Evaluasi adalah aktivitas yang direncanakan, berkelanjutan, dan terarah ketika klien dan professional kesehatan menentukan kemajuan klien menuju pencapaian tujuan atau hasil keefektifan rencana asuhan keperawatan dengan tindakan intelektual dalam melengkapi proseskeperawatan yang menandakan keberhasilan untuk diagnosa keperawatan rencana intervensi dan implementasinya
Tahap evaluasi memungkinkan perawat dalam memonitor apa yang terjadi selama pengkajian analisis, perencanaan dan implementasi intervensi (Nursalam, 2008).
Evaluasi keperawatan adalah mengkaji respon pasien setelah dilakukan intervensi keperawatan dan mengkaji ulang asuhan keperawatan yang telah diberikan(Deswani, 2009). Evaluasi keperawatan adalah kegiatan yang terus menerus dilakukan untuk menentukan apakah rencana keperawatan efektif dan bagaimana rencana keperawatan dilanjutkan merevisi rencana atau menghentikan rencana keperawatan (Manurung 2011).
Komponen evaluasi dapat dibagi menjadi 5 komponen (Pinnell dan Meneses, 1986, hlm.229-230) :
1. Menentukan kriteria, standar praktik dan pertanyaan evaluatif.
a. Kriteria Kriteria digunakan sebagai pedoman observasi untuk pengumpulan data dan sebagai penentuan kesahihan data yang terkumpul Semua kriteria yang ddigunakan pada tahap evaluasi ditulis sebagai kriteria hasil. Kriteria hasil menandakan hasil akhir asuhan keperawatan. Sedangkan standar keperawatan digunakan sebagai dasar untuk evaluasi praktik keperawatan secaraluas.
Kriteria hasil didefinisikan sebagai standar untuk menjelaskan respons atau hasil dari rencana asuhan keperawatan. Hasil tersebut akan menjelaskan bagaimana keadaan klien setelah dilakukan observasi. Kriteria hasil dinyatakan dalam istilah perilaku (behaviour) sebagaimana disebutkan dalam bab terdahulu, supaya dapat diobservasi atau diukur dan kemudian dijelaskan dalam istilah yang mudah dipahami. Idealnya, setiap hasil dapat dimengerti oleh setiap orang yang terlibat dalam evaluasi.
b. Standar Praktik Standar
asuhan keperawatan dapat digunakan untuk mengevaluasi praktik keperawatan secara luas. Standar tersebut menyatakanhal yang harus dilaksanakan dan dapat digunakan sebagai suatu model untuk kualitas pelayanan.
Standar harus berdasarkan hasil penelitian konsep teori, dan dapat diterima oleh praktik klinik keperawatan saat ini. Standar harus secara cermat disusun dan diuji untuk menentukan kesesuaian dalam penggunaannya Contoh pemakaian standardapat dilihat pada Standar praktik Keperawatan yang disusun oleh ANA.
c. Pertanyaan Evaluatif
untuk menentukansuatu kriteria dan standar perlu digunakan pertanyaan evaluative(evaluative questions) sebagai dasar mengevaluasi kualitas asuhan keperawatan dan respons klien terhadapintervensi.
2. Mengumpukan data mengenai status kesehatan klien yang baru terjadi. Pada tahap ini kita perlu mempertimbangkan beberapa pertanyaan.
Siapa yang bertanggung jawab dalam pengumpulan data?
Kapan data tersebut diperoleh
Dan saran apa yang akan digunakan untuk memperoleh data?
Perawat professional yang pertama kali mengkaji data klien dan menyusun perencanaan adalah orang yang bertanggung jawab dalam mengevaluasi respon klien terhadap intervensi yang diberikan. Perawat lain yang membantu memberikan intervensi kepada klien harus berpartisipasi dalam proses evaluasi. Validitas informasi meningkat jika lebih dari satu orang yang ikut melakukan evaluasi.
3. Menganalisis dan membandingkan data terhadap kriteria dan standar. Perawat memerlukan keterampilan dalam berfikir kritis, kemampuan menyelesaikan masalah, dan kemampuan mengambil keputusan klinik.
Kemampuan ini diperlukan untuk menentukan kesesuaian dan pentingnya suatu data dengan cara membandingkan data evaluasi dengan kriteria serta standar dan menyesuaikan asuhan keperawatan yang diberikan dengan kriteria dan standar yang sudah ada. Pada tahap ini perawat dituntut untuk dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang mungkin dapat memengaruhi efektifitas asuhan keperawatan.
4. Merangkum hasil dan membuat kesimpulan. Pertama kali yang perlu dilaksanakan oleh perawat pada tahap ini adalah menyimpulkan efektivitas semua intervensi yang telah dilaksanakan. Kemudian menentukan kesimpulan pada setiap diagnosis yang telah dilakukan intervensi.
Yang perlu diingat disini adalah tidak mungkin membuat suatu perencanaan 100% berhasil oleh karena itu memerlukan suatu perbaikan dan perubahan-perubahan, sebaliknya tidak mungkin perencanaan yang telah disusun 100% gagal. Untuk itu diperlukan kejelian dalam menyusun perencanaan, intervensi yang tepat, dan menilai respon klien setelah diintervensi seobjektif mungkin.
5. Melaksanakan intervensi yang sesuai berdasarkan kesimpulan. Pada tahap ini perawat melakukan intervensi berdasarkan hasil kesimpulan yang sudah diperbaiki dari perencanaan ulang, tujuan, kriteria hasil, dan rencana asuhan keperawatan. Meskipun pengajian dilaksanakan secara rutin dan berkesinambungan, aspek-aspek khusus perlu dikaji ulang dan penambahan data untuk akurasi suatu asuhan keperawatan.
Jenis- jenis Evaluasi dalam asuhan
keperawatan antara lain :
1. Evaluasi formatif (proses)
adalah aktivitas dari proses keperawatan dan hasil kualitas pelayanan asuhan keperawatan. Evaluasi proses harus dilaksanakan segera setelah perencanaan keperawatan diimplementasikan untuk membantu menilai efektivitas intervensi tersebut. Evaluasi proses harus terus menerus dilaksanakan hingga tujuan yang
telah ditentukan tercapai. Metode pengumpulan data dalam evaluasi proses
terdiri atas analisis rencana asuhan
keperawatan, pertemuan kelompok,
wawancara, observasi klien, dan
menggunakan form evaluasi. Ditulis
pada catatan perawatan. Contoh:
membantu pasien duduk semifowler,
pasien dapat duduk selama 30 menit
tanpapusing.
2. Evaluasi Sumatif (hasil)
Rekapitulasi dan kesimpulan dari
observasi dan analisa status kesehatan
sesuai waktu pada tujuan. Ditulis pada
catatan perkembangan. Focus evaluasi
hasil (sumatif) adalah perubahan perilaku
atau status kesehatan klien pada akhir
asuhan keperawatan.Tipe evaluasi ini
dilaksanakan pada akhir asuhan
keperawatan secara paripurna.
Hasil dari evaluasi dalam asuhan
keperawatan adalah : Tujuan
tercapai/masalah teratasi: jika klien
menunjukkan perubahan sesuai dengan
standar yang telah ditetapkan. Tujuan
tercapai sebagian/masalah teratasi
sebagian: jika klien menunjukkan
perubahan sebagian dari standar dan
kriteria yang telah ditetapkan. Dan
Tujuan tidak tercapai/masalah tidak
teratasi: jika klien tidak menunjukkan
perubahan dan kemajuan sama sekali dan
bahkan timbul masalah baru.
Penentuan masalah teratasi, teratasi
sebagian, atau tidak teratasi adalah
dengan cara membandingkan antara
SOAP/SOAPIER dengan tujuan dan
kriteria hasil yang telah ditetapkan.
S (Subjective) : adalah informasi
berupa ungkapan
yang didapat dari
klien setelah
tindakan diberikan.
O (Objective) : adalah informasi yang
didapat berupa hasil
pengamatan,
penilaian,
pengukuran yang
dilakukan oleh
perawat setelah
tindakan dilakukan.
A (Analisis) : adalah
membandingkan
antara informasi
subjective dan
objective dengan
tujuan dan
kriteria hasil, kemudian diambil
kesimpulan bahwa
masalah teratasi,
teratasi sebahagian,
atau tidak teratasi.
P (Planning) : adalah rencana
keperawatan lanjutan
yang akan dilakukan
berdasarkan hasil
analisa.
Penutup
Evaluasi keperawatan adalah
kegiatan yang terus menerus dilakukan
untuk menentukan apakah rencana
keperawatan efektif dan bagaimana
rencana keperawatan dilanjutkan,
merevisi rencana atau menghentikan
rencana keperawatan. Komponen evaluasi
dapat dibagi menjadi 5 komponen, yaitu :
1. Menentukan kriteria, standar praktik,
dan pertanyaan evaluative. 2.
Mengumpukan data mengenai status
kesehatan klien yang baru terjadi. 3.
Menganalisis dan membandingkan data
terhadap kriteria dan standar.Perawat. 4.
Merangkum hasil dan membuat
kesimpulan. 5. Melaksanakan intervensi
yang sesuai berdasarkan kesimpulan.
Jenis- jenis Evaluasi dalam asuhan
keperawatan antara lain : Evaluasi
formatif (proses), dan Evaluasi Sumatif
(hasil).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar