Senin, 05 April 2021

Evaluasi Keperawatan

 Evaluasi adalah aktivitas yang direncanakan, berkelanjutan, dan terarah ketika klien dan professional kesehatan menentukan kemajuan klien menuju pencapaian tujuan atau hasil keefektifan rencana asuhan keperawatan dengan tindakan intelektual dalam melengkapi proseskeperawatan yang menandakan keberhasilan untuk diagnosa keperawatan rencana intervensi dan implementasinya 

Tahap evaluasi memungkinkan perawat dalam memonitor apa yang terjadi selama pengkajian analisis, perencanaan dan implementasi intervensi (Nursalam, 2008).

Evaluasi keperawatan adalah mengkaji respon pasien setelah dilakukan intervensi keperawatan dan mengkaji ulang asuhan keperawatan yang telah diberikan(Deswani, 2009). Evaluasi keperawatan adalah kegiatan yang terus menerus dilakukan untuk menentukan apakah rencana keperawatan efektif dan bagaimana rencana keperawatan dilanjutkan merevisi rencana atau menghentikan rencana keperawatan (Manurung 2011). 


Komponen evaluasi dapat dibagi menjadi 5 komponen (Pinnell dan Meneses, 1986, hlm.229-230) :

1. Menentukan kriteria, standar praktik dan pertanyaan evaluatif.

a. Kriteria Kriteria digunakan sebagai pedoman observasi untuk pengumpulan data dan sebagai penentuan kesahihan data yang terkumpul Semua kriteria yang ddigunakan pada tahap evaluasi ditulis sebagai kriteria hasil. Kriteria hasil menandakan hasil akhir asuhan keperawatan. Sedangkan standar keperawatan digunakan sebagai dasar untuk evaluasi praktik keperawatan secaraluas. 

Kriteria hasil didefinisikan sebagai standar untuk menjelaskan respons atau hasil dari rencana asuhan keperawatan. Hasil tersebut akan menjelaskan bagaimana keadaan klien setelah dilakukan observasi. Kriteria hasil dinyatakan dalam istilah perilaku (behaviour) sebagaimana disebutkan dalam bab terdahulu, supaya dapat diobservasi atau diukur dan kemudian dijelaskan dalam istilah yang mudah dipahami. Idealnya, setiap hasil dapat dimengerti oleh setiap orang yang terlibat dalam evaluasi. 

b. Standar Praktik Standar 

asuhan keperawatan dapat digunakan untuk mengevaluasi praktik keperawatan secara luas. Standar tersebut menyatakanhal yang harus dilaksanakan dan dapat digunakan sebagai suatu model untuk kualitas pelayanan.

Standar harus berdasarkan hasil penelitian konsep teori, dan dapat diterima oleh praktik klinik keperawatan saat ini. Standar harus secara cermat disusun dan diuji untuk menentukan kesesuaian dalam penggunaannya Contoh pemakaian standardapat dilihat pada Standar praktik Keperawatan yang disusun oleh ANA.

c. Pertanyaan Evaluatif 

untuk menentukansuatu kriteria dan standar perlu digunakan pertanyaan evaluative(evaluative questions) sebagai dasar mengevaluasi kualitas asuhan keperawatan dan respons klien terhadapintervensi.

2. Mengumpukan data mengenai status kesehatan klien yang baru terjadi. Pada tahap ini kita perlu mempertimbangkan beberapa pertanyaan.

Siapa yang bertanggung jawab dalam pengumpulan data? 

Kapan data tersebut diperoleh 

Dan saran apa yang akan digunakan untuk memperoleh data?

Perawat professional yang pertama kali mengkaji data klien dan menyusun perencanaan adalah orang yang bertanggung jawab dalam mengevaluasi respon klien terhadap intervensi yang diberikan. Perawat lain yang membantu memberikan intervensi kepada klien harus berpartisipasi dalam proses evaluasi. Validitas informasi meningkat jika lebih dari satu orang yang ikut melakukan evaluasi.

3. Menganalisis dan membandingkan data terhadap kriteria dan standar. Perawat memerlukan keterampilan dalam berfikir kritis, kemampuan menyelesaikan masalah, dan kemampuan mengambil keputusan klinik.

Kemampuan ini diperlukan untuk menentukan kesesuaian dan pentingnya suatu data dengan cara membandingkan data evaluasi dengan kriteria serta standar dan menyesuaikan asuhan keperawatan yang diberikan dengan kriteria dan standar yang sudah ada. Pada tahap ini perawat dituntut untuk dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang mungkin dapat memengaruhi efektifitas asuhan keperawatan.

4. Merangkum hasil dan membuat kesimpulan. Pertama kali yang perlu dilaksanakan oleh perawat pada tahap ini adalah menyimpulkan efektivitas semua intervensi yang telah dilaksanakan. Kemudian menentukan kesimpulan pada setiap diagnosis yang telah dilakukan intervensi.

Yang perlu diingat disini adalah tidak mungkin membuat suatu perencanaan 100% berhasil oleh karena itu memerlukan suatu perbaikan dan perubahan-perubahan, sebaliknya tidak mungkin perencanaan yang telah disusun 100% gagal. Untuk itu diperlukan kejelian dalam menyusun perencanaan, intervensi yang tepat, dan menilai respon klien setelah diintervensi seobjektif mungkin.

5. Melaksanakan intervensi yang sesuai berdasarkan kesimpulan. Pada tahap ini perawat melakukan intervensi berdasarkan hasil kesimpulan yang sudah diperbaiki dari perencanaan ulang, tujuan, kriteria hasil, dan rencana asuhan keperawatan. Meskipun pengajian dilaksanakan secara rutin dan berkesinambungan, aspek-aspek khusus perlu dikaji ulang dan penambahan data untuk akurasi suatu asuhan keperawatan.

Jenis- jenis Evaluasi dalam asuhan

keperawatan antara lain :

1. Evaluasi formatif (proses)

adalah aktivitas dari proses keperawatan dan hasil kualitas pelayanan asuhan keperawatan. Evaluasi proses harus dilaksanakan segera setelah perencanaan keperawatan diimplementasikan untuk membantu menilai efektivitas intervensi tersebut. Evaluasi proses harus terus menerus dilaksanakan hingga tujuan yang

telah ditentukan tercapai. Metode pengumpulan data dalam evaluasi proses

terdiri atas analisis rencana asuhan

keperawatan, pertemuan kelompok,

wawancara, observasi klien, dan

menggunakan form evaluasi. Ditulis

pada catatan perawatan. Contoh:

membantu pasien duduk semifowler,

pasien dapat duduk selama 30 menit

tanpapusing.

2. Evaluasi Sumatif (hasil)

Rekapitulasi dan kesimpulan dari

observasi dan analisa status kesehatan

sesuai waktu pada tujuan. Ditulis pada

catatan perkembangan. Focus evaluasi

hasil (sumatif) adalah perubahan perilaku

atau status kesehatan klien pada akhir

asuhan keperawatan.Tipe evaluasi ini

dilaksanakan pada akhir asuhan

keperawatan secara paripurna.

Hasil dari evaluasi dalam asuhan

keperawatan adalah : Tujuan

tercapai/masalah teratasi: jika klien

menunjukkan perubahan sesuai dengan

standar yang telah ditetapkan. Tujuan

tercapai sebagian/masalah teratasi

sebagian: jika klien menunjukkan

perubahan sebagian dari standar dan

kriteria yang telah ditetapkan. Dan

Tujuan tidak tercapai/masalah tidak

teratasi: jika klien tidak menunjukkan

perubahan dan kemajuan sama sekali dan

bahkan timbul masalah baru.

Penentuan masalah teratasi, teratasi

sebagian, atau tidak teratasi adalah

dengan cara membandingkan antara

SOAP/SOAPIER dengan tujuan dan

kriteria hasil yang telah ditetapkan.

S (Subjective) : adalah informasi

berupa ungkapan

yang didapat dari

klien setelah

tindakan diberikan.

O (Objective) : adalah informasi yang

didapat berupa hasil

pengamatan,

penilaian,

pengukuran yang

dilakukan oleh

perawat setelah

tindakan dilakukan.

A (Analisis) : adalah

membandingkan

antara informasi

subjective dan

objective dengan

tujuan dan

kriteria hasil, kemudian diambil

kesimpulan bahwa

masalah teratasi,

teratasi sebahagian,

atau tidak teratasi.

P (Planning) : adalah rencana

keperawatan lanjutan

yang akan dilakukan

berdasarkan hasil

analisa.

Penutup

Evaluasi keperawatan adalah

kegiatan yang terus menerus dilakukan

untuk menentukan apakah rencana

keperawatan efektif dan bagaimana

rencana keperawatan dilanjutkan,

merevisi rencana atau menghentikan

rencana keperawatan. Komponen evaluasi

dapat dibagi menjadi 5 komponen, yaitu :

1. Menentukan kriteria, standar praktik,

dan pertanyaan evaluative. 2.

Mengumpukan data mengenai status

kesehatan klien yang baru terjadi. 3.

Menganalisis dan membandingkan data

terhadap kriteria dan standar.Perawat. 4.

Merangkum hasil dan membuat

kesimpulan. 5. Melaksanakan intervensi

yang sesuai berdasarkan kesimpulan.

Jenis- jenis Evaluasi dalam asuhan

keperawatan antara lain : Evaluasi

formatif (proses), dan Evaluasi Sumatif

(hasil).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar