toedjoe, diatabs, entrostop, dan sebagainya.

unduhan (1)2. Obat Bebas Terbatas



Obat bebas terbatas adalah obat yang sebenarnya termasuk obat keras tetapi masih dapat dijual atau dibeli bebas tanpa resep dokter, dan disertai dengan tanda peringatan. Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas terbatas adalah lingkaran biru dengan garis tepi berwarna hitam. Dulu obat ini disebut daftar W = Waarschuwing (Peringatan), tanda peringatan selalu tercantum pada kemasan obat bebas terbatas, berupa empat persegi panjang berwarna hitam berukuran panjang 5cm, lebar 2cm dan memuat pemberitahuan berwarna putih.

image5-2

Seharusnya obat jenis ini hanya dapat dijual bebas di toko obat berizin (dipegang seorang asisten apoteker) serta apotek (yang hanya boleh beroperasi jika ada apoteker, no pharmacist no service), karena diharapkan pasien memperoleh informasi obat yang memadai saat membeli obat bebas terbatas. Contoh obat golongan ini adalah: obat batuk, obat pilek, krim antiseptic, neo rheumacyl neuro, visine, rohto, antimo, dan lainnya.

 

 

3. Obat Wajib Apotek (OWA)

OWA merupakan obat keras yang dapat diberikan oleh Apoteker Pengelola Apotek (APA) kepada pasien. Walaupun APA boleh memberikan obat keras, namun ada persayaratan yang harus dilakukan dalam penyerahan OWA.

a) Apoteker wajib melakukan pencatatan yang benar mengenai data pasien (nama, alamat, umur) serta penyakit yang diderita.

b) Apoteker wajib memenuhi ketentuan jenis dan jumlah yang boleh diberikan kepada pasien. Contohnya hanya jenis oksitetrasiklin salep saja yang termasuk OWA, dan hanya boleh diberikan 1 tube.

c) Apoteker wajib memberikan informasi obat secara benar mencakup: indikasi, kontra-indikasi, cara pemakain, cara penyimpanan dan efek samping obat yang mungkin timbul serta tindakan yang disarankan bila efek tidak dikehendaki tersebut timbul.

Tujuan OWA adalah memperluas keterjangkauan obat untuk masayrakat, maka obat-obat yang digolongkan dalam OWA adalah obat ang diperlukan bagi kebanyakan penyakit yang diderita pasien. Antara lain: obat antiinflamasi (asam mefenamat), obat alergi kulit (salep hidrokotison), infeksi kulit dan mata (salep oksitetrasiklin), antialergi sistemik (CTM), obat KB hormonal.
Sesuai Permenkes No.919/MENKES/PER/X/1993, kriteria obat yang dapat diserahkan:
– Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak di bawah usia 2 tahun dan orang tua di atas 65 tahun.

– Pengobatan sendiri dengan obat dimaksud tidak memberikan risiko pada kelanjutan penyakit.
– Penggunaannya tidak memerlukan cara atau alat khusus yang harus dilakukan oleh tenaga kesehatan.
-Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di Indonesia.
– Obat dimaksud memiliki khasiat keamanan yang dapat dipertanggungjawabkan untuk pengobatan sendiri.

 

keras4. Obat Keras



Obat keras (dulu disebut obat daftar G = gevaarlijk = berbahaya) yaitu obat berkhasiat keras yang untuk memperolehnya harus dengan resep dokter, berdasarkan keputusan Mentri Kesehatan RI Nomor 02396/A/SKA/III/1986 penandaan obat keras dengan lingkaran bulat berwarna merah dan garis tepi berwarna hitam serta huruf K yang menyentuh garis tepi. Obat-obatan yang termasuk dalam golongan ini adalah antibiotik (tetrasiklin, penisilin, dan sebagainya), serta obat-obatan yang mengandung hormon (obat kencing manis, obat penenang, dan lain-lain). Obat-obat ini berkhasiat keras dan bila dipakai sembarangan bisa berbahaya bahkan meracuni tubuh, memperparah penyakit atau menyebabkan kematian. Obat-obat ini sama dengan narkoba yang kita kenal dapat menimbulkan ketagihan. Karena itu, obat-obat ini mulai dari pembuatannya sampai pemakaiannya diawasi dengan ketat oleh Pemerintah dan hanya boleh diserahkan oleh apotek atas resep dokter. Tiap bulan apotek wajib melaporkan pembelian dan pemakaiannya pada pemerintah.

 

unduhan5. Obat Psikotropika dan Narkotika



Psikotropika adalah Zat/obat yang dapat menurunkan aktivitas otak atau merangsang susunan syaraf pusat dan menimbulkan kelainan perilaku, disertai dengan timbulnya halusinasi (mengkhayal), ilusi, gangguan cara berpikir, perubahan alam perasaan dan dapat menyebabkan ketergantungan serta mempunyai efek stimulasi (merangsang) bagi para pemakainya. Jenis –jenis yang termasuk psikotropika adalah Ecstasy dan Sabu-sabu.

 

Sedangkan, Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menimbulkan pengaruh-pengaruh tertentu bagi mereka yang menggunakan dengan memasukkannya ke dalam tubuh manusia. Pengaruh tersebut berupa pembiusan, hilangnya rasa sakit, rangsangan semangat, halusinasi/timbulnya khayalan-khayalan yang menyebabkan efek ketergantungan bagi pemakainya.

Macam-macam narkotika, yaitu

Opiod(Opiat) seperti {Morfin, Heroin (putaw), Codein, Demerol (pethidina), Methadone} Kokain, Cannabis (ganja) dan lainnya.

Ciri-cirinya nya :

– Dulu dikenal obat daftar O (Golongan Opiat/Opium)

– Logonya berbentuk seperti palang ( + )

– Obat ini berbahaya bila terjadi penyalahgunaan dan dalam penggunaannya diperlukan pertimbangan khusus, dan dapat menyebabkan ketergantungan psikis dan fisik oleh karena itu hanya boleh digunakan dengan dasar resep dokter.

 

Minggu, 14 Februari 2021

Hipotiroidisme

 BAB I

PENDAHULUAN

A. Anatomi Kelenjar Tiroid


Kelenjar tiroid terletak di leher, antara fasia koli media dan fasia prevertebralis. Di dalam ruang yang sama terletak trakea, esofagus, pembuluh darah besar, dan saraf. Kelenjar tiroid melekat pada trakea sambil melingkarinya dua pertiga sampai tiga perempat lingkaran. Arteri karotis komunis, arteri jugularis interna, dan nervus vagus terletak bersama di dalam sarung tertutup do laterodorsal tiroid. Nervus rekurens terletak di dorsal tiroid sebelum masuk laring. Nervus frenikus dan trunkus simpatikus tidak masuk ke dalam ruang antara fasia media dan prevertebralis.


B. Fisiologi Kelenjar Tiroid


Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid utama yaitu tiroksin. Bentuk aktif hormon ini adalah triiodotironin yang sebagian besar berasal dari konversi hormon tiroksin di perifer, dan sebagian kecil langsung dibentuk oleh kelenjar tiroid. Sekresi hormon tiroid dikendalikan oleh kadar hormon perangsang tiroid (Thyroid Stimulating Hormon) yang dihasilkan oleh lobus anterior kelenjar hipofisis. Kelenjar ini secara langsung dipengaruhi dan diatur aktivitasnya oleh kadar hormon tiroid dalam sirkulasi, yang bertindak sebagai umpan balik negatif terhadap lobus anterior hipofisis dan terhadap sekresi hormon pelepas tirotropin dari hipothalamus. Hormon tiroid mempunyai pangaruh yang bermacam-macam terhadap jaringan tubuh yang berhubungan dengan metabolisme sel.

Kelenjar tiroid juga mengeluarkan kalsitonin dari sel parafolikuler. Kalsitonin adalah polipeptida yang menurunkan kadar kalsium serum, mungkin melalui pengaruhnya terhadap tulang.


Hormon tiroid memang suatu hormon yang dibutuhkan oleh hampir semua proses tubuh termasuk proses metabolisme, sehingga perubahan hiper atau hipotiroidisme berpengaruh atas berbagai peristiwa. Efek metaboliknya antara lain adalah termoregulasi, metabolisme protein, metabolisme karbohidrat, metabolisme lemak, dan vitamin A.


Status tiroid seseorang ditentukan oleh kecukupan sel atas hormon tiroid dan bukan kadar normal hormon tiroid dalam darah. Ada beberapa prinsip faal dasar yang perlu diingat kembali. Pertama bahwa hormon yang aktif adalah free-hormon. Kedua bahwa metabolisme sel didasarkan adanya free T3 bukan free T4. ketiga bahwa distribusi enzim deyodinasi I, II, dan III (DI, DII, DIII) di berbagai organ tubuh berbeda, dimana DI banyak ditemukan di hepar, ginjal, dan tiroid. DII utamanya di otak, hipofisis dan DIII hampir seluruhnya di jaringan fetal (otak, plasenta). Hanya DI yang direm oleh PTU.



BAB II

ASKEP HIPOTIROIDISME

A. Definisi


Hipotiroidisme adalah satu keadaan penyakit disebabkan oleh kurang penghasilan hormon tiroid oleh kelenjar tiroid.


Hipotiroidisme adalah suatu keadaan dimana kelenjar tirod kurang aktif dan menghasilkan terlalu sedikit hormone tiroid. Hipotiroid yang sangat berat disebut miksedema.

Hipotiroidism terjadi akibat penurunan kadar hormon tiroid dalam darah. Kelainan ini kadang-kadang disebut miksedema.


B. Epidemiologi


Sebelum Perang Dunia II banyak penyelidik di Indonesia menemukan kretin. Abu Hanifah menemukan di daerah Kuantan 0,15% kretin di antara 50.000 penduduk. Pfister (1928) menemukan pada suku Alas 17 kretin, 57 kretinoid dan 11 kasus yang meragukan dari 12.000 penduduk; jumlah semuanya meliputi 0,73%. Eerland (1932) menemukan 126 kretin di Kediri dan banyak kretinoid, sedangkan Noosten (1935) menemukan juga kretin di Bali.


C. Klasifikasi dan Penyebab


Secara klinis dikenal 3 hipotiroidisme, yaitu :

1. Hipotiroidisme sentral, karena kerusakan hipofisis atau hypothalamus

2. Hipotiroidisme primer apabila yang rusak kelenjar tiroid

3. Karena sebab lain, seperti farmakologis, defisiensi yodium, kelebihan yodium, dan resistensi perifer.


Yang paling banyak ditemukan adalah hipotiroidisme primer. Oleh karena itu, umumnya diagnosis ditegakkan berdasar atas TSH meningkat dan fT4 turun. Manifestasi klinis hipotiroidisme tidak tergantung pada sebabnya.


Namun, pada Buku Ilmu Kesehatan Anak, hipotiroidisme terbagi atas 2 berdasarkan penyebabnya, yaitu :

1. Bawaan (kretinisme)

a. Agenesis atau disgenesis kelenjar tiroidea.

b. Kelainan hormogonesis

~ Kelainan bawaan enzim (inborn error)

~ Defisiensi yodium (kretinisme endemik)

~ Pemakaian obat-obat anti tiroid oleh ibu hamil (maternal)


2. Didapat

Biasanya disebut hipotiroidisme juvenilis. Pada keadaan ini terjadi atrofi kelenjar yang sebelumnya normal. Panyebabnya adalah

a. Idiopatik (autoimunisasi)

b. Tiroidektomi

c. Tiroiditis (Hashimoto, dan lain-lain)

d. Pemakaian obat anti-tiroid

e. Kelainan hipofisis.

f. Defisiensi spesifik TSH


D. Patofisiologi


Patofisiologi hipotiroidisme didasarkan atas masing-masing penyebab yang dapat menyebabkan hipotiroidisme, yaitu :


a. Hipotiroidisme sentral (HS)

Apabila gangguan faal tiroid terjadi karena adanya kegagalan hipofisis, maka disebut hipotiroidisme sekunder, sedangkan apabila kegagalan terletak di hipothalamus disebut hipotiroidisme tertier. 50% HS terjadi karena tumor hipofisis. Keluhan klinis tidak hanya karena desakan tumor, gangguan visus, sakit kepala, tetapi juga karena produksi hormon yang berlebih (ACTH penyakit Cushing, hormon pertumbuhan akromegali, prolaktin galaktorea pada wanita dan impotensi pada pria). Urutan kegagalan hormon akibat desakan tumor hipofisis lobus anterior adalah gonadotropin, ACTH, hormon hipofisis lain, dan TSH.



b. Hipotiroidisme Primer (HP)


Hipogenesis atau agenesis kelenjar tiroid. Hormon berkurang akibat anatomi kelenjar. Jarang ditemukan, tetapi merupakan etiologi terbanyak dari hipotiroidisme kongenital di negara barat. Umumnya ditemukan pada program skrining massal. Kerusakan tiroid dapat terjadi karena, 1. Operasi, 2. Radiasi, 3. Tiroiditis autoimun, 4. Karsinoma, 5. Tiroiditis subakut, 6. Dishormogenesis, dan 7. Atrofi

Pascaoperasi. Strumektomi dapat parsial (hemistrumektomi atau lebih kecil), subtotal atau total. Tanpa kelainan lain, strumektomi parsial jarang menyebabkan hipotiroidisme. Strumektomi subtotal M. Graves sering menjadi hipotiroidisme dan 40% mengalaminya dalam 10 tahun, baik karena jumlah jaringan dibuang tetapi juga akibat proses autoimun yang mendasarinya.

Pascaradiasi. Pemberian RAI (Radioactive iodine) pada hipertiroidisme menyebabkan lebih dari 40-50% pasien menjadi hipotiroidisme dalam 10 tahun. Tetapi pemberian RAI pada nodus toksik hanya menyebabkan hipotiroidisme sebesar <5%. Juga dapat terjadi pada radiasi eksternal di usia <20 tahun : 52% 20 tahun dan 67% 26 tahun pascaradiasi, namun tergantung juga dari dosis radiasi.

Tiroiditis autoimun. Disini terjadi inflamasi akibat proses autoimun, di mana berperan antibodi antitiroid, yaitu antibodi terhadap fraksi tiroglobulin (antibodi-antitiroglobulin, Atg-Ab). Kerusakan yang luas dapat menyebabkan hipotiroidisme. Faktor predisposisi meliputi toksin, yodium, hormon (estrogen meningkatkan respon imun, androgen dan supresi kortikosteroid), stres mengubah interaksi sistem imun dengan neuroendokrin. Pada kasus tiroiditis-atrofis gejala klinisnya mencolok. Hipotiroidisme yang terjadi akibat tiroiditis Hashimoto tidak permanen.

Tiroiditis Subakut. (De Quervain) Nyeri di kelenjar/sekitar, demam, menggigil. Etiologi yaitu virus. Akibat nekrosis jaringan, hormon merembes masuk sirkulasi dan terjadi tirotoksikosis (bukan hipertiroidisme). Penyembuhan didahului dengan hipotiroidisme sepintas.

Dishormogenesis. Ada defek pada enzim yang berperan pada langkah-langkah proses hormogenesis. Keadaan ini diturunkan, bersifat resesif. Apabila defek berat maka kasus sudah dapat ditemukan pada skrining hipotiroidisme neonatal, namun pada defek ringan, baru pada usia lanjut.

Karsinoma. Kerusakan tiroid karena karsinoma primer atau sekunder, amat jarang.

Hipotiroidisme sepintas. Hipotiroidisme sepintas (transient) adalah keadaan hipotiroidisme yang cepat menghilang. Kasus ini sering dijumpai. Misalnya pasca pengobatan RAI, pasca tiroidektomi subtotalis. Pada tahun pertama pasca operasi morbus Graves, 40% kasus mengalami hipotiroidisme ringan dengan TSH naik sedikit. Sesudah setahun banyak kasus pulih kembali, sehingga jangan tergesa-gesa memberi substitusi. Pada neonatus di daerah dengan defisiensi yodium keadaan ini banyak ditemukan, dan mereka beresiko mengalami gangguan perkembangan saraf.



E. Pengaruh Obat Farmakologis


Dosis OAT (Obat Anti Tiroid) berlebihan menyebabkan hipotiroidisme. Dapat juga terjadi pada pemberian litium karbonat pada pasien psikosis. Hati-hatilah menggunakan fenitoin dan fenobarbital sebab meningkatkan metabolisme tiroksin di hepar. Kelompok kolestiramin dan kolestipol dapat mengikat hormon tiroid di usus. Defisiensi yodium berat serta kelebihan yodium kronis menyebabkan hipotiroidisme dan gondok, tetapi sebaliknya kelebihan akut menyebabkan IIT (iodine induced thyrotoxcisos).

Bahan farmakologis yang menghambat sintesis hormon tiroid yaitu tionamid (MTU, PTU, karbimazol), perklorat, sulfonamid, yodida dan yang meningkatkan katabolisme atau penghancuran hormon tiroid yaitu fenitoin, fenobarbital, yang menghambat jalur enterohepatik hormon tiroid yaitu kolestipol dan kolestiramin.

Kelenjar tiroid bekerja di bawah pengaruh kelenjar hipofisis, tempat diproduksi hormon tirotropik. Hormon ini mengatur produksi hormon tiroid yaitu tiroksin dan tri-iodotironin. Kedua hormon tersebut dibentuk dari monoiodo-tirosin dan diiodo-tirosin. Untuk ini diperlukan yodium. T3 dan T4 diperlukan dalam proses metabolik di dalam badan, lebih-lebih pada pemakaian oksigen. Selain itu ia merangsang sintesis protein dan mempengaruhi metabolisme karbohidrat, lemak dan vitamin. Hormon ini juga diperlukan untuk mengolah karoten menjadi vitamin A. Untuk pertumbuhan badan, hormon ini sangat dibutuhkan, tetapi harus bekerja sama dengan growth hormone


F. Gejala Klinis


Pada bayi baru lahir gejala sering belum jelas. Baru sesudah beberapa minggu gejala lebih menonjol. Ikterus fisiologis biasanya lebih lama, kurang mau minum, sering tersedak, aktifitas kurang, lidah yang besar dan sering menderita kesukaran pada pernafasan.

Bayi dengan kelainan ini jarang menangis, banyak tidur dan kelihatan sembab. Biasanya ada obstipasi, abdomen besar dan ada hernia umbilikalis. Suhu tubuh rndah, nadi lambat dan kulitnya kering dan dingin. Sering ditemukan anemia.

Pada umur 3-6 bulan gejala makin jelas. Sekarang mulai kelihatan pertumbuhan dan perkembangan lambat (retardasi mental dan fisis). Sesudah melewati masa bayi, anak akan kelihatan pendek, anggota gerak pendek dan kepala kelihatan besar. Ubun-ubun besar terbuka lebar. Jarak antara kedua mata (hipertelorisme). Mulut sering terbuka dan tampak lidah membesar dan menebal. Pertumbuhan gigi terlambat dan gigi lekas rusak. Tangan agak lebar dan jari pendek. Kulit kering tanpa keringat. Warna kulit kekuning-kuningan yang disebabkan oleh karotenemia. Miksedema tampak jelas pada kelopak mata, punggung tangan dan genitalia eksterna.


Otot-otot biasanya hipotonik. Retardasi mental makin jelas. Suara biasanya parau dan biasanya tidak dapat berbicara. Makin tua, anak makin terlambat dalam pertumbuhan dan perkembangan. Pematangan alat kelamin terlambat atau sama sekali tidak terjadi.

Gejala hipotiroidisme dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu yang bersifat umum karena kekurangan hormon tiroid di jaringan, dan yang spesifik disebabkan karena penyakit dasarnya.


Keluhan utama yaitu kurang energi, manifestasinya sebagai lesu, lamban bicara, mudah lupa, obstipasi. Metabolisme rendah menyebabkan bradikardia, tidak tahan dingin, berat badan naik dan anoreksia. Kelainan psikologis meliputi depresi, meskipun nervositas dan agitasi dapat terjadi. Kelainan reproduksi yaitu oligomenorea, infertil, aterosklerosis meningkat. Semua tanda di atas akan hilang dengan pengobatan. Ada tambahan keluhan spesifik, terutama pada tipe sentral. Pada tumor hipofisis mungkin ada gangguan visus, sakit kepala, dan muntah. Sedangkan dari gagalnya fungsi hormon tropiknya, misalnya karena ACTH kurang, dapat terjadi kegagalan faal korteks adrenal dan sebagainya.



G. Menegakkan Diagnosis


Sebaiknya diagnosis ditegakkan selengkap mungkin : diagnosis klinis-subklinis, primer-sentral, kalau mungkin etiologinya. Karena sebagian besar etiologi hipotiroidisme adalah HP, kemungkinan HP kecil apabila dijumpai TSH normal. Pada wanita hamil (termasuk pengguna kontrasepsi oral) karena perubahan pada TBG, memeriksa TSH, fT4 dan fT3 merupakan langkah tepat. Kadang fT4 wanita hamil agak naik sehingga memeriksa fT3 masih relevan.


Apabila memungkinkan wanita hamil dengan hipotiroidisme diperiksa juga antibodi (anti-Tg-Ab, anti-AM-Ab). Indeks diagnostik Billewicz, analog dengan indeks Wayne dan New Castle pada hipertiroidisme, juga tersedia untuk memisahkan antara eutiroidisme dan hipotiroidisme. Interpretasi skor : bukan hipotiroidisme kalau skor < -30, diagnostik apabila skor > 25 dan meragukan apabila skor antara -29 dan +24 dan dibutuhkan pemeriksaan konfirmasi.


H. Pengobatan/Terapi


Pada pengobatan hipotiroidisme yang perlu diperhatikan adalah dosis awal dan cara menaikkan dosis tiroksin. Tujuan pengobatan hipotiroidisme adalah :

a. Meringankan keluhan dan gejala

b. Menormalkan metabolism

c. Menormalkan TSH (bukan mensupresi)

d. Membuat T3 (dan T4) normal

e. Menghindarkan komplikasi dan resiko


Beberapa prinsip dapat digunakan dalam melaksanakan substitusi, yaitu makin berat hipotiroidisme makin rendah dosis awal dan makin landai peningkatan dosis, dan geriatri dengan angina pektoris, CHF, gangguan irama, dosis harus hati-hati.

Prinsip substitusi adalah mengganti kekurangan produksi hoemon tiroid endogen pasien. Indikator kecukupan optimal sel ialah kadar TSH normal. Dosis supresi tidak dianjurkan, sebab ada risiko gangguan jantung dan densitas mineral. Tersedia L-tiroksin (T4), L-triodotironin (T3) maupun pulvus tiroid. Pulvus tidak digunakan lagi karena efeknya sulit diramalkan. T3 tidak digunakan sebagai substitusi karena waktu paruhnya pendek hingga perlu diberikan beberapa

kali sehari. Obat oral terbaik adalah T4 Tiroksin dianjurkan diminum pagi hari dalam keadaan perut kosong dan tidak bersama bahan lain yang mengganggu serapan dari usus. Contohnya pada penyakit sindrom malabsorbsi, short bowel syndrome, sirosis, obat (sukralfat, aluminium hidroksida, kolestiramin, sulfas ferosus, kalsium karbonat).

TIROIDITIS HASHIMOTO ( Struma Limfomatis)

Tiroditis hasimoto mungkin merupakan penyebab hipotiroidisme tersering, juga disebut tiroditis otoimun, terjadi akibat adanya otoantibodi yang merusak jaringan kelenjar tirod. Hal ini menyebabkan penurunan HT disertai peningkatan kadar TSH dan TRH akibat umpan balik negatif yang minimal. Penyebab tiroiditis otoimun tidak diketahui, tetapi tampaknya terdapat kecenderungan genetik untuk mengidap penyakit ini.


I. Diagnosa

A.    Keluhan pokok

Kadang-kadang disertai hipertiroid,lalu diikuti hipotiroid.

B. Tanda penting

Pembesaran kelenjar tiroid

C. Pemeriksaan Laboratorium

• T3 dan T4 meningkat pada fase akut dan menurun setelah menjadi kronis.

• Tiroid autoantibodi(antibodi tiroglobulin dan antibodi mikrosomal) biasa positif.

D. Pemeriksaan khusus

1 Hipotiroidisme

1. Penyakit Addison

2. Diabtes mellitus

3. Serosis biliaris

4. Vitiligo


II. PENATALAKSANAAN

A. Terapi umum

1. Istirahat

2. Diet

3. Medikamentosa

• Obat pertama

- Levotiroksin 0,1 - 0,15 mg/hr bila terjadi hipotiroid atau struma terlalu besar.

- Obat alternatif –

G. Pengkajian Keperawatan

Dampak penurunan kadar hormon dalam tubuh sangat bervariasi, oleh karena itu lakukanlah

pengkajian terhadap ha1-ha1 penting yang dapat menggali sebanyak mungkin informasi

antara lain


1. Riwayat kesehatan klien dan keluarga. Sejak kapan klien menderita penyakit tersebut dan apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama.

2. Kebiasaan hidup sehari-hari seperti

a. Pola makan

b. Pola tidur (klien menghabiskan banyak waktu untuk tidur).

c. Pola aktivitas.

3. Tempt tinggal klien sekarang dan pada waktu balita.

4. Keluhan utama klien, mencakup gangguan pada berbagai sistem tubuh;

a. Sistem pulmonari

b. Sistem pencernaan

c. Sistem kardiovaslkuler

d. Sistem muskuloskeletal

e. Sistem neurologik dan Emosi/psikologis

f. Sistem reproduksi

g. Metabolik

5. Pemeriksaart fisik mencakup

a. Penampilan secara umum; amati wajah klien terhadap adanya edema sekitar mata, wajah bulan dan ekspresi wajah kosong serta roman wajah kasar. Lidah tampak menebal dan gerak-gerik klien sangat lamban. Postur tubuh keen dan pendek. Kulit kasar, tebal dan berisik, dingin dan pucat.

b. Nadi lambat dan suhu tubuh menurun:

c. Perbesaran jantung

d. Disritmia dan hipotensi

e. Parastesia dan reflek tendon menurun

6. Pengkajian psikososial klien sangat sulit membina hubungan sasial dengan lingkungannya, mengurung diri/bahkan mania. Keluarga mengeluh klien sangat malas beraktivitas, dan ingin tidur sepanjang hari. Kajilah bagaimana konsep diri klien mencakup kelima komponen konsep diri

7. Pemeriksaan penunjang mencakup; pemeriksaan kadar T3 dan T4 serum; pemeriksaan TSH (pada klien dengan hipotiroidisme primer akan terjadi peningkatan TSH serum, sedangkan pada yang sekunder kadar TSH dapat menurun atau normal).

H. Diagnosa dan Intervensi

1. Intoleran aktivitas berhubungan dengan. kelelahan dan penurunan proses kognitif.

Tujuan : Meningkatkan partisipasi dalam aktivitas dan kemandirian

Intervensi

Atur interval waktu antar aktivitas untuk meningkatkan istirahat dan latihan yang dapat ditelerir.

Rasional : Mendorong aktivitas sambil memberikan kesempatan untuk mendapatkan istirahat yang adekuat.

Bantu aktivitas perawatan mandiri ketika pasien berada dalam keadaan lelah.

Rasional : Memberi kesempatan pada pasien untuk berpartisipasi dalam aktivitas perawatan mandiri.

Berikan stimulasi melalui percakapan dan aktifitas yang tidak menimbulkan stress.

Rasional : Meningkatkan perhatian tanpa terlalu menimbulkan stress pada pasien.

Pantau respons pasien terhadap peningkatan aktititas

Rasional : Menjaga pasien agar tidak melakukan aktivitas yang berlebihan atau kurang.

2. Perubahan suhu tubuh

Tujuan : Pemeliharaan suhu tubuh yang normal

Intervensi

Berikan tambahan lapisan pakaian atau tambahan selimut.

Rasional : Meminimalkan kehilangan panas

Hndari dan cegah penggunaan sumber panas dari luar (misalnya, bantal pemanas, selimut listrik atau penghangat).

Rasional : Mengurangi risiko vasodilatasi perifer dan kolaps vaskuler.

Pantau suhu tubuh pasien dan melaporkan penurunannya dari nilai dasar suhu normal pasien.

Rasional : Mendeteksi penurunan suhu tubuh dan dimulainya koma miksedema

Lindungi terhadap pajanan hawa. dingin dan hembusan angin.

Rasional : Meningkatkan tingkat kenyamanan pasien dan menurunkan lebih lanjut kehilangan panas. .


3. Konstipasi berhubungan dengan penurunan gastrointestinal

Tujuan :

Pemulihan fungsi usus yang normal.

Intervensi

Dorong peningkatan asupan cairan

Rasional : Meminimalkan kehilangan panas

Berikan makanan yang kaya akan serat

Rasional : Meningkatkan massa feses dan frekuensi buang air besar

Ajarkan kepada klien, tentang jenis -jenis makanan yang banyak mengandung air

Rasional : Untuk peningkatan asupan cairan kepada pasien agar . feses tidak keras

Pantau fungsi usus

Rasional : Memungkinkan deteksi konstipasi dan pemulihan kepada pola defekasi yang normal.

Dorong klien untuk meningkatkan mobilisasi dalam batas-batas toleransi latihan.

Rasional : Meningkatkan evakuasi feses

Kolaborasi : untuk pemberian obat pecahar dan enema bila diperlukan.

Rasional : Untuk mengencerkan fees.


4. Kurangnya pengetahuan tentang program pengobatan untuk terapi penggantian tiroid seumur hidup

Tujuan :

Pemahaman dan penerimaan terhadap program pengobatan yang diresepkar,

Intervensi

 Jelaskan dasar pemikiran untuk terapi penggantian hormon tiroid.

Rasional : Memberikan rasional penggunaan terapi penggantian hormon tiroid seperti yang diresepkan, kepada pasien

Uraikan efek pengobatan yang dikehendaki pada pasien

Rasional : Mendorong pasien untuk mengenali perbaikan status fisik dan kesehatan yang akan terjadi pada terapi hormon tiroid.

Bantu pasien menyusun jadwal dan cheklist untuk memastikan pelaksanaan sendiri terapi penggantian hormon tiroid.

Rasional : Memastikan bahwa obat yang; digunakan seperti yang diresepkan.

Uraikan tanda-tanda dan gejala pemberian obat dengan dosis yang berlebihan dan kurang.

Rasional : Berfungsi sebagai pengecekan bagi pasien untuk menentukan apakah tujuan terapi terpenuhi.

Jelaskan perlunya tindak lanjut jangka panjang kepada pasien dan keluarganya.

Rasional : Meningkatkan kemungkinan bahwa keadaan hipo atau hipertiroidisme akan dapat dideteksi dan diobati.


5. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan depresi ventilasi

Tujuan

Perbaikan status respiratorius dan pemeliharaan pola napas yang normal.

Intervensi

Pantau frekuensi; kedalaman, pola pernapasan; oksimetri denyut nadi dan gas darah arterial

Rasional : Mengidentifikasi hasil pemeriksaan dasar untuk memantau perubahan selanjutnya dan mengevaluasi efektifitas intervensi.

Dorong pasien untuk napas dalam dan batuk

Rasional : Mencegah aktifitas dan meningkatkan pernapasan yang adekuat.

Berikan obat (hipnotik dan sedatip) dengan hati-hati

Rasional : Pasien hipotiroidisme sangat rentan terhadap gangguan pernapasan akibat gangguan obat golongan hipnotik-sedatif.

Pelihara saluran napas pasien dengan melakukan pengisapan dan dukungan ventilasi jika diperlukan.

Rasional : Penggunaan saluran napas artifisial dan dukungan ventilasi mungkin diperlukan jika terjadi depresi pernapasan

6. Perubahan pola berpikir berhubungan dengan gangguan metabolisme dan perubahan status kardiovaskuler serta pernapasan.

Tujuan

Perbaikan proses berpikir.

Intervensi

Orientasikan pasien terhadap waktu, tempat, tanggal dan kejadian disekitar dirinya.

Berikan stimulasi lewat percakapan dan aktifitas yang, tidak bersifat mengancam.

Rasional : Memudahkan stimulasi dalam batas-batas toleransi pasien terhadap stres.

Jelaskan kepada pasien dan keluarga bahwa perubahan pada fungsi kognitif dan mental merupakan akibat dan proses penyakit . .

Rasional : Meyakinkan pasien dan keluarga tentang penyebab perubahan kognitif dan bahwa hasil akhir yang positif dimungkinkan jika dilakukan terapi yang tepat


7. Miksedema dan koma miksedema

Tujuan

Tidak ada komplikasi.

Intervensi

Pantau pasien akan; adanya peningkatan keparahan tanda dan gejala hipertiroidisme.

1) Penurunan tingkat kesadaran ; demensia

2) Penurunan tanda-tanda vital (tekanan darah, frekuensi

3) pernapasan, suhu tubuh, denyut nadi)

4) Peningkatan kesulitan dalam membangunkan dan menyadarkan pasien.

Rasional : Hipotiroidisme berat jika tidak: ditangani akan menyebabkan miksedema,

koma miksedema dan pelambatan seluruh sistem tubuh

Dukung dengan ventilasi jika terjadi depresi dalam kegagalan pernapasan

Rasional : Dukungan ventilasi diperlukan untuk mempertahankan oksigenasi yang adekuat dan pemeliharaan saluran napas.

Berikan obat (misalnya, hormon tiroksin) seperti yang diresepkan dengan sangat hati-hati.

Rasional : Metabolisme yang lambat dan aterosklerosis pada miksedema dapat mengakibatkan serangan angina pada saat pemberian tiroksin

Balik dan ubah posisi tubuh pasien dengan interval waktu tertentu.

Rasional : Meminimalkan resiko yang berkaitan dengan imobilitas.

Hindari penggunaan obat-obat golongan hipnotik, sedatif dan analgetik.

Rasional : Perubahan pada metabolisme obat-obat ini sangat meningkatkan risiko jika diberikan pada keadaan miksedema

BAB III

PENUTUP


A.    KESIMPULAN

Berdasarkan Buku Patologi, disebutkan defisiensi ataupun resistensi perifer terhadap hormon tiroid menimbulkan keadaan hipermetabolik terhadap hipotiroidisme. Apabila kekurangan hormon timbul pada anak-anak dapat menimbulkan kretinisme. Pada anak yang sudah agak besar atau pada umur dewasa dapat menimbulkan miksedema, disebut demikian karena adanya edematus, penebalan merata dari kulit yang timbul akibat penimbunan mukopolisakarida hidrofilik pada jaringan ikat di seluruh tubuh.


Pada Buku Ilmu Kesehatan Anak, kretinisme atau hipotiroidisme kongenital dipakai kalau kelainan kelenjar tiroidea sudah ada pada waktu lahir atau sebelumnya. Kalau kelainan tersebut timbul pada anak yang sebelumnya normal, maka lebih baik dipakai istilah hipotiroidisme juvenilis atau didapat.


B.     SARAN

Peran perawat dalam penanganan hipotiroidisme dan mencegah terjadinya hipotiroidisme adalah dengan memberikan asuhan keperawatan yang tepat. Asuhan keperawatan yang tepat untuk klien harus dilakukan untuk meminimalisir terjadinya komplikasi serius yang dapat terjadi seiring dengan kejadian hipotiroidisme.



DAFTAR PUSTAKA

Ø  Flynn RW, McDonald TM, Jung RT, et al. Mortality and vascular outcomes in patients treated for thyroid dysfunction, http://www.aafp.org/afp/20071001/bmj.html last log in : December 1,2007

Ø  McDermott MT, Woodmansee WW, Haugen BR, Smart A,Ridgway EC. The Management of subclinical hyperthyroidism by thyroid specialists. Thyroid 2004,90-110

Ø  Van Sande J, Parma J, Tonacchera M, Swillens S, Dumont J,Vassart G. Somatic and clinical in thyroid diseases.2003, 201-220

Jumat, 12 Februari 2021

Kedaruratan Medis

KEDARURATAN MEDIS DAN KERACUNAN

  

1. KEMANUSIAAN

“Gerakan palang merah dan bulan sabit merah internasional didirikan berdasarkan keinginan memberi pertolongan tanpa membedakan korban yang terluka di dalam pertempuran, mencegah dan mengatasi penderitaan sesama manusia. Palang merah menumbuhkan saling pengertian persahabatan, kerja sama, dan perdamaian abadi bagi sesama manusia.”

2. KESAMAAN

“Gerakan ini tidak membuat perbedaan atas dasar kebangsaan, kesukuan, agama, atau pandangan politik. Tujuannya semata-mata mengurangi penderitaan manusia sesuai dengan kebutuhannya dan mendahulukan keadaan yang lebih parah.”

3. KENETRALAN

“Agar senantiasa mendapat kepercayaan dari semua pihak, gerakan ini boleh memihak atau melibatkan diri dalam pertentangan politik, kesukuan, agama, atau ideologi.”

4. KEMANDIRIAN

“Gerakan ini bersifat mandiri. Perhimpunan Nasional disamping membantu pemerintahnya dalam bidang kemanusiaan, juga harus menaati peraturan negaranya, harus selalu menjaga otonominya sehingga dapat bertindak sejalan dengan prinsip-prinsip gerakan ini.”


5. KESUKARELAAN

“Gerakan ini adalah gerakan pemberi bantuan sukarela, yang tidak didasari oleh keinginan untuk mencari keuntungan apapun.”

6. KESATUAN

“Didalam suatu Negara hanya Ada satu Perhimpunan Palang Merah dan Bulan sabit Merah yang terbuka untuk semua orang dan melaksanakan tugas kemanusiaan di seluruh wilayah.”


7. KESEMESTAAN

“Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasioanal adalah bersifat semesta.Setiap Perhimpunan Nasional mempunyai hak dan tanggung jawab yang sama dalam menolong sesama manusia.”


MARS PMI

Palang Merah Indonesia

Sumber kasih umat manusia

Warisan luhur nusa dan bangsa

Wujud nyata pengayom pancasila

Gerak juangnya keseluruh nusa

Mendarmakan bakti bagi ampera

Tunaikan tugas suci tujuan PMI

Di persada bunda pertiwi

Untuk umat manusia

Di seluruh dunia

PMI menghantarkan jasa


BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Palang Merah Indonesia (PMI) adalah lembaga sosial kemanusiaan yang netral dan mandiri yang didirikan dengan tujuan untuk membantu meringankan penderitaan sesama manusia akibat bencana, baik bencana alam maupun bencana akibat ulah manusia, tanpa membedakan latar belakang korban yang ditolong. Tujuannya semata-mata untuk mengurangi penderitaan sesama manusia yang sesuai dengan kebutuhan dan mendahulukan keadaan yang lebih parah.

Dalam kehidupan sehari-hari tentunya sering kita melihat seseorang yang langsung jatuh pingsan atau yang dialami korban dalam hal ini adalah kasus non trauma, maka dimasukakan kedalam kelompok kedaruratan medis.

Tidak terlepas dari pembahasan kedaruratan medis,dalam kehidupan kita sehari-hari juga dijumpai kasus keracunan, baik itu keracunan makanan maupun keracunan karena mengkonsumsi baha-bahan kimia yang berlebihan, misalnya spesifikasinya, dalam proposal ini akan dibahas tentang gejala-gejala yang sering dialami oleh masyarakat yaitu kedaruratan medis dan keracunan. 

B. Rumusan Masalah

1. Apa itu kedaruratan medis?

2. Bagaimana gejala dan tanda pada kedaruratan medis?

3. Sebutkan jenis-jenis kedaruratan medis dan cara penanganannya?

4. Apa itu keracunan?

5. Bagaimana gejala dan tanda pada keracunan?

6. Sebutkan jenis-jenis keracunan dan cara penanganannya?



C. Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini,yaitu:

1. Untuk mengetahui apa itu kedaruratan medis

2. Untuk mengetahui bagaimana gejala dan tanda pada kedaruratan medis.

3. Untuk mengetahui jenis-jenis kedaruratan medis dan cara penanganannya.

4. Untuk mengetahui apa itu keracunan.

5. Untuk mengetahui bagaimana gejala dan tanda pada keracunan.

6. Untuk mengetahui jenis-jenis karacunan dan cara penanganannya.


D. Manfaat

Adapun manfaatnya materi ini dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari,seperti:

1. Supaya dapat mengetahui apa itu kedaruratan medis

2. Supaya dapat mengetahui bagaimana gejala dan tanda pada kedaruratan medis.

3. Supaya dapat mengetahui jenis-jenis kedaruratan medis dan cara penanganannya.

4. Supaya dapat mengetahui apa itu keracunan.

5. Supaya dapat mengetahui bagaimana gejala dan tanda pada keracunan.

6. Supaya dapat mengetahui jenis-jenis karacunan dan cara penanganannya.



BAB II

PEMBAHASAN

A. Kedaruratan Medis

1. Pengertian Kedaruratan Medis

Kedarurtan medis adalah semua yang dialami korban yang tidak tergolong dalam kecelakaan dimasukkan dalam kelompok kedaruratan medis. Seseorang yang mengalami kasus medis mungkin juga dapat mengalami cedera sebagai akibat dari gejala gangguan fungsi tubuh yang terjadi misalnya kehilangan kesadaran lalu terjatuh sehingga terjadi suatu luka.

Dalam penatalaksanaan Pertolongan Pertama kasus medis tidak banyak berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Hal yang paling penting adalah mengenali kedaruratannya, terutama secara dini. Kesimpulan mengenai keadaan yang dihadapi hampir 80% diperoleh berdasarkan wawancara dengan penderita bila sadar, keluarganya atau saksi mata dan sumber informasi lainnya. Dalam penatalaksanaan penderita yang paling penting adalah menjaga jalan napas dan memantau tanda vital penderita secara teratur, seperti:

· Tekanan darah

· Denyut nadi

· Pernafasan

· Suhu tubuh


2. Gejala dan tanda pada kedaruratan medis.

Gejala merupakan hal-hal yang dirasakan oleh penderita. Sedangkan, tanda merupakan hasil pemeriksaan medis oleh klinisi.

Gejala dan tanda pada kedaruratan medis sangat beragam, khas maupun tidak khas. Perubahan yang tidak normal dari tanda vital penderita sudah mengarah pada kedaruratan medis. Beberapa hal yang dapat diamati pada penderita yang mengarahkan kecurigaan kita pada adanya masalah medis adalah :

Gejala :

1. Demam

2. Nyeri

3. Mual, muntah

4. Buang air kecil berlebihan atau tidak sama sekali

5. Pusing, perasaan mau pingsan, merasa akan kiamat

6. Sesak atau merasa sukar bernapas

7. Rasa haus atau lapar berlebihan, rasa aneh pada mulut

Tanda :

1. Perubahan status mental (tidak sadar, bingung)

2. Perubahan irama jantung : nadi cepat atau sangat lambat, tidak teratur, lemah atau sangat kuat.

3. Perubahan pernapasan: irama dan kualitas warna pada selaput lendir (pucat, kebiruan, terlalu merah)

4. Perubahan keadaan kulit : suhu, kelembaban, keringat berlebihan, sangat kering, termasuk perubahan warna pada selaput lendir (pucat, kebiruan, terlalu merah)

5. Manik mata : sangat lebar, atau sangat kecil

6. Bau khas dari mulut atau hidung

7. Aktivitas otot misalnya kejang atau kelumpuhan

8. Gangguan saluran cerna : mual, muntah atau diare

9. Tanda-tanda lainnya yang seharusnya tidak ada.

Anggap semua keluhan penderita adalah benar. Bila penderita merasa tidak enak atau nyaman maka perlakukan sebagai kasus medis.

3. Jenis-jenis Kedaruratan medis yang umum ditemukan

Adapun jenis-jenis kedaruratan medis yang umum ditemui:

a. Gangguan Jantung Dan Pernafasan

1. Gangguan jantung

Gejala dan tanda

- Nyeri dada atau rasa berat di dada, nyeri sering menyebarlengan kiri, leher, rahang dan punggung.

- Nyeri berkembang beberapa menit dengan permulaan yang tiba-tiba

- Penderita memegang dada dan sedikit membungkuk

- Tidak ada respon, henti nafas dan denyut nadi tidak teraba.

- Sesak nafas setelah melakukan katifitas fisik

- Nadi tidak normal

- Palpitasi

- Pelebaran pembuluh darah

- Pelebaran pemmbuluh darah balik dileher dan tubuh bagian atas.

- Bengkak dipergelangan kaki dan perut

- Mual dan muntah

- Kulit serta selaput lendir pucat, abu-abu atau kebiruan.

- Keringatan yang berlebihan


2. Penatalaksanaan

- Tenangkan penderita dan jangan panik

- Jangan tinggalkan penderita sendiri

- Penderita menghentikan semua kegiatan dan berbaring pada posisi paling nyaman.

- Pastikan jalan napas terbuka dengan baik, beri oksigen jika ada.

- Kendorkan pakaian.

- Jangan beri makan atau minum.

- Lakukan BHD (jika tidak ada respons)

- Rujuk ke fasilitas kesehatan terdekat.


3. Faktor-faktor resiko penyakit jantung

a) Faktor tidak dapat diubah

- Riwayat penyakit dalam keluarga

- Jenis kelamin

- Latar belakang etnis

- Usia

b) Faktor yang dapat diubah

- Merokok

- Tekanan darah tinggi

- Kadar kolesterol tinggi

- Aktivitas fisik

c) Faktor penyulit

- Observasi

- Penyakit gula (diabetes)

- Stress berlebihan


4. Gangguan pernafasan

a) Gejala dan tanda

- Sukar menyelesaikan satu kalimat tanpa berhenti untuk menarik napas.

- Suara napas tambahan

- Kerja otot bantu napas.

- Tripod position.

- Irama dan kualitas pernafasan tidak normal

- Perubahan warna kulit

- Perubahan status mental

- Mengi (pada penyakit asma)

- Nadi cepat

- Batuk darah (pada TBC)

- Demam.

b) Penatalaksanaan

- Nilai pernafasan, beri bantuan napas bila perlu, jaga jalan napas selalu terbuka.

- Letakkan pada posisi paling nyaman.

- Berikan oksigen bila ada.

- Tenangkan penderita.

- Rujuk ke fasilitas kesehatan terdekat.

b. Gangguan/perubahan status mental

Penyebab

- Gangguan kadar gula darah:

ü Hipoksemia : kadar oksigen dalam darah rendah

ü Hipoglemia : kadar zat gula dalam darah rendah

ü Heperglikimia : kadar zat gula dalam darah tinggi

- Stroke (pitam otak) : terjadi sumbatan / pecahnya pembuluh darah dalam otak.

- Pingsan (syncope / collapse) : karena peredaran darah keotak berkurang.

- Kejang umum : ayan (epilepsi)

- Infeksi dan demam

- Keracunan

- Cidera kepala

- Gangguan jiwa : histeria (penderita ingin mendapat perhatian orang sekitarnya.


1. Gangguan kadar gula darah

Terjadi akibat gangguan suatu hormon yang disebut insulin, hormon ini diperlukan untuk mengatur kadar gula darah. Gangguan hormon ini menyebabkan kadar gula darah menjadi tinggi (hipeglikemia)atau rendah (hipoglikemia).

a) Hiperglikemia

Gejala dan tanda:

- Nafas bau aseton (gula anggur)

- Kulit kemerahan dan kering

- Lapar dan haus

- Sering buang air kecil

- Perubahan status mental

- Terlihat seperti mabuk, linglung dan bicaranya kacau.

b) Hipoglikemia

Gejala dan tanda:

- Agresif dan/atau gelisa

- Lari cepat

- Kulit teraba dingin dan kriput

- Lapar

- Sakit kepala

- Kejang-kejang

Penyebab

- Terlambat makan, khususnya pada penderita diabetes

- Muntah-muntah

- Aktifitas fisik berat

- Suhu sangat panas atau sangat dingin

- Stres

- Kelebihan dosis insulin

Penatalaksanaan hiperglikemia dan hipoglikemia

- Lakukan penilaian dini dan usahakan untuk memperoleh riwayat penyakit

- Awasi dan pantau jalan nafas

- Berikan minum manis bila penderita sadar

- Rujuk kefasilitas kesehatan terdekat


2. Kejang

Merupakan kekakuan tubuh atau alat-alat gerak akibat kontraksi dan/atau ralaksi otot yang tidak terkontrol.

a. Penyebab:

- Penyakit kronis tertentu

- Epilepsi

- Hipoglikemia (kadar gula rendah)

- Keracunan (alkohol/obat)

- Stroke

- Demam (umumnya balita)

- Infeksi

- Tercidera kepala/otak

- Hipoksia (kadar O2 rendah)

- Komplikasi kehamilan


3. Ayan (epilepsi)

Kekakuan tubuh dan anggota gerak untuk beberapa saat yang disertai kejang dan diikuti hilangnya kesadaran.

a. Gejala dan tanda:

- Pandangan kosong

- Teriakan tercekik

- Jatuh tiba-tiba

- Wajah dan leher sinosis

- Gerakan kejang otot

- Tidak ada respon

- Mulut berbusa

- BAB dan BAK secara spontan

- Penderita sadar pada waktu yang tidak lama

- Setelah kejang biasanya korban kelelahan dan tertidur


b. Penanganan

- Lindungi penderita dari cidera

- Jangan menahan kejang

- Lindungi lidah penderita

- Posisikan stabil

- Rawat cidera

- Jaga jalan nafas


4. Pingsan (syencope/collapse)

Terjadi karna peredaran darah yang ke organ otak berkurang, yang dapat terjadi akibat emosi yang hebat, berada dalam ruang yang penuh orang tanpa udara segar yang cukup, letih dan lapar, terlalu banyak mengeluarkan tenaga.

a. Gejala dan tanda:

- Perasaan linglung

- Pandangan berkunang-kunang dan telinga berdengung

- Lemas, keluar keringat dinging

- Menguap

- Dapat menjadi tidak ada respon, yang biasanya berlangsung hanya beberapa menit

- Denyut nadi terlambat

b. Penatalaksanaan:

- Baringkan penderita dengan tungkai ditinggikan

- Longgarkan pakaian

- Usuhakan penderita menghirup udara segar

- Periksa cidera lainnya

- Beri selimut, agar badannya hangat

- Bila pulih, usahakan istirahatkan beberapa menit

- Bila tidak cepat pulih, maka:

- Periksa nafas dan nadi

- Posisikan stabil

- Bawa ke fasilitas kesehatan


5. Histeria

Terjadi karna penderita secara kejiwaan ingin mendapat perhatian dari orang-orang sekitarnya.

a. Gejala dan tanda:

- Hilang kesadaran sesaat yang terkesan dibuat-buat

- Mungkin terguling-guling di tanah

- Nafas cepat

- Tidak dapat bergerak atau jalan tanpa sebab yang jelas

b. Penatalaksanaan:

- Tenangkan penderita

- Hindarkan penderita dari orang sekitar

- Bawa penderita ketempat yang tenang

- Dampingi penderita dan awasi terus

- Anjurkan ke dokter setelah tenang


2. Gangguan Akibat Perubahan Lingkungan

Adapun macam-macam gangguan akibat perubahan lingkungan yaitu:

a. Paparan panas (Hipetermia)

Panas dapat mengakibatkan gangguan pada tubuh. Umumnya ada 3 macam gangguan yang terjadi:

1) Kram panas

Terjadi akibat kehilangan garam tubuh yang berlebihan melalui keringat.

Gejala dan Tanda:

- Kejang pada otot yang disertai nyeri

- Tungkai dan perut.

- Kelelahan.

- Mual

- Mungkin pingsan

Penatalaksanaan :

- Baringkan penderita di tempat teduh.

- Beri minum kepada penderita, bila perlu campur sedikit garam. JANGAN MEMBUANG WAKTU UNTUK MENCARI GARAM.

- Rujuk ke fasilitas kesehatan.




2) Kelelahan Panas (Heat Axhaustion)

Terjadi akibat kondisi yang tidak fit pada saat melakukan aktivitas di lingkungan yang suhu udaranya relatif tinggi, yang mengakibatkan terganggunya aliran darah.

Gejala dan tanda :

- Pernapasan cepat dan dangkal.

- Nadi lemah.

- Kulit teraba dingin, keriput, lembab dan selaput lendir pucat

- Pucat, keringat berlebihan.

- Lemah.

- Pusing, kadang tidak repon.

Penatalaksanaan :

- Baringkan penderita di tempat yang teduh.

- Kendorkan pakaian yang mengikat.

- Tinggikan tungkai penderita sekitar 20 – 30 cm.

- Berikan oksigen bila ada.

- Beri minum bila penderita sadar.

- Rujuk ke fasilitas kesehatan.


3) Sengatan Panas (Heat Stroke)

Merupakan keadaan yang mengancam nyawa. Suhu tubuh menjadi terlalu tinggi dan pada banyak kasus penderita tidak lagi berkeringat. Bila tidak diatasi dengan segera, maka sel otak akan segera mati.


Gejala dan tanda:

- Pernapasan cepat dan dalam.

- Nadi cepat dan kuat diikuti nadi cepat tetapi lemah.

- Kulit teraba kering, panas kadang kemerahan

- Manik mata melebar.

- Kehilangan kesadaran.

- Kejang umum atau gemetar pada otot.

Penatalaksanaan :

- Turunkan suhu tubuh penderita secepat mungkin.

- Letakkan kantung es pada ketiak, lipat paha, dibelakang lutut dan sekitar mata kaki serta di samping leher.

- Bila memungkinkan, masukkan penderita ke dalam bak berisi air dingin dan tambahkan es ke dalamnya.

- Rujuk ke fasilitas kesehatan.


b. Paparan dingin (Hipotermia)

Udara dingin dapat menyebabkan suhu tubuh menurun. Suhu lingkungan tidak perlu sampai beku untuk mencetuskan hipotermia. Ada beberapa keadaan yang memperburuk hipotermia yaitu faktor angin dan Kekurangan makanan.

Gejala dan tanda

a) Hipotermia ringan

- Penderita berbicara melantur

- Kulit menjadi agak pucat

- Detak jantung melemah

- Tekanan darah menurun

- Badan menggigil

- Terjadi kontraksi otot sebagai usaha tubuh untuk menghasilkan panas.


b) Hipotermia sedang :

- Menggigil.

- Terasa melayang.

- Pernapasan cepat, nadi lambat.

- Gangguan penglihatan.

- Reaksi mata lambat.

- Gemetar.


c) Hipotermia berat :

- Pernapasan sangat lambat.

- Denyut nadi sangat lambat.

- Tidak ada respon.

- Manik mata melebar dan tidak bereaksi.

- Alat gerak kaku.

- Tidak menggigil.

Penanganan hipotermia:

Rawat penderita dengan hati hati, berikan rasa nyaman.

- Penilaian dini dan pemeriksaan penderita.

- Pindahkan penderita dari lingkungan dingin.

- Jaga jalan napas dan berikan oksigen bila ada.

- Ganti pakaian yang basah, selimuti penderita, upayakan agar tetap kering.

- Bila penderita sadar dapat diberikan minuman hangat secara pelan pelan.

- Pantau tanda vital secara berkala.

- Rujuk ke fasilitas kesehatan.




3. Gangguan Lainnya

1. Tenggelam

a. Pedoman pertolongan:

- Keamanan tempat

- Kondisi penderita

- Kondisi air

- Sumber daya yang tersedia


b. Penanganan

Ø Penderita respon

- Pindahkan penderita

- Lakukan pemeriksaan dini

- Beri O2 bila ada

- Jaga kehangatan tubuh penderita

Ø Jika penderita tidak respon di air dangkal:

- Pertahankan jalan nafas

- Topang punggung penderita

- Stabilisasi kepala dan leher

- Pertahankan wajah tetap keatas bila respon dan

- menghadap ke bawah jika tidak respon (di air dangkal)

Ø Jika penderita tidak respon di air yang tidak aman (dalam, dingin, dan bergerak) atau RJP

- Posisikan penderita diatas papan spinal

- Pindahkan penderita dari air

- Nafas buatan bila perlu



B. KERACUNAN

1. Pengertian Keracunan

Racun adalah suatu zat yang bila masuk dalam tubuh dalam jumlah tertentu dapat menyebabkan reaksi tubuh yang tidak diinginkan bahkan dapat menimbulkan kematian.Dalam keadaan sehari-hari ada beberapa zat yang sering digolongkan sebagai racun namun sebenarnya bahan ini adalah korosif, yaitu dapat menyebabkan luka bakar pada bagian tubuh dalam bila masuk ke dalam tubuh. Penatalaksanaan penderita pada kasus ini biasanya disamakan dengan keracunan.

Keracunan adalah masuknya suatu zat ke dalam tubuh, yang dapat mengganggu kesehatan bahkan dapat menimbulkan kematian.

Pada hakekatnya semua zat dapat berlaku sebagai racun, tergantung pada dosis dan cara pemberiannya. Hampir semua racun bekerja segera, dan k arena itu setiap kasus keracunan merupakan keadaan gawat darurat medis, dan harus mendapat pertolongan segera

a. Cara terjadinya Keracunan pada manusia:

a) Sengaja bunuh diri

Dengan minum obat-obatan/cairan kimia dalam jumlah yang berlebihan misalnya minum racun serangga,obat tidur berlebihan. Sering berakhir dengan kematian, kecuali penemuan kasus keracunan tersebutcepat dan langsung mendapat pertolongan.

b) Keracunan tidak disengaja

Misalnya:

- Makan makanan/minuman yang telah tercemar oleh kuman/ zat kimia tertentu.

- Salah minum yang biasanya terjadi pada anak-anak/orang tua yang sudah pikun misalnya obat kutuanjing disangka susu dan sebagainya.

- Makan singkong yang mengandung kadar sianida tinggi.

- Udara yang tercemar gas beracun.


b. Jalur masuknya racun dalam tubuh manusia

1. Melalui mulut/alat pencernaan.

a) Obat-obatan terutama obat tidur/penenang, biasanya dalam jumlah besar atau diminum denganbahan lain sehingga terjadi reaksi keracunan

b) Makanan yang mengandung racun misalnya: singkong, jengkol, tempe bongkrek, oncom, makanankaleng yang kadaluarsa.

c) Baygon, minyak tanah, zat pembunuh serangga lainnya.

d) Makanan atau minuman yang mengandung alkohol (bir, minuman keras)

e) Perhatikan sekitar penderita mungkin ditemukan petunjuk mengenai sebab keracunannya,misalnya botol obat, pembungkus, sisa makanan, sisa muntahan.


2. Melalui pernapasan.

a. Menghirup gas beracun/udara beracun (misal gas mobil dalam kendaraan yang tertutup).

b. Kebocoran gas industri.


3. Melalui kulit atau absorbsi (kontak)

Zat kimia/tanaman beracun yang terpapar melalui permukaan kulit dan dapat meresap ke dalamkulit tersebut.Keracunan ini dapat juga terjadi akibat tersentuh binatang yang memiliki racun pada kulit ataubagian tubuh lainnya.


4. Melalui suntikan atau gigitan

a. Gigitan / sengatan binatang berbisa (ular, kalajengking, dll.).

b. Gigitan binatang laut (ubur-abur, anemon, ketimun laut, gurita, tiram dll).

c. Obat suntik


c. Prinsip Tindakan Keracunan

1. Mencegah dan menghentikan penyerapan racun:

a. Bila racun di telan

- Encerkan Racun yang ada di dalam lambung, dengan cara beri air minum yang banyak

- Upayakan penderita muntah, efektif bila dilakukan dalam 4 jam setelah racun di telan (kecuali pada keracunan senyawa hidrokarbon)

- Bawa serta hasil muntahan penderita untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium

- Jangan melakukan muntah buatan pada penderita keracunan senyawa hidrokarbon dan pada penderita tidak sadar.

b. Bila Racun Melalui pernafasan

- Pindahkan Penderita ke tempat yang aman berlawanan dengan arah angin

- Beri oksigen

- Jangan berikan nafas dari mulut ke mulut

c. Bila racun melalui kulit / mata

- Pakaian yang terkena di lepas

- Cuci/ bilas bagian yang terkena dengan air yang mengalir, bila racun berbentuk serbuk lakukan penyapuan serbuk terlebih dahulu kemudian bilas dengan air

- Perhatikan jangan sampai penolong terkena

2. Pengobatan /Penanggulangan sesuai keadaan:

a. Jika Henti nafas berikan nafas buatan

b. Jika Henti jantung lakukan RJP/CPR

c. Jika nyeri bisa di berikan obat anti nyeri (parasetamol)

3. Segera evakuasi ke Pelayanan kesehatan terdekat


2. Gejala dan tanda keracunan secara umum

Gejala dan tanda keracunan yang khas biasanya sesuai dengan jalur masuk racun ke dalam tubuh.Bila masuk melalui saluran pencernaan, maka gangguan utama akan terjadi pada saluran pencernaan.Bila masuk melalui jalan napas maka yang terganggu adalah pernapasannya dan bila melalui kulitakan terjadi reaksi setempat lebih dahulu. Gejala lanjutan yang terjadi biasanya sesuai dengansifat zat racun tersebut terhadap tubuh.

Gejala dan tanda keracunan umum :

- Riwayat yang berhubungan dengan proses keracunan

- Penurunan respon

- Gangguan pernapasan

- Nyeri kepala, pusing, gangguan penglihatan

- Mual, muntah, diare

- Lemas, lumpuh, kesemutan

- Pucat atau sianosis

- Kejang-kejang

- Gangguan pada kulit

- Bekas suntikan, gigitan, tusukan

- Syok


3. Jenis-Jenis Keracunan

a. Gigitan Ular

Bila seseorang penderita luka gigitan ular menunjukkan gejala dan tanda maka berarti keadaannya serius dan perlu penanganan khusus.Beberapa gejala dan tanda :

- Demam

- Mual dan muntah

- Pingsan

- Lemah

- Nadi cepat dan lemah

- Kejang

- Gangguan pernapasan

Penanganan pada gigitan ular:

1. Amankan diri penolong dan tempat kejadian

2. Tenangkan penderita

3. Lakukan penilaian dini

4. Rawat luka, bila perlu pasang bidai.

5. Rujuk ke fasilitas kesehatan

Alternatif :

- Pemakaian pembalut elastis

- Identifikasi ular (jangan memakai torniket)


b. Keracunan makanan

1. Keracunan Botulinum:

Clostridium Butolinum adalah kuman yang hidup secara anaerob, yaitu di tempat tempat yang tidak ada udaranya, kuman tersebut di temukan pada makanan kaleng yang diolah secara tidak sempurna dan juga pada makanan kaleng yang sudah kadaluarsa.

Tanda dan Gejala

- Masa Kejadian 8 jam – 8 hari

- Gangguan penglihatan, pandangan menjadi ganda

- Lemah

- Refleks pupil tidak ada (pupil mata di kasih sinar senter tidak mengecil)

- Tidak ada gangguan pencernaan dan kesadaran

Tindakan :

- Beri air minum yang banyak

- Upayakan Muntah


2. Keracunan Makanan Laut

Beberapa jenis ikan laut seperti ikan buntal dapat menyebabkan keracunan

Tanda dan Gejala :

- Masa Kejadian ¼ - 4 Jam

- Rasa Panas di sekitar mulut

- Lemah, Rasa kebal pada tangan dan kaki

- Mual, Muntah

- Nyeri pertu dan diare

- Sulit bernafas

Tindakan :

1. Beri minum yang banyak

2. Upayakan muntah

3. Berikan nafas buatan bila perlu


3. Keracunan Jengkol

Keracunan jengkol terjadi karena terbentuknya Kristal asam jengkol dalam saluran kencing,

Hal-Hal yang diduga mempengaruhi timbulnya keracunan jengkol :

- Jumlah yang di konsumsi

- Cara penghidangan

- Makan penyerta lainnya (udah makan jengkol, di tambah pula pete)

Tanda dan Gejala :

- Masa kejadian beberapa jam – 48 jam

- Nafas, mulut dan air seni korban bau jengkol

- Sakit pinggang yang di sertai sakit perut

- Nyeri waktu buang air kecil

- Buang air kecil kadang disertai darah

Tindakan :  

- Minum air putih yang banyak

- Beri obat penghilang rasa sakit (Paracetamol)

- Kalau parah banget ke RS buat di cuci darah


4. Keracunan Jamur:

Biasanya jamur yang beracun adalah jamur yang berpenampilan menarik, jadi kalau ada cowok / cewek yang berpenampilan menarik, hati hati gan, jangan-jangan beracun.

Tanda dan Gejala :

a. Masa Kejadian dalam 6 jam

b. Sakit perut disertai diare kadang bercampur darah

c. Muntah

d. Berkeringat banyak

Tindakan :

1. Beri Minum banyak

2. Upayakan muntah

3. Kurangi makanan yang mengandung karbohidrat


5. Keracunan Singkong:

Umbi singkong secara alami mengandung HCN, keracunan dapat terjadi tergantung dari jumlah HCN yang di konsumsi, cara pengolahan dan penghidangan.

Tanda dan Gejala

a. Masa kejadian 1-beberapa jam

b. Mual dan muntah

c. Sesak nafas

d. Tubuh membiru

e. Dapat terjadi koma dan kematian.

Tindakan :

1. Beri minum banyak

2. Upayakan muntah

3. Beri udara bebas


6. Keracunan Tempe Bongkek:

Tempe bongkrek terbuat dari ampa kelapa yang mengandung Baccillus Cocovenas yang membentuk asam bongkrek

Tanda dan gejala

a. Masa kejadian dalam beberapa jam

b. Kejang perut

c. Kejang otot

d. Sesak nafas, dapat terjadi kematian.

Tindakan :

1. Beri minum yang banyak

2. Upayakan muntah

3. Berikan nafas buatan bila perlu


7. Keracunan Makanan Basi:

Penyebab adalah Staphylococcus Aereus

Tanda dan Gejala

a. Mual, Muntah

b. Diare

c. Nyeri perut

d. Nyeri Kepala, demam

e. Kekurangan cairan

Tindakan:

1. Beri Minum banyak

2. Upayakan Muntah


c. Keracunan zat-zat kimia dan obat-obatan

1. Keracunan Alkohol:

Etil alcohol (wiski berkadar 40%), alcohol pekat (95% dan 75%), metil alcohol (spritus)Quote:Tanda dan Gejala

a. Kekacauan mental

b. Pupil mata melebar

c. Sering muntah muntah

d. Bau alcohol.

Tindakan :

1. Upayakan muntah bila penderita sadar

2. Pertahankan agar pernafasan baik

3. Bila sadar, beri minum kopi hitam

4. Pernafasan buatan bila perlu

2. Keracunan Acetosal:

Aspirin, Naspro (obat sakit kepala)

Tanda dan gejala

a. Nafas dan nadi cepat

b. Gelisah

c. Nyeri perut

d. Muntah (sering bercampur darah)

e. Sakit Kepala.

Tindakan

1. Upayakan muntah

2. Beri minum air atau susu

3. Berikan vitamin K bila muntah bercampur darah


3. Keracunan Sedativa Psikotropika:

Obat tidur

Tanda dan gejala

a. Refleks berkurang

b. Nafas lambat

c. Awal nya pupil mengecil lama-lama melebar

d. Syok (nadi cepat lebih 100 kali, dan tekanan darah rendah).

 Tindakan :

1. Beri Minum air banyak

2. Upayakan muntah


4. Keracunan Arsenicum:

Racun Tikus, Insektisida, Pengawet kayu.

Tanda dan gejala:

a. Perut dan tenggorokan rasa terbakar

b. Muntah

c. Mulut kering

d. Buang air besar seperti air cucian beras

e. Nafas dan kotoran berbau bawang

f. Kejang.

Tindakan

1. Upayakan muntah

2. Beri air hangat


5. Keracunan Senyawa Hidrokarbon:

Bensin, minyak tanah, baygon,detergen.

Tanda dan gejala

Ø Bila terhirup

a. Nyeri kepala

b. Mual

c. Muntah

d. Lemah

e. Sesak nafas.


Ø Bila tertelan

1. Muntah

2. Diare.

Tindakan

a) Jangan lakukan muntah

b) Beri minum air hangat

c) Jangan beri susu


6. Keracunan Monoksida (CO):

Sifat: tidak berbau dan bewarna

Umber gas CO dapat bersala dari gas domestic dan gas pembuangan mesin, cara kerja CO dalam tubuh yaitu bergabung dengan hemoglobin dalam darah, akibatnya hemoglobin tidak dapat mengikat O2

Tanda dan Gejala

a. Bibir dan kulit berwarna merah jambu

b. Sakit kepala dan pusing

c. Korban bingung

d. Sesak nafas

e. Syok.


Tindakan:

- Pindahkan korban ke area yang aman berlawanan dengan arah angin


7. Keracunan H2S

Sifat : tidak berbau dan tidak berwarna, lebih ringan dari CO dan O2, sumber H2s bersal dari tambang eksplorasi gas alam. Dapat masuk kedalam organ pernafasan, berat dan ringan keracunan H2S tergantung dari jumlah H2S yang masuk kedalam tubuh penderita.

Tanda dan gejala

a. Sesak nafas

b. Seperti orang tercekik

c. Syok

d. Wajah biru

e. Tidak sadar.

Tindakan :

- Jauhkan penderita dari lokasi sumber H2S, berlawanan dengan arah angin



BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Kedaruratan medis adalah semua yang dialami korban yang tidak tergolong dalam kecelakan atau non trauma serta dapat juga mengalami cedera sebagai akibat dari gejala gangguan fungsi tubuh, misalnya kehilangan kesadaran lalu terjatuh sehingga terjadi suatu luka.

Adapun gejala yang terjadi pada kedaruratan medis, yaitu:

- Demam

- Nyeri

- Mual, muntah

- Buang air kecil berlebihan atau tidak sama sekali

- Pusing, perasaan mau pingsan, merasa akan kiamat

- Sesek atau merasa susah bernafas

- Rasa haus atau lapar berlebihan, rasa aneh pada mulut


Adapun tanda yang terjadi pada kedaruratan medis, yaitu:

- Perubahan status mental (tidak sadar, bingung)

- Perubahan irama jantung : nadi cepat atau sangat lambat, tidak teratur, lemah atau sangat kuat.

- Perubahan pernapasan: irama dan kualitas warna pada selaput lendir (pucat, kebiruan, terlalu merah)

- Perubahan keadaan kulit : suhu, kelembaban, keringat berlebihan, sangat kering, termasuk perubahan warna pada selaput lendir (pucat, kebiruan, terlalu merah)

- Manik mata : sangat lebar, atau sangat kecil

- Bau khas dari mulut atau hidung

- Aktivitas otot misalnya kejang atau kelumpuhan

- Gangguan saluran cerna : mual, muntah atau diare

- Tanda-tanda lainnya yang seharusnya tidak ada.

Secara umum gangguan medis dapat dibagi menjadi:

1. Gangguan jantung dan pernafasan

2. Gangguan kesadaran atau perubahan status mental

3. Gangguan akibat perubahan lingkungan

4. Gangguan lainnya.


Keracunan adalah masuknya suatu zat ke dalam tubuh, yang dapat mengganggu kesehatan bahkan dapat menimbulkan kematian.

Gejala dan tanda keracunan umum :

- Riwayat yang berhubungan dengan proses keracunan

- Penurunan respon

- Gangguan pernapasan

- Nyeri kepala, pusing, gangguan penglihatan

- Mual, muntah, diare

- Lemas, lumpuh, kesemutan

- Pucat atau sianosis

- Kejang-kejang

- Gangguan pada kulit

- Bekas suntikan, gigitan, tusukan

- Syok







Keracunan di bagi menjadi:

- Gigitan ular

- Keracunan makanan

- Keracunan zat-zat kimia dan obat-obatan


B. SARAN

Proposal yang berjudul “kedaruratan medis dan keracunan” ini semoga dapat menjadi sumber informasi dan inspirasi bagi pembaca. Penulis berharap kepada pembaca agar kiranya memberikan saran atau masukan apabiala terdapat kekurangan dalam proposal ini.




DAFTAR PUSTAKA

https://oshigita.wordpress.com/2013/10/16/pemeriksaan-tanda-tanda-vital-vital-sign/comment-page-1/

https://ksrpmiunair.wordpress.com/2012/06/03/kedaruratan-medis-dan-pendarahan/

http://ksrpmiunit108.blogspot.com/2013/04/kedaruratan-medis.html

http://ksrpmiunitikopin.blogspot.com/2010/10/keracunan.html

Minggu, 07 Februari 2021

Hipertiroidisme

 Penyakit hipertiroidisme atau hipertiroid adalah penyakit akibat kadar hormon tiroid terlalu tinggi di dalam tubuh. Kondisi kelebihan hormon tiroid ini dapat menimbulkan gejala jantung berdebar, tangan gemetar, dan berat badan turun drastis.


Kelenjar tiroid terletak di bagian depan leher dan berperan sebagai penghasil hormon tiroid. Hormon ini berfungsi untuk mengendalikan proses metabolisme, seperti mengubah makanan menjadi energi, mengatur suhu tubuh, dan mengatur denyut jantung.


Hipertiroidisme


Kerja dari kelenjar tiroid juga dipengaruhi oleh kelenjar di otak yang dinamakan kelenjar pituitari atau kelenjar hipofisis. Kelenjar hipofisis akan menghasilkan hormon yang dinamakan TSH dalam mengatur kelenjar tiroid untuk menghasilkan hormon tiroid.



Ketika kadar hormon tiroid dalam tubuh terlalu tinggi, maka proses metabolisme akan berlangsung semakin cepat dan memicu berbagai gejala. Penanganan perlu segera dilakukan untuk mencegah memburuknya gejala hyperthyroidism atau hipertiroid yang muncul.


Tanda dan Gejala Hipertiroidisme


Gejala yang ditimbulkan oleh hipertiroidisme terjadi akibat metabolisme tubuh berlangsung lebih cepat. Gejala ini dapat dirasakan secara perlahan maupun mendadak. Gejala yang muncul antara lain:


Jantung berdebar

Tremor atau gemetar di bagian tangan

Mudah merasa gerah dan berkeringat

Gelisah

Mudah marah

Berat badan turun drastis

Sulit tidur

Konsentrasi menurun

Diare

Penglihatan kabur

Rambut rontok

Gangguan menstruasi pada wanita

Selain gejala yang dapat dirasakan oleh penderita, ada beberapa tanda-tanda fisik yang dapat ditemukan pada penderita hipertiroidisme. Tanda tersebut meliputi:


Pembesaran kelenjar tiroid atau penyakit gondok

Bola mata terlihat sangat menonjol

Muncul ruam kulit atau biduran

Telapak tangan kemerahan

Tekanan darah meningkat

Selain itu, terdapat jenis hipertirodisme yang tidak menimbulkan gejala. Gangguan ini disebut hipertiroid subklinis. Kondisi ini ditandai dengan meningkatnya TSH tanpa disertai dengan hormon tiroid. Setengah penderitanya akan kembali normal tanpa pengobatan khusus.


Kapan harus ke dokter


Segera periksakan diri ke dokter jika mengalami gejala hipertiroidisme. Langkah diagnosis perlu dilakukan untuk mengetahui penyebab dan mendapatkan pengobatan.


Konsultasikan dengan dokter secara rutin jika sedang atau baru saja menjalani pengobatan hipertiroidisme. Dokter akan memantau perkembangan penyakit dan respons tubuh terhadap pengobatan.


Hipertiroid dapat menimbulkan komplikasi yang berbahaya untuk penderitanya, yaitu krisis tiroid atau thyroid storm. Segeralah ke IGD jika muncul gejala hipertiroidisme yang disertai dengan demam, diare, hingga penurunan kesadaran, baik selama maupun setelah menjalani pengobatan hipertiroidisme.


Penyebab Hipertiroidisme

Gangguan yang dapat menyebabkan hipertiroid bermacam-macam, mulai dari penyakit autoimun hingga efek samping obat. Berikut ini adalah berbagai penyebab penyakit dan kondisi yang bisa menyebabkan hipertiroidisme:


Penyakit Graves akibat autoimun atau kekebalan tubuh sendiri yang menyerang sel normal.

Peradangan kelenjar tiroid atau tiroiditis.

Benjolan, seperti toxic nodular tiroid, atau tumor jinak di kelenjar tiroid atau kelenjar pituitari (hipofisis).

Kanker tiroid.

Tumor di testis atau ovarium.

Konsumsi obat dengan kandungan iodium tinggi, misalnya amiodarone.

Penggunaan cairan kontras dengan kandungan iodium dalam tes pemindaian.

Terlalu banyak konsumsi makanan yang mengandung iodium tinggi, seperti makanan laut, produk susu, dan telur.

Selain beberapa penyebab di atas, ada faktor-faktor lain yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena hipertiroidisme. Faktor risiko tersebut meliputi:


Berjenis kelamin wanita.

Memiliki anggota keluarga yang menderita penyakit Graves.

Menderita penyakit kronis, seperti diabetes tipe 1, anemia, atau gangguan kelenjar adrenal.

Hipertiroidisme pada kehamilan


Hyperthyroidism atau hipertiroidisme juga dapat terjadi selama masa kehamilan. Selama masa kehamilan, tubuh menghasilkan hormon alami yang dikenal dengan HCG (human chorionic gonadotropin). Kadar hormon ini akan semakin meningkat, terutama pada usia kehamilan 12 minggu.


Tingginya hormon HCG dalam tubuh dapat merangsang kelenjar tiroid untuk menghasilkan lebih banyak hormon tiroid, sehingga memicu munculnya gejala hipertiroidisme. Hipertiroidisme juga rentan terjadi pada kehamilan kembar dan pada kasus hamil anggur.


Diagnosis Hipertiroidisme

Dalam mendiagnosis hipertiroid, dokter akan menanyakan gejala yang dialami penderita dan melakukan pemeriksaan fisik untuk mendeteksi tanda hipertiroidisme, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.


Jika dokter telah melihat tanda hipertiroidisme, tes darah akan dilakukan untuk mengukur kadar hormon pemicu tiroid (TSH) dan hormon tiroid dalam darah. Tes darah juga dilakukan untuk mengukur tingginya kadar kolesterol dan gula dalam darah, yang dapat menjadi tanda gangguan metabolisme akibat hipertiroidisme.


Dokter juga akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk mendeteksi penyebab hipertiroidisme. Beberapa jenis pemeriksaan lanjutan yang dilakukan adalah:


USG tiroid, untuk memeriksa kondisi kelenjar tiroid dan mendeteksi adanya benjolan atau tumor di kelenjar tersebut.

Thyroid scan (nuklir tiroid), untuk memindai kondisi kelenjar tiroid dengan kamera khusus dengan sebelumnya menyuntikan zat radioaktif ke dalam pembuluh darah.

Tes iodium radioaktif, sama seperti thyroid scan yaitu untuk memindai kelenjar tiroid dengan sebelumnya pasien diminta menelan zat radioaktif mengandung iodium dosis rendah.

Pengobatan Hipertirodisme


Pengobatan hipertiroid bertujuan untuk mengembalikan kadar normal hormon tiroid, sekaligus mengatasi penyebabnya. Jenis pengobatan yang diberikan juga berdasarkan tingkat keparahan gejala, serta usia dan kondisi penderita secara keseluruhan. Berikut ini beberapa cara mengobati dan mengatasi hipertiroidisme:


Obat-obatan


Pemberian obat bertujuan untuk menghambat atau menghentikan fungsi kelenjar tiroid dalam menghasilkan hormon berlebih dalam tubuh. Jenis obat yang digunakan adalah methimazole, carbimazole dan propylthiouracil. Dokter juga akan memberikan obat yang dapat menurunkan detak jantung untuk mengurangi gejala jantung berdebar.


Dokter akan menurunkan dosis obat apabila kadar hormon tiroid dalam tubuh telah kembali normal, biasanya 1-2 bulan setelah mulai kosumsi obat. Diskusikan dengan dokter endokrin mengenai lamanya penggunaan obat.


Terapi iodium radioaktif


Terapi iodium radioaktif bertujuan untuk menyusutkan kelenjar tiroid, sehingga mengurangi jumlah hormon tiroid yang dihasilkan. Penderita akan diberikan cairan atau kapsul yang mengandung zat radioaktif dan iodium dosis rendah, yang kemudian akan diserap oleh kelenjar tiroid. Terapi iodium radioaktif berlangsung selama beberapa minggu atau bulan.


Meski dosis yang diberikan rendah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan penderita setelah menjalani pengobatan hipertiroid ini, di antaranya:


Hindari kontak dengan anak-anak dan ibu hamil selama beberapa hari atau minggu untuk mencegah penyebaran radiasi.

Tidak dianjurkan untuk hamil setidaknya selama enam bulan setelah pengobatan.

Operasi


Operasi pengangkatan kelenjar tiroid atau tiroidektomi dilakukan pada beberapa kondisi sebagai berikut:


Pemberian obat dan terapi iodium radioaktif tidak efektif untuk mengatasi hipertiroidisme.

Pembengkakan yang terjadi pada kelenjar tiroid cukup parah.

Kondisi penderita tidak memungkinkan untuk menjalani pengobatan dengan obat-obatan atau terapi iodium radioaktif, misalnya sedang hamil atau menyusui.

Penderita mengalami gangguan penglihatan yang cukup parah.

Prosedur tiroidektomi dapat bersifat total atau sebagian, tergantung kondisi penderita. Namun, sebagian besar tiroidektomi dilakukan dengan mengangkat seluruh kelenjar tiroid untuk mencegah risiko hipertiroidisme kambuh atau muncul kembali.


Penderita yang menjalani operasi pengangkatan kelenjar tiroid total dan terapi radioaktif iodium dapat mengalami hipotiroidisme. Kondisi ini dapat diatasi dengan mengonsumsi obat berisi hormon tiroid. Akan tetapi, konsumsi obat ini mungkin perlu dilakukan seumur hidup.


Komplikasi Hipertiroidisme


Hipertiroidisme dapat menyebabkan komplikasi jika penanganan tidak segera dilakukan. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi adalah:


Krisis tiroid atau thyroid storm

Osteoporosis

Gangguan irama jantung (atrial fibrilasi)

Bahaya penyakit hipertiroid saat kehamilan


Penanganan hipertiroidisme selama kehamilan perlu segera dilakukan untuk mencegah komplikasi yang dapat membahayakan ibu hamil dan bayi yang dikandungnya. Beberapa komplikasi hipertiroid pada kehamilan yang dapat terjadi:


Preeklamsia

Kelahiran prematur

Keguguran

Bayi dengan berat badan lahir rendah

Pencegahan Hipertiroidisme


Cara terbaik untuk mencegah hipertiroidisme adalah dengan menghindari kondisi yang dapat meningkatkan risiko Anda terkena penyakit ini. Sebagai contoh bila Anda menderita penyakit diabetes tipe 1 yang berisiko menimbulkan hipertiroid, Anda perlu untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.


Selain mencegah hipertiroidisme muncul, pencegahan agar gejala yang timbul menjadi tidak lebih buruk juga tidak kalah penting. Ada beberapa pola hidup sehat yang dapat dilakukan untuk mengendalikan gejala dari hipertiroidisme, yaitu:


Mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang

Berolahraga secara teratur

Mengelola stres dengan baik

Tidak merokok

Terakhir diperbarui: 17 September 2019

Ditinjau oleh : dr. Tjin Willy